Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
VINA SETIAWAN

Kenali Aktinomikosis Dari Penyebab, Gejala dan, Pengobatannya

Update terakhir: NOV 11, 2019 Tinjau pada NOV 11, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 1.235.666 orang

Pernahkah Anda mendengar tentang penyakit aktinomikosis? Mungkin kebanyakan dari Anda jarang atau belum pernah mendengar penyakit yang satu ini. Aktinomykosis adalah infeksi bakteri langka yang dapat membahayakan tulang atau otak jika tidak ditangani dengan baik. Bakteri ini biasanya mengolonisasi area mulut, saluran pencernaan, juga saluran kemih dan reproduksi manusia

Semua ras, jenis kelamin dan kelompok umur bisa terserang penyakit ini, tersering menyerang kelompok umur 15 hingga 35 tahun, rasio laki-laki dan perempuan kira kira 2:1.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Aktinomikosis cukup jarang terjadi pada manusia dan infeksinya bersifat lokal pada satu tempat di bagian tubuh. Gejala-gejala aktinomikosis pun cukup bervariasi tergantung jenis infeksi yang terjadi. Dari pada penasaran tentang penyakit yang satu ini. Yuk, simak pembahasan selanjutnya dibawah ini. Selamat membaca.

Apa sih penyakit aktinomikosis itu?

Actinomycosis adalah infeksi bakteri yang menyebabkan abses (akumulasi nanah) di rahang, perut, paru-paru, atau seluruh tubuh. Penyakit ini ditandai dengangt;pembengkakan pada area yang terinfeksi, disertai dengan keluarnya cairan nanah

Infeksi ini tergolong kasus yang jarang terjadi dan biasanya hanya bersifat lokal saja. Bisa juga terjadigt;sinusitis yang mengeluarkan discharge dan menembus ke permukaan. Didalam jaringan yang terinfeksi, organisme tumbuh bergerombol,  yang disebut sebagai “granula sulfur”.

Apa sih yang menyebabkan terjadinya penyakit aktinomikosis?

Aktinomikosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri spesies actinomyces, seperti A. bovis, A. israelii, A. viscosus, A. meyeri, A. odontolyticus. Aktinomikosis lebih sering ditemukan di daerah tropis. Di antara spesies tersebut, Actinomyces israelii merupakan bakteri yang paling sering ditemukan pada infeksi aktinomikosis pada manusia. 

Jenis bakteri lainnya, seperti Actinomyces viscous dan Actinomyces meyeri, juga dapat ditemukan pada aktinomikosis walaupun lebih jarang. Semua spesies adalah gram positif, tidak tahan asam dan bersifat anaerob (bakteri yang hidup tanpa oksigen).

Actinomyces merupakan bagian dari flora normal yang biasa hidup di rongga mulut, saluran pencernaan, dan saluran kemih. Untuk dapat menyebabkan penyakit pada manusia, diperlukan adanya kerusakan pada membran mukosa dan adanya jaringan tubuh yang lemah atau mati, sehingga bakteri dapat menyerang struktur tubuh bagian dalam.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Apa saja tanda dan gejala-gejala pada penyakit aktinomikosis?

 Tanda dan gejala- gejala bergantung pada bagian dari tubuh dan lokasi yang terkena aktinomikosis, yaitu:

  • Aktinomikosis orocervicofacial
  • Aktinomikosis torakal
  • Aktinomikosis abdominal
  • Aktinomikosis pelvis
  • Demam
  • Kesulitan mengunyah
  • Munculnya bengkak kronis di sekitar rahang bawah yang terkadang disertai nyeri
  • Terbentuk saluran nanah (sinus), yang mengeluarkan cairan nanah berwarna kuning seperti sulfur.
  • Perubahan warna kulit menjadi kemerahan atau kebiruan pada area yang terkena.
  • Batuk kering atau berdahak
  • Kesulitan bernafas
  • Nyeri dada
  • Terkadang keluar dahak yang disertai darah atau batuk darah.
  • Cepat merasa lelah
  • Demam
  • Terdapat cairan pada paru-paru yang terkadang diikuti dengan munculnya benjolan pada daerah paru-paru.
  • Demam
  • Penurunan berat badan
  • Badan terasa lemah atau cepat lelah
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Diare atau konstipasi
  • Munculnya benjolan atau pembengkakan pada perut bagian bawah
  • Demam
  • Nyeri perut bagian bawah
  • Pendarahan dari vagina atau keluarnya cairan dari vagina
  • Munculnya benjolan yang dapat terasa di daerah pinggang atau pinggul

Aktinomikosis dapat menyebabkan kematian terutama jika infeksi Actinomyces menyebar hingga sistem saraf pusat seperti otak dan sumsum tulang belakang. Tingkat kematian akibat aktinomikosis dapat mencapai 28 persen, namun angka tersebut bergantung terhadap lokasi awal terjadinya aktinomikosis. Bilang penderita cepat mendapatkan penanganan dan pengobatan dengan baik, maka penyakit ini dapat disembuhkan.

Apa saja faktor risiko terjadinya penyakit aktinomikosis?

Berikut beberapa faktor risiko yang dapat memicu peningkatan kemungkinan terjadinya penyakit aktinomikosis, yaitu:

  • Sistem imun lemah karena penyakit tertentu atau efek dari pengobatan
  • Usia. Aktinomikosis paling banyak terjadi pada usia 15- 35 tahun
  • Jenis kelamin pria, terkecuali aktinomikosis pelvis yang cenderung terjadi pada wanita
  • Adanya riwayat  penyakit gigi atau operasi gigi
  • Riwayat operasi bagian perut
  • Diabetes
  • Aspirasi cairan atau partikel padat ke paru-paru

Diagnosis penyakit aktinomikosis

Untuk mendiagnosis penyakit aktinomikosis, pemeriksaan penunjang berikut perlu dilakukan:

  • Pemeriksaan darah. Aktinomikosis dapat menyebabkan terjadinya peningkatan laju endap darah, enzim alkalin fosfatase, protein C reaktif (CRP, anemia dan leukositosis ringan.
  • CT scan, MRI, Rontgen dada. Hasil CT scan dan MRI dapat menunjukkan adanya abses nonspesifik pada bagian yang diduga mengalami aktinomikosis. Dari foto Rontgen dada dapat diketahui adanya pneumonitis, benjolan maupun lesi lain pada rongga dada, khususnya pada aktinomikosis torakal.
  • Histopatologi. Sampel jaringan dapat diperoleh dari cairan nanah yang kemudian diamati untuk melihat penampakan jaringan.
  • Analisis Genetika Molekuler.  Metode yang dapat dilakukan antara lain adalah PCR, sekuensing RNA bakteri, hibridisasi spektrofotometri in situ, dan spektrometri massa.

Bagaimana cara mengobati penderita aktinomikosis?

Bakteri Actinomyces umumnya sensitif terhadap penisilin, yang sering digunakan untuk mengobati aktinomikosis. Dalam kasus alergi penisilin, pemilihan dengan doksisiklin  dapat digunakan. Respon terhadap terapi atau pengobatan lambat dan mungkin memakan waktu berbulan-bulan. 

Selain menggunakan penicillin, aktinomikosis juga dapat diobati dengan menggunakan antibiotik lainnya, seperti, Benzylpenicillin, Amoxicillin, Ceftriaxone, Meropenem, Piperacillin dan tazobactam, Clindamycin, Erythromycin dan Clarithromycin. 

Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami tanda dan gejala-gejala seperti yang telah disebutkan diatas. Hindari semua faktor risiko yang dapat memicu munculnya penyakit aktinomikosis khususnya dengan menjaga dan merawat kesehatan mulut dan gigi agar dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi. Semoga bermanfaat.


Referensi

Hartley, M. DermNet (2010). Actinomycosis.

Henderson, R. Patient (2016). Actinomycosis.

Kononen, E. Wade, WG. (2015). Actinomyces and Related Organisms in Human Infections. Clinical Microbiology Review, 28(2), pp. 419-442.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Pencarian yang sering mengarah ke halaman ini
actinomycosis adalah aktinomikosis