Kenapa Emosi dan Perilaku Seseorang Bisa Berubah Setelah Stroke?

Dipublish tanggal: Jun 28, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Sep 25, 2019 Waktu baca: 3 menit
Kenapa Emosi dan Perilaku Seseorang Bisa Berubah Setelah Stroke?

Apakah Anda memiliki kerabat atau keluarga yang sedang mengalami stroke? Jika iya, bagaimanakah perubahan emosi dan perilakunya? Perlu diketahui bahwa merupakan hal yang wajar ketika seorang penderita stroke mengalami perubahan dalam hal perilaku dan emosi. 

Ada yang menunjukkan perubahan positif, namun sebagian besarnya lebih mengarah pada perilaku negatif. Misalnya jadi tidak sabaran, murah marah, cemas, kecewa, hingga depresi. Bila hal ini tidak disikapi dengan baik, perubahan peirlaku tersebut bisa membuat pihak keluarga dan orang-orang di sekitarnya menjadi tidak nyaman.

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Sebetulnya, ini hanya karena pasien stroke tidak tahu bagaimana cara untuk meluapkan perasaan sehingga salah satu pelampiasannya hanyalah menyerang orang-orang di sekitarnya, baik secara lisan maupun verbal. Lalu, bagaimana cara menghadapi perubahan emosi dan perilaku setelah stroke?

Berikan dukungan pada penderita stroke

Siapa pun yang terkena stroke pasti akan mengalami gejolak perasaan saat menerima keadaannya. Ada rasa syok, sedih, marah, menolak, hingga merasa depresi dengan perubahan ini.

Maka tak heran jika gejolak emosinya ini membuat perilaku pasien ikut berubah. Misalnya, pasien jadi lebih agresif dengan sering berteriak, memukul, atau berperilaku kasar.

Memang tidak mudah untuk menghadapi pasien stroke yang kondisi emosi dan perilakukan tidak stabil. Akan tetapi, Anda sebagai anggota keluarga sebaiknya mengalah dan berusaha memberikan dukungan.

Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi pasien stroke, antara lain:

1. Pahami perilaku negatif pasien tidak benar-benar ditujukan pada orang sekitar

Seorang penderita stroke pasti merasa kecewa dan depresi dengan kondisinya yang sekarang. Penderita stroke juga pasti kehilangan daya kontrol emosinya. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Maka, sebagai anggota keluarga, sebaiknya berikanlah sedikit waktu baginya untuk dapat meredakan emosinya. Ingatlah bahwa sesungguhnya pasien tidak benar-benar berniat untuk melukai hati Anda dengan perubahan emosi dan perilakunya.

Sebab kembali lagi, hal tersebut dipengaruhi oleh seberapa besar penerimaan pasien terhadap kondisinya saat ini. Jadi, berusahalah untuk tetap bersabar dan dengarkan curahan hati pasien untuk membantunya lebih tenang.

Baca Juga: Mengatasi Depresi Setelah Stroke

2. Berikan afirmasi positif

Jangan lantas marah apabila penderita stroke berperilaku buruk atau bersikap seenaknya saja terhadap Anda. Sebaliknya, tetaplah berlaku positif karena pada dasarnya dengan berperilaku demikian, dapat membuat penderita lebih tenang dan merasa lebih baik.

Jangan lupa berikan afirmasi positif untuk membuat pasien lebih nyaman. Berikan semangat agar pasien tetap kuat menghadapi kondisinya.

3. Alihkan perhatian pasien dengan hal favoritnya

Ketika penderita stroke di keluarga Anda merasa marah terus-menerus, coba alihkan perhatiannya dengan aktivitas lain yang lebih menenangkan. Misalnya, menonton acara televisi favorit atau mendengarkan musik relaksasi. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Ketika sudah tenang, cobalah untuk bertanya hal apa yang membuatnya menjadi marah secara baik-baik. Terus dengarkan saja ungkapan hatinya dan hindari menyalahkan perubahan emosi atau perilaku pasien.

Apakah emosi dan perilaku penderita stroke dapat kembali seperti semula?

Memang, pada awalnya seorang penderita stroke akan merasa kesal, marah, dan tidak menerima apa yang telah dialaminya. Namun, seiringnya dengan waktu berjalan, penderita akan mampu menerima dan terbiasa dengan kondisi dirinya saat ini. Dengan kata lain, emosi dan perilakunya akan berangsur-angsur membaik. 

Tentunya, membaiknya emosi tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga. Maka, penting untuk mendukung moral serta keyakinan penderita bahwa dirinya akan pulih seperti sedia kala.

Bagaimana cara mengobati stroke?

Upaya pengobatan stroke tergantung dari jenis stroke dan seberapa luas penyebarannya pada tubuh. Namun, untuk penyembuhan total, biasanya akan memerlukan waktu lebih lama lagi.

Baca Juga: Setelah Terserang Stroke, Kapan Proses Pemulihannya Mulai Bisa Dilakukan?

Tak perlu khawatir dengan perubahan emosi dan perilaku setelah stroke. Kabar baiknya, masalah ini dapat diatasi dengan terapi atau pengobatan. 

Biasanya, dokter akan terlebih dulu mengarahkan pasien untuk berkonsultasi pada psikolog sehingga dapat mengetahui penyebab perubahan emosinya. Setelah itu, ada beberapa perawatan yang umum disarankan untuk pasien stroke, antara lain:

1. Terapi CBT

Salah satu terapi yang dapat pasien coba adalah Cognitive Behavioural Therapy atau terapi CBT. Terapi ini memiliki prinsip dasar bagi pasien untuk berpikir dalam situasi tertentu sehingga dapat mengontrol bagaimana untuk berperilaku dan mengendalikan emosinya. 

Namun, penekanan pada bagian aspek kognitif serta perilaku terapi dapat bervariasi tergantung kondisi yang dialami pasien.

2. Obat antidepresan

Perawatan lain yang dapat dicoba adalah mengonsumsi obat antidepresan. Cara ini memang tidak menyembuhkan masalah emosional. Namun, setidaknya dapat membantu meringankan gejala stroke dan membuat pasien dapat hidup lebih tenang. 

Tidak semua obat antidepresan cocok bagi semua pasien. Jadi, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu sebelum minum obat antidepresan.

Baca Selengkapnya: Obat untuk Mengobati Stroke Ringan Hingga Berat

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Annoni, Jean-Marie & Staub, Fabienne & Bruggimann, Laure & Gramigna, Sandrine & Bogousslavsky, Julien. (2006). Emotional Disturbances after Stroke. Clinical and experimental hypertension (New York, N.Y. : 1993). 28. 243-9. 10.1080/10641960600549173. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/6952697_Emotional_Disturbances_after_Stroke)
0. Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry (JNNP). (https://jnnp.bmj.com/content/75/12/1708)
Emotions, behaviours and mood changes in stroke. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11796952)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app