MELIANTY FEBRIANI
Ditulis oleh
MELIANTY FEBRIANI
DR. SCIENTIA INUKIRANA
Ditinjau oleh
DR. SCIENTIA INUKIRANA

Neuroinflammation - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Mar 16, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Tinjau pada Apr 22, 2019 Waktu baca: 4 menit

Kali ini kita akan mempelajari tema yang cukup asing yaitu neuroinflammation. Apakah neuroinflammation ini? Apa sajakah yang dapat menyebabkannya dan bagaimanakah proses terjadinya? Mari kita telaah bersama melalui artikel singkat ini.

Apa itu Neuroinflammation?

Neuroinflammation adalah peradangan pada jaringan saraf terutama susunan syaraf pusat.  Hal ini dapat terjadi sebagai akibat berbagai kondisi seperti infeksi, cedera, bahan toksik ataupun gangguan autoimun. 

Pada sistem saraf pusat (SSP) yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang,. mikroglia merupakan sel salah satu jenis sel glia yang berperan dalam imunitas pada sel syaraf pusat.

Pada dasarnya SSP merupakan sistem yang terisolir, di mana sel-sel kekebalan tubuh yang ada di dalam darah tidak dapat menembus Blood Brain Barrier (sawar darah otak) . Sawar darah otak membentuk anyaman pembuluh darah yang unik yang sulit ditembus berbagai gangguan seperti infeksi, toksik, autoimun .

Dalam keadaan di mana sawar darah otak ini dapat ditembus, sel-sel kekebalan tubuh dari darah dapat bertemu dengan sel-sel saraf  dan merangsang terjadinya reaksi kekebalan tubuh. 

Peradangan yang berlangsung dalam waktu lama akan semakin membuat sawar darah otak rapuh dan berujung pada menetapnya dan meluasnya perdangan tersebut. 

Walaupun respons ini dimaksudkan untuk melindungi SSP tetapi dalam jangka panjang dan ketika perdanganannya meluas, hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan susunan tulang belakang.

Penyebab Neuroinflammation

Neuroinflammation umumnya dipandang lebih sebagai kondisi baik bersifat akut maupun kronis dari peradangan system syaraf pusat.

Hal ini ditandai oleh terjadinya pembengkakan pada jaringan SSP, pelepasan berbagai molekul peradangan, aktivasi sel endotel (sel pembuluh darah) dan aktivasi platelet (keping darah).

Pada peradangan kronis SSP umumnya dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif. Beberapa penyebab peradangan kronis pada SSP antara lain adalah sebagai berikut.

Penuaan

Penuaan sering dikaitkan dengan penurunan ingatan dan juga kemampuan berpikir serta memudahkan terjadinya penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer’s

Pada otak yang menua, walaupun tidak ditemukan tanda penyakit, terdapat ketidakseimbangan antara zat-zat anti radang dan zat-zat yang merangsang terjadinya peradangan. Selain itu, terjadi pula peningkatan jumlah sel-sel glia yang teraktivasi. Hal ini dapat berujung pada hambatan pembentukan ingatan.

Cedera Otak

Cedera otak merupakan cedera pada otak yang biasanya disebabkan oleh trauma dengan gaya besar pada kepala. Pada saat terjadinya cedera otak, pada saat bersamaan tubuh kita berusaha memperbaiki kerusakan yang terjadi sementara proses kerusakan tetap berlangsung.  Hal ini berujung pada kondisi peradangan. 

Beberapa menit setelah cedera terjadi, pelepasan zat-zat peradangan sudah terjadi dan hal ini dapat menyebabkan kerapuhan pada sawar darah otak dan masuknya sel-sel kekebalan tubuh dalam darah ke dalam SSP.

Cedera Sumsum Tulang Belakang 

 Cedera sumsum tulang belakang dapat dibagi menjadi 3 fase. Fase primer atau akut berlangsung beberapa detik sampai beberapa menit setelah terjadinya cedera.  Fase sekunder berlangsung beberapa menit hingga beberapa minggu setelah terjadinya cedera dan fase kronis berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah cedera asal. 

 Fase primer umumnya terjadi akibat terputusnya atau tertekannya sumsum tulang belakang. Kematian sel di lokasi cedera ini akan berujung pada proses peradangan.  Hal ini berlanjut ke fase sekunder yang gejalanya antara lain adalah pembengkakan, timbulnya rongga pada jaringan saraf dan penurunan dan hilangnya fungsi saraf yang permanen.  

 Peradangan dalam jangka waktu pendek ini penting perannya dalam menyingkirkan sel-sel mati dari lokasi cedera. Tetapi bila perdangan ini berlangsung menahun, akibatnya adalah semakin meluasnya kerusakan dan kematian sel yang dimulai dari lokasi tempat cedera asal.

Alzheimer

Alzheimer sejak lama ditandai oleh adanya neurofibrillary tangles dan juga amyloid-beta plaques. Saat ini, neuroinflammation dipercaya sebagai faktor lain yang mendasari penyakit ini.  Sel mikroglia yang teraktivasi ditemukan dalam jumlah banyak pada otak pasien Alzheimer’s yang diperiksa setelah kematian.  

 Teori yang muncul adalah bahwa dalam keadaan sel glia yang teraktivasi serta terjadinya peradangan, plak-plak amyloid-beta tidak bisa disingkirkan oleh sel-sel tubuh kita sehingga terjadi penumpukan plak-plak ini dan berujung pada timbulnya Alzheimer’s. 

Multiple sclerosis 

 Multiple scleoris adalah penyakit neurodegeneratif paling umum pada dewasa muda dan ditandai oleh rusaknya selaput sel saraf dan penurunan fungsi saraf yang menimbulkan penurunan fungsi kognitif, kelemahan tungkai dan rasa lelah.  

Pada penyakit ini, terjadi pula pelepasan zat-zat yang merangsang radang dan dapat membuat sawar darah otak menjadi rapuh sehingga sel-sel kekebalan tubuh dari darah dapat menembus dan mengaktivasi sel glia sehingga menyebabkan perdangan yang lebih luas. Menghambat aktivasi sel-sel glia dapat mengurangi keparahan dai multiple sclerosis.

Autoimun

Pada kondisi ini sel imunitas akan merusak sel -sel syaraf dan menyebabkan peradangan pada SSP.

  • Infeksi oleh virus dan bakteri. Infeksi akan menyebabkan gangguan keseimbangan imunitas oleh sel glia yang menyebabka peradangan 
  • Polusi Udara dan Asap rokok. Bahan tersebut akan memacu timbulnya reaksi oksidatif yang merusak sel-sel syaraf.
  • Stress. Pada kondisi stress kronis akan mengaktivasi sel glia yang menyebabkan perusakan sel otak secara berlebihan

Olahraga dan Neuroinflammation

Olahraga berperan penting dalam mencegah dan menangani penyakit-penyakit berbasis peradangan jaringan saraf.  Olahraga aerobik (jogging, senam, renang, dll.) diketahui dapat mengurangi peradangan secara umum. Selain itu, olahraga juga dapat mengurangi kecepatan bertambahnya mickroglia dalam otak dan mengurangi pelepasan zat-zat perangsang radang.

Demikian secara singkat sudah kita pelajari bersama beberapa aspek dari neuroinflammation. Tubuh kita merupakan sistem yang sangat kompleks, begitupun halnya dengan sistem saraf kita dan kita belum mengetahui secara menyeluruh bagaimana neuroinflammation terjadi dan perannya dalam mendasari terjadinya berbagai penyakit. 

Meskipun demikian, hal ini tetap penting untuk diketahui karena neuroinflammation berefek secara luas dan merupakan kondisi yang berlangsung secara menahun. Jangan lupakan pula bahwa kita harus senantiasa menjaga kesehatan dengan pola makan sehat dan seimbang dan olahraga teratur.


2 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app