Jauhkan 5 Benda Ini dari Miss V

Dipublish tanggal: Jun 12, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Jauhkan 5 Benda Ini dari Miss V

Vagina merupakan salah satu organ vital penting untuk wanita. Walau pun nampak rumit, sebenarnya vagina terbilang organ yang sederhana. Hanya saja, tentunya terdapat cara perawatan yang seharusnya diikuti. 

Hindari juga melakukan perawatan yang keliru karena bisa berbahaya bagi organ miss V ini. Sebab organ intim ini sangat sensitif dan karena itu perlu juga dirawat dengan lembut.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Di bawah ini, merupakan sederet hal yang sebaiknya harus diwaspadai dan sebaiknya dijauhkan dari miss V. Hindari menggunakan  benda tersebut terhadap organ intim kaum wanita ini. Berikut ini daftar barang-barang tersebut.

1. Sabun pembersih

Vagina sudah memiliki cairan khusus yang akan menjaga dan juga memastikan kebersihannya. Selain itu juga terdapat bakteri baik pada vagina yang menghindarkan dari munculnya jamur atau pun virus lain. Menggunakan sederet sabun pembersih, rupanya justru akan merusak keseimbangan ekosistem pada vagina.

Sabun pembersih memiliki kandungan alkohol sampai dengan bahan kimia lain berbahaya. Ini dapat mengganggu tingkat keasaman atau pH pada vagina. Selain itu aroma wangi yang muncul juga bisa mengganggu bakteri baik pada vagina.

Untuk menjaga kebersihan, sebaiknya pastikan selalu mengenakan pakaian yang menyerap keringat. Serta pastikan untuk membersihkan daerah di sekitar vagina saja. Sabun pembersih sendiri sebaiknya berada jauh-jauh dari vagina.

2. Makanan Manis

Terdengar aneh? Memang, namun sepertinya masih banyak orang yang memiliki fantasi seksual dengan menggunakan makanan. Sayangnya, berbagai jenis makanan terutama dengan kandungan gula seperti sirup cokelat dan krim kocok dapat memberikan infeksi bakteri ragi pada vagina. 

Hal ini pun tak jauh berbeda dengan bila menggunakan buah-buahan atau pun sayuran pada vagina. Kemungkinan besar masuknya bakteri atau pun virus akan menjadi sangat tinggi. Jadi jangan coba-coba ya!

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

3. Minyak pohon tea atau tea tree oil

Minyak pohon tea atau tea tree oil memang memiliki banyak manfaat untuk tubuh dan kulit. Misalnya saja untuk mengatasi infeksi sampai dengan jerawat. Namun sepertinya, minyak pohon tea atau tea tree oil sebaiknya dijauhkan dari kontak dengan vagina.

Ini karena di dalam minyak pohon tea atau tea tree oil terdapat kandungan bahan kimia yang cukup tinggi. Ini dapat memberikan sensasi rasa terbakar pada sekitar kulit vagina.

Sehingga, saat mencari pelumas atau produk perawatan vagina lain pastikan tak ada kandungan minyak pohon tea atau tea tree oil di dalamnya ya.

4. Baby oil

Baby oil kerap kali digunakan sebagai alternatif pelumas untuk berhubungan intim. Padahal faktanya, berbeda dengan pelumas berbahan dasar air, baby oil yang berbahan dasar minyak akan lebih sulit dibersihkan. 

Ini berarti, baby oil masih akan menempel di vagina meskipun sudah dibilas berkali-kali. Tentunya tanpa ingin beresiko dengan menggunakan sabun.

Minyak dari baby oil yang menempel inilah yang nantinya bisa masuk ke dalam saluran vagina dan menjadi tempat bertumbuh untuk bakteri, virus serta jamur.

5. Krim perontok bulu atau wax

Pada dasarnya, menjauhkan vagina dari segala bentuk bahaya dari bahan kimia merupakan pilihan terbaik. Di dalam krim perontok bulu terdapat cukup banyak bahan kimia yang cukup keras. 

Sehingga bila digunakan, bukan hanya bulu pada vagina yang akan rontok. Namun ditakutkan juga dapat memberikan reaksi alergi sampati iritasi pada kulit. Hal yang sama juga ketika menggunakan wax. Pilihan mencukur memang tidak nyaman namun masih lebih dianjurkan.

12 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Wallen K, et al. (2011). Female sexual arousal: Genital anatomy and orgasm in intercourse. DOI: (https://dx.doi.org/10.1016%2Fj.yhbeh.2010.12.004)
Suschinsky KD, et al. (2012). Is sexual concordance related to awareness of physiological states? DOI: (https://doi.org/10.1007/s10508-012-9931-9)
Pendergrass PB, et al. (1996). The shape and dimensions of the human vagina as seen in three-dimensional vinyl polysiloxane casts. DOI: (https://www.karger.com/Article/Abstract/291946)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app