Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR SCIENTIA INU KIRANA

Diabetes Melitus

Update terakhir: SEP 18, 2019 Tinjau pada SEP 18, 2019 Waktu baca: 9 menit
Telah dibaca 788.781 orang

Diabetes melitus adalah suatu penyakit saat kadar gula darah seseorang berada di atas kadar normal. Penyakit ini di Indonesia lebih dikenal sebagai penyakit kencing manis.

Yang dimaksud kadar gula darah adalah kadar glukosa dalam darah tanpa memperhitungkan kadar jenis gula lain seperti fruktosa, sukrosa, maltosa dan laktosa. Hal tersebut karena glukosa merupakan senyawa karbohidrat sederhana yang paling besar digunakan oleh sel untuk memproduksi energi.

Kadar glukosa di dalam darah dikendalikan oleh insulin, suatu hormon yang dibuat oleh pankreas. Insulin akan memerintahkan sel untuk mengambil glukosa dari darah, dan menggunakannya sebagai sumber energi. Glukosa yang tersisa akan disimpan dalam bentuk glikogen dan akan dipecah kembali menjadi glukosa saat gula darah mencapai kadar yang rendah.

Kerusakan pankreas menyebabkan  produksi insulin berkurang sehingga proses pemecahan glukosa menjadi energi terganggu. Akibatnya kadar glukosa darah akan meningkat. Kondisi inilah yang disebut diabetes melitus atau penyakit kencing manis.

Selain kerusakan pankreas, kelainan metabolisme seperti gangguan sekresi insulin, dan terjadinya resistensi sel terhadap insulin juga bisa menjadi penyebab penyakit ini.

Jenis-jenis diabetes melitus

Penyakit ini digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu diabetes melitus tipe 1, diabetes melitus tipe 2 dan diabetes gestasional. Masing-masing jenis diabetes mempunyai penyebab yang berbeda dan ditunjukan dengan gejala yang berbeda pula.

A. Diabetes melitus tipe 1

Diabetes melitus tipe 1 adalah jenis diabetes yang tergantung insulin sehingga disebut insulin dependent diabetes melitus (IDDM). Tipe ini terjadi karena berkurangnya kadar insulin di dalam darah akibat kerusakan sel beta pankreas. Kerusakan sel-sel beta menyebabkan gangguan produksi insulin sehingga kadarnya sedikit atau bahkan tidak terbentuk. Penyakit ini bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, tetapi umumnya lebih sering terjadi sejak lahir atau muncul saat  remaja.

Sampai saat ini belum diketahui cara untuk menyembuhkan penyakit ini, termasuk dengan pengaturan pola makan dan olahraga. Pemberian suntikan insulin secara mandiri merupakan salah satu pilihan untuk pasien DM tipe 1.

Kondisi penderita penyakit ini biasanya baik, termasuk respon terhadap insulin normal terutama pada tahap-tahap awal.

B. Diabetes melitus tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 adalah jenis diabetes yang tidak tergantung insulin (non dependent diabetes melitus). Diabetes tipe ini tidak disebabkan oleh rasio insulin dalam darah tetapi karena kelainan sistem metabolisme yang disebabkan oleh mutasi genetik didukung oleh faktor gaya hidup. Hal ini menyebabkan disfungsi sel beta sehingga terjadi  resistensi  insulin yang menyebabkan gangguan metabolism glukosa. Diabetes ini merupakan diabetes paling banyak yang diderita di dunia.

C. Diabetes gestasional

Diabetes gestasional (GDM) adalah jenis diabetes yang terjadi hanya pada saat hamil dan akan sembuh setelah melahirkan. Meskipun terjadi hanya sementara, jika tidak ditangani dengan baik bisa membahayakan kesehatan ibu dan janinnya. Pada ibu dengan diabetes gestational dapat berkembang menjadi DM tipe 2 pada kemudian hari. Bayi pasien GDM biasanya memiliki ukuran tubuh yang besar yang mengganggu proses persalinan.

Gejala diabetes melitus

Beberapa gejala yang umum terjadi adalah sering merasa lelah, sering merasa lapar dan haus, frekuensi buang air kecil meningkat terutama di malam hari, pandangan kabur, luka yang lama sembuh, berat badan menurun secara drastis, dan tekanan darah yang tinggi.

Jika anda mengalami beberapa gejala di atas, sebaiknya anda memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis apakah anda menderita diabetes melitus atau tidak.

Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan tes darah dan urin.

Pemeriksaan baku emas yaitu dengan mengukur kadar gula darah pada serum darah dengan membandingkan kadar gula darah puasa, dua jam setelah makan . Sampel darah akan diambil dua kali, pertama pada pagi hari setelah berpuasa selama minimal 7 jam. Setelah itu anda akan diminta meminum segelas minuman dengan kadar gula yang sudah ditetapkan. Dua jam setelahnya, sampel darah yang kedua akan diambil untuk mengevaluasi aktivitas insulin dalam tubuh.

  • Kadar gula darah normal adalah 80-100 mg/dl (saat puasa) dan gula darah post prandial kurang dari 140 mg/dl (2 jam setelah makan).
  • Jika hasil pemeriksaan kadar gula darah berada pada kisaran 100-125 mg/dl (saat puasa) dan 140-199 mg/dl (2 jam setelah makan), maka anda dikatakan menderita gangguan toleransi glukosa atau prediabetes. Pada tahap ini tindakan yang tepat harus dilakukan. Pola hidup sehat seperti mengatur pola makan dan berolah raga sangat dianjurkan. Obat-obatan penurun kadar gula juga akan diresepkan oleh dokter anda.
  • Jika kadar gula darah ≥ 126 mg/dl (saat puasa) dan ≥ 200 mg/dl (2 jam setelah makan), anda didiagnosis menderita diabetes melitus. Pengobatan harus segera dilakukan untuk mengontrol kadar gula anda ke level normal.

Glukosa tidak terdapat pada urin normal, tetapi jika anda menderita diabetes melitus, glukosa akan menumpuk di ginjal dan keluar bersama urin. Kandungan senyawa keton dalam urin juga akan diperiksa. Senyawa ini mengindikasikan anda menderita diabetes melitus tipe 1.

Penyebab diabetes melitus dan faktor risikonya

A. Penyebab diabetes melitus tipe 1

Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga tidak mampu memproduksi insulin. Hal ini menyebabkan pemecahan glukosa menjadi energi terganggu, sehingga kadar glukosa darah akan meningkat. Tidak adanya insulin juga menyebabkan sel mencari sumber energi lain, yaitu lemak dan otot. Akibatnya terjadi penurunan berat badan penderita. Hal ini juga mengakibatkan ketoasidosis diabetik, suatu kondisi dimana darah menjadi sangat asam serta terjadi dehidrasi yang membahayakan.

Kerusakan pankreas terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang bertugas melawan zat-zat asing telah keliru mengira pankreas sebagai zat asing dan membahayakan tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh akan menyerang sel- sel pankreas. Inilah sebabnya diabetes melitus tipe 1 disebut sebagai kondisi autoimun.

Belum diketahui apa yang menjadi pemicu terjadinya kekeliruan sistem kekebalan tubuh sehingga menyerang sel-sel pankreas. Namun beberapa penelitian menduga hal ini disebabkan faktor keturunan atau infeksi virus.

Seseorang yang memiliki sejarah keluarga penderita diabetes melitus tipe 1, terutama ayah, ibu atau saudara kandung memiliki resiko lebih tinggi mengidap penyakit ini. Faktor resiko lain yang memperparah kondisi penderita adalah kehamilan. Oleh karena itu para wanita yang memiliki faktor resiko, sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar gula darahnya.

B. Penyebab diabetes melitus tipe 2

Penyakit ini disebabkan oleh kelainan sistem metabolisme karena mutasi gen yang mengekspresikan disfungsi sel beta, gangguan sekresi hormon insulin dan resistensi sel terhadap insulin.

Riwayat keluarga penderita diabetes, gaya hidup tidak sehat, usia tua, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, genetik serta ras atau etnis tertentu adalah faktor resiko terjadinya diabetes melitus tipe 2. Wanita yang pernah menderita penyakit diabetes gestasional mempunyai resiko tiga kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak pernah menderita penyakit itu.

Komplikasi

Diabetes melitus yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan berbagai komplikasi. Berikut adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat diabetes :

1. retinopati

kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan;pembuluh darah pada retina tersumbat, bocor atau muncul pembuluh-pembuluh darah baru sehingga menghalangi cahaya sampai ke retina. Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki faktor risiko tinggi menderita penyakit ini disarankan untuk memeriksakan mata secara rutin. Hal ini dilakukan agar resiko terkena retinopati diabetik dapat terdeteksi secara dini, sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

2. Kerusakan syaraf (neuropati)

Selain menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, bisa juga terjadi kerusakan sel-sel saraf.  Kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan selubung syaraf. Gejalanya bisa berupa kesemutan atau terasa seperti terbakar ada ujung jari-jari tangan atau kaki. Jika dibiarkan akan menyebar ke bagian tubuh yang lain.

3. Penyakit jantung dan stroke

Penderita penyakit ini memiliki resiko tinggi mengalami gangguan pada organ jantung dan otak. Resiko yang mungkin terjadi pada kesehatan jantung misalnya angina, yang terjadi karena aliran darah ke jantung terhambat. stroke juga bisa terjadi, karena aliran darah ke otak juga terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah ke otak.

4. Penyakit ginjal

Sama seperti organ lainnya, kadar gula darah yang tinggi dapat merusak proses penyaringan di  organ ginjal . Apabila tidak diwaspadai dan ditangani secara serius bisa menyebabkan gagal ginjal.

5. Disfungsi seksual

Kerusakan pembuluh darah dan syaraf akibat penyakit ini beresiko menyebabkan difungsi seksual, misalnya impotensi. Pada wanita, kerusakan saraf akan menurunkan tingkat kepuasan hubungan intim.

6. Risiko pada wanita hamil dan bayi

Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes melitus bisa membahayakan kesehatan ibu dan janinnya. Berat bayi diatas normal, penyakit jantung bawaan, kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka adalah beberapa bahaya yang bisa dialami bayi jika penanganan penyakit ini tidak dilakukan dengan baik. Sindrom gangguan pernafasan, hyperbilirubinemia, bahkan kematian bayi dalam kandungan juga bisa terjadi.

7. Luka yang terinfeksi atau ulkus diabetikum

Pengobatan diabetes melitus

A. Pengobatan diabetes melitus tipe 1

Untuk saat ini, satu-satunya cara pengobatan diabetes melitus tipe 1 adalah dengan menggunakan insulin. Terdapat beberapa jenis insulin, yaitu : insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari, insulin kerja singkat yang bekerja 30-60 menit dan bertahan maksimal delapan jam, dan insulin kerja cepat bekerja 5-15menit dan dipertahankan hingga 4-6 jam. Biasanya jenis-jenis insulin itu digunakan secara kombinasi.

Insulin diberikan dengan cara injeksi (suntikan). Untuk menyuntikkan insulin, terdapat dua cara, pertama dengan menggunakan jarum dan alat suntik atau pena. Kedua, dengan menggunakan pompa insulin. Dokter dan perawat anda akan membantu dan mengajari anda untuk menggunakan alat-alat ini dengan baik, sehingga nantinya anda bisa melakukan pengobatan secara mandiri.

Dibandingkan alat suntik jarum, pompa insulin sangat mudah digunakan, namun harganya relatif mahal. Alat ini biasanya lebih diutamakan untuk penderita yang sering mengalami hipoglikemia, suatu kondisi dimana kadar gula darah turun terlalu rendah.

Alternatif lain pengobatan diabetes melitus tipe 1 adalah transplantasi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (sel islet). Namun karena resikonya yang tinggi, banyak penderita diabetes tidak menempuh cara ini.

B. Pengobatan diabetes melitus tipe 2

Terdapat beberapa macam obat yang bisa digunakan dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2. Obat-obat ini bisa diberikan secara tunggal maupun kombinasi dari dua atau lebih obat.

1. Metformin

Metformin adalah obat lini pertama untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2. Metformin bekerja dengan cara menekan produksi glukosa oleh hati dan membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin.

Kelebihan metformin dibanding jenis obat lain adalah, obat ini tidak menyebabkan kenaikan berat badan sehingga cocok diberikan untuk penderita yang mengalami kelebihan berat badan.

Pengobatan dengan metformin kadang-kadang mengakibatkan efek samping ringan seperti mual, muntah dan diare. Obat ini juga dikontraindikasikan untuk penderita yang juga mengalami masalah ginjal.

2. Sulfonilurea

Jika metformin tidak efektif menurunkan kadar gula darah penderita, obat-obat jenis sulfonilurea biasanya digunakan. Sulfonilurea bermanfaat untuk meningkatkan produksi insulin dalam pankreas. Obat-obat jenis ini bisa diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan metformin. Beberapa jenis obat sulfonilurea diantaranya, glimepiride, glibenclamide, glipizide, gliclazide, dan gliquidone. Obat-obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter, karena jika tidak digunakan dengan benar dapat meningkatkan resiko terjadinya hipoglikemia terutama pada lansia.

3. Pioglitazone (thiazolidindione)

Pioglitazone bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh penderita terhadap insulin. Peningkatan sensitivitas insulin ini mengakibatkan gula yang diubah menjadi energi lebih banyak. Dengan demikian kadar gula dalam darah menjadi menurun. Obat ini biasanya digunakan dalam kombinasi dengan metformin, obat-obat golongan sulfonilurea, atau keduanya.

Di beberapa negara, penggunaan obat ini mulai ditinggalkan karena diketahui meningkatkan resiko penyakit jantung.

 

 

 

 

 

 

4. Gliptin (dipeptidyl peptidase-4 inhibitor)

Gliptin atau penghambat DPP-IV(misalnya, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin, dan vildagliptin) menghambat pemecahan hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1), hormon yang terkait dalam produksi insulin. Dengan menghambat pemecahan hormon GLP-1, gliptin bermanfaat meningkatkan sekresi insulin, menghambat sekresi glucagon.

Obat ini biasanya diberikan untuk penderita yang tidak bisa menggunakan metformin atau sulfonilurea, atau dikombinasikan dengan kedua obat-obat tersebut.

5. Agonis GLP-1

Agonis GLP-1 (misalnya, Exenatide dan liraglutide) adalah obat yang bekerja dengan mekanisme mirip hormon GLP-1 alami. Kedua obat ini banyak digunakan untuk mengobati penderita yang menggunakan metformin atau sulfonilurea dan mengalami obesitas.

6. Acarbose untuk memperlambat pencernaan karbohidrat

Acarbose digunakan untuk penderita yang tidak cocok dengan obat-obat lain. Acarbose bekerja dengan cara memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula dalam tubuh. Dengan demikian, mencegah peningkatan kadar gula darah.

7. Nateglinide dan repaglinide

Obat-obat ini bekerja dengan cara merangsang pankreas melepaskan lebih banyak insulin ke dalam darah. Dengan demikian glukosa yang diubah menjadi energi akan lebih banyak sehingga kadar gula tidak akan meningkat.

8. Terapi Insulin

Penderita yang menggunakan obat-obatan yang diberikan secara oral, kadang-kadang membutuhkan terapi tambahan berupa suntikan insulin. Jenis dan cara pemakaian suntikan insulin untuk penderita diabetes melitus tipe 2 sama dengan yang digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 1 yang sudah dijelaskan di atas.

Penyakit diabetes melitus adalah suatu penyakit yang harus mendapatkan penanganan serius. Penanganan yang tepat sejak tanda-tanda awal muncul, akan mencegah penyakit ini semakin memburuk dan menimbulkan komplikasi.

 

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Dok mau tanyak..pepesan apa ya yg buat nyembuhin luka di karnakan diabetes
Pertanyaan ini telah dijawab oleh seorang ahli medis

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit