5 Jenis Terapi yang Bermanfaat Bagi Orang Berkebutuhan Khusus

Seorang terapis dapat membantu seseorang yang mengalami disabilitas dengan mengelola tekanan, memediasi hubungan mereka dengan lingkungan, dan membantu mereka untuk dapat menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhan mereka. Berikut di bawah ini adalah 5 jenis terapi yang mungkin bermanfaat bagi orang berkebutuhan khusus.
Dipublish tanggal: Agu 9, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
5 Jenis Terapi yang Bermanfaat Bagi Orang Berkebutuhan Khusus

Kecacatan dan penyakit kronis dapat menjadi penghalang signifikan dalam menjalankan fungsi hidup sehari-hari. 

Bagi kebanyakan penyandang cacat, tantangan terbesar untuk hidup dengan disabilitas bukanlah pada disabilitas itu sendiri, tetapi cara masyarakat memperlakukan para disabilitas. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Seseorang dengan disabilitas harus menyesuaikan diri dimana saja, termasuk ruang kelas, tempat kerja, dan hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari. 

Banyak aktivis disabilitas mendefinisikan disabilitas bukan sebagai defisit atau suatu penyakit tertentu. Sebaliknya, para aktivis mengartikan kecacatan adalah sikap dari masyarakat itu sendiri.

Beberapa contoh penyakit yang dapat digolongkan sebagai disabilitas meliputi:

Seseorang yang hidup dengan kecacatan, baik dari segi kesehatan mental dan fisik dapat mendapatkan bantuan dengan menjalani terapi. 

Seorang terapis dapat membantu seseorang yang mengalami disabilitas dengan mengelola tekanan, memediasi hubungan mereka dengan lingkungan, dan membantu mereka untuk dapat menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhan mereka. 

Berikut di bawah ini adalah 5 jenis terapi yang mungkin bermanfaat bagi orang berkebutuhan khusus.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

1. Applied behavior analysis (ABA) analisis perilaku terapi

Applied behavior analysis (ABA) adalah salah satu perawatan autisme yang paling banyak digunakan pada orang dewasa dan anak-anak. 

Terapi ini mengacu pada serangkaian teknik yang dirancang untuk mendorong perilaku positif menggunakan sistem penghargaan.

Ada beberapa jenis ABA, yaitu:

  • Pelatihan uji coba diskrit. Teknik ini menggunakan serangkaian uji coba untuk mendorong pembelajaran langkah demi langkah. Perilaku dan jawaban yang benar dihargai, dan kesalahan diabaikan.
  • Early intensive behavioral intervention. Anak-anak yang umumnya berusia di bawah lima tahun, menjalani sesi satu lawan satu dengan terapis atau dalam kelompok kecil. Biasanya dilakukan selama beberapa tahun untuk membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi dan mengurangi perilaku bermasalah, termasuk agresi atau melukai diri sendiri.
  • Pivotal response training. Adalah strategi yang digunakan dalam lingkungan sehari-hari seseorang yang mengajarkan keterampilan yang sangat penting, seperti motivasi untuk belajar atau memulai komunikasi.
  • Intervensi perilaku verbal. Seorang terapis bekerja dengan seseorang untuk membantu mereka memahami mengapa dan bagaimana manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan mendapatkan hal-hal yang mereka butuhkan.
  • Dukungan perilaku positif. Terapi ini melibatkan perubahan lingkungan seperti rumah atau ruang kelas agar perilaku yang baik terasa lebih bermanfaat.

2. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah jenis terapi bicara yang dapat menjadi pengobatan autisme yang efektif untuk anak-anak dan orang dewasa. 

Selama sesi CBT, seseorang perlu mempelajari mengenai hubungan antara perasaan, pikiran, dan perilaku. Terapi ini dapat membantu mengidentifikasi pikiran dan perasaan yang memicu perilaku negatif.

Sebuah review menunjukkan bahwa CBT sangat bermanfaat dalam membantu orang dengan autisme mengelola kecemasan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Terapi ini juga dapat membantu mereka mengenali emosi orang lain dengan lebih baik dan mengatasi situasi sosial dengan lebih baik.

3. Terapi fisik

Jika ada keterbatasan untuk bergerak atau mengkoordinasikan anggota tubuh, berarti Anda membutuhkan terapi fisik. 

Terapi fisik atau fisioterapi mengutamakan peningkatan kemampuan motorik, keseimbangan motorik, koordinasi, kekuatan, dan ketahanan tubuh.

Keterampilan motorik yang dilatih ada dua jenis.

  • Keterampilan motorik kasar mencakup aktivitas yang menggunakan otot besar tubuh seperti merangkak, berjalan, berlari, atau melompat.
  • Keterampilan motorik halus menggunakan otot yang lebih kecil seperti kemampuan memegang sendok atau meraih barang-barang.

Fisioterapis akan mengevaluasi fungsi otot, sendi, pergerakan, kekuatan, otot, daya tahan, kemampuan motorik lainnya secara berkala dari terapi fisik ini.

Terapi fisik dibutuhkan bagi anak yang mengalami keterlambatan perkembangan, cerebral palsy, gangguan genetik, kecacatan ortopedi, kecacatan sejak lahir (contoh spina bifida), mengalami kelainan otot atau masalah koordinasi otot.

4. Terapi okupasi

Terapi okupasi (OT) adalah bidang perawatan kesehatan yang berfokus pada mengajar anak-anak dan orang dewasa keterampilan dasar yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Untuk anak-anak, terapi okupasi dilakukan dengan mengajarkan keterampilan motorik halus, keterampilan menulis, dan keterampilan perawatan diri.

Untuk orang dewasa, terapi okupasi berfokus pada pengembangan keterampilan hidup mandiri, seperti memasak, menjaga kebersihan, dan menangani uang.

5. Terapi berbicara

Terapi wicara mengajarkan keterampilan verbal yang dapat membantu orang autis berkomunikasi dengan lebih baik. Biasanya dilakukan dengan ahli patologi wicara-bahasa atau terapis okupasi.

Terapi bicara dapat membantu anak-anak meningkatkan kecepatan dan irama berbicara mereka, selain menggunakan kata-kata dengan benar. 

Terapi berbicara juga dapat membantu orang dewasa meningkatkan cara mereka berkomunikasi mengenai pikiran dan perasaan.

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Taylor, R.R.. (2006). Cognitive behavioral therapy for chronic illness and disability. Cognitive Behavioral Therapy for Chronic Illness and Disability. 1-378. 10.1007/0-387-25310-6. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/286390665_Cognitive_behavioral_therapy_for_chronic_illness_and_disability)
Application of well-being therapy to people with disability and chronic illness . National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26881305)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app