Coronasomnia: Gangguan Tidur karena Pandemi COVID-19

Dipublish tanggal: Jul 14, 2021 Update terakhir: Jul 21, 2021 Waktu baca: 3 menit
Coronasomnia: Gangguan Tidur karena Pandemi COVID-19

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Coronasomnia atau 'Covid-somnia' merupakan istilah baru yang mengacu pada masalah susah tidur atau insomnia sebagai dampak pandemi COVID-19;
  • Masalah sulit tidur seringkali dialami akibat rasa lelah dan stres berkepanjangan serta aktivitas monoton yang terjadi sehari-hari di rumah saja;
  • Beberapa gejala Coronasomnia dapat berupa kesulitan tertidur pulas, memiliki rasa cemas, jadwal tidur yang berantakan, hingga sulit berkonsentrasi;
  • Dalam membantu mengatasi coronasomnia, coba mulai dengan menerapkan jadwal tidur yang teratur dan batasi penggunaan gadget sebelum tidur;
  • Klik untuk membeli produk suplemen vitamin serta perlengkapan new normal melalui HDmall. Gratis ongkir ke seluruh Indonesia dan bisa COD.

Ketidakpastian yang terjadi selama pandemi COVID-19 tanpa disadari sedikit banyak juga menimbulkan efek psikologis pada seseorang, termasuk meningkatnya rasa lelah dan stres berkepanjangan. Selain itu, efek psikologis berupa kesulitan untuk tidur dilaporkan terjadi pada sejumlah orang.

Menurut hasil penelitian di beberapa negara, jumlah penderita insomnia pun naik cukup signifikan selama pandemi COVID-19. Bahkan di China, jumlahnya naik menjadi 20 persen selama puncak lockdown COVID-19. 

Iklan dari HonestDocs
Paket Vaksin Hepatitis B Di NK Health Klinik

Cegah Penyakit Hepatitis B dengan Vaksin. Paket ini termasuk 3x suntik vaksin Hepatitis B, biaya registrasi, konsultasi dengan dokter, dan pemeriksaan tanda-tanda vital.

Sebagian responden (sekitar 40%) di Italia dan Yunani mengalami hal yang sama sehingga diperkirakan masalah gangguan tidur ini dapat menjadi kekhawatiran baru saat pandemi COVID-19 masih berlangsung.

Belum lagi proses adaptasi dan perubahan dalam menjalani kebiasaan baru new normal COVID-19 di situasi dan kondisi yang serba-terbatas yang menuntut orang untuk melakukan sebagian besar aktivitas di rumah. Kondisi ini dapat meningkatkan kejenuhan dan memperburuk gejala insomnia yang belakangan dikenal dengan sebutan coronasomnia.

Baca juga: 7 Tips Tetap Sehat Secara Mental Saat Menghadapi Fase 'New Normal'

Apa itu coronasomnia?

Coronasomnia atau 'Covid-somnia' sebenarnya hanyalah sebuah istilah yang mengacu pada kondisi masalah susah tidur atau insomnia sebagai dampak pandemi COVID-19. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh stres dan tekanan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari.

Gejala coronasomnia yang mungkin dirasakan, meliputi:

  • Sulit tertidur pulas dalam waktu yang lama
  • Tingkat stres yang meningkat
  • Mengalami rasa cemas dan depresi yang menyebabkan pikiran terganggu
  • Jadwal tidur yang berantakan dan cenderung menunda tidur
  • Sering mengantuk di siang hari
  • Mengalami gangguan konsentrasi dan fokus
  • Suasana hati yang buruk

Pentingnya waktu tidur bagi kesehatan saat pandemi COVID-19

Pada kebiasaan lama, kita cenderung memiliki jadwal rutinitas dan lingkungan yang bervariasi di setiap harinya. Misalnya, pergi ke kantor untuk bekerja dan beristirahat ketika berada di rumah sudah menjadi rutinitas yang tersistem oleh tubuh. Di masa pandemi COVID-19 ini, seluruh kegiatan hanya dihabiskan di dalam rumah sehingga tidak terlihat batasan antara keduanya. Hal ini yang membuat coronasomnia lebih rentan terjadi.

Iklan dari HonestDocs
Paket Vaksin Hepatitis B Di NK Health Klinik

Cegah Penyakit Hepatitis B dengan Vaksin. Paket ini termasuk 3x suntik vaksin Hepatitis B, biaya registrasi, konsultasi dengan dokter, dan pemeriksaan tanda-tanda vital.

Secara umum, efek coronasomnia atau kurang tidur juga dapat berpengaruh pada tingkat produktivitas pekerjaan dan aktivitas harian yang meliputi sulit berkonsentrasi, kurangnya kemampuan daya ingat, rentan melakukan kesalahan, keterlambatan respons, hingga suasana hati yang mudah terganggu.

Jika tidak segera diatasi, kesulitan tidur dapat berdampak pada kondisi kesehatan jangka panjang. Beberapa risiko penyakit yang sering dilaporkan terjadi akibat kurang tidur adalah penyakit jantung dan kardiovaskular, diabetes, obesitas, dan bahkan masalah kesehatan mental, termasuk gangguan kecemasan hingga depresi.

Baca juga: 10 Akibat Kurang Tidur yang Merugikan Kesehatan

Cara mengatasi insomnia akibat pandemi COVID-19

Untuk mengatasi coronasomnia, kamu perlu tahu dulu seberapa banyak waktu tidur yang diperlukan dan cara mendapatkan kualitas tidur yang baik. Pada umumnya, orang dewasa memerlukan waktu tidur selama 7-8 jam setiap hari. Tetapkan pula jadwal tidur yang sama setiap harinya.

Beberapa tips berikut juga bisa membantu kamu mengatasi insomnia:

  • Berhenti minum alkohol dan kurangi minuman berkafein
  • Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung magnesium
  • Hindari waktu tidur di siang hari lebih dari 30 menit
  • Lakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan di dalam rumah
  • Buat tubuh menjadi lebih rileks dengan mandi air hangat
  • Batasi penggunaan gadget serta akses informasi berita
  • Ciptakan ruang tidur yang nyaman, gelap, dan tenang

Memahami kebutuhan diri sendiri sangatlah penting untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental dalam masa pandemi COVID-19. Bagaimanapun, kurang tidur atau insomnia bisa menyebabkan tubuh lebih mudah terserang penyakit. Jangan lupa juga untuk menjalani pola hidup sehat dan teratur agar daya tahan tubuh tetap terjaga.

Baca juga: 6 Manfaat dan Risiko Mandi Air Hangat bagi Kesehatan

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Healthline. Coronasomnia: How the Pandemic May Be Affecting Your Sleep. (hhttps://www.healthline.com/health-news/coronasomnia-how-the-pandemic-may-be-affecting-your-sleep)
Sleep Foundation. Coronasomnia: Definition, Symptoms, and Solutions. (https://www.sleepfoundation.org/COVID-19-and-sleep/coronasomnia)​

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app