GRACIA BELINDA
Ditulis oleh
GRACIA BELINDA
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Gangguan Indera Penciuman dan Perasa Diperkirakan Bisa Menjadi Tanda Gejala Covid-19

Dipublish tanggal: Mar 30, 2020 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Gangguan Indera Penciuman dan Perasa Diperkirakan Bisa Menjadi Tanda Gejala Covid-19

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Kondisi gangguan indera penciuman dan indera perasa mungkin menjadi salah satu gejala Covid-19 yang khas. Hal ini didasarkan dari pengamatan dan pengalaman yang terjadi pada petugas medis baik dokter maupun perawat di rumah sakit
  • Gangguan indera penciuman sendiri disebut juga dengan anosmia, sementara hilangnya kemampuan indera perasa disebut sebagai ageusia
  • Kemampun indera perasa (lidah) dalam mendeteksi rasa tertentu juga berkaitan dengan kemampuan indera penciuman yang berasal dari bau itu sendiri

Baru-baru ini sekelompok dokter dan ahli kesehatan melakukan penelitian dan pengujian terhadap beberapa orang yang mengalami kehilangan kemampuan dalam mencium dan merasakan sesuatu, meski mereka tidak memiliki gejala lain.

Dari sekian jenis bau dan wewangian, hasil penelitian menemukan bahwa beberapa orang ada yang tidak bisa mencium aroma dari bumbu masakan, wangi kopi, bau popok bayi, hingga kotoran hewan peliharaan.

Iklan dari HonestDocs
Booking Klinik Pemeriksaan COVID-19 via HonestDocs

Dapatkan diskon hingga 70% paket covid-19 hanya dari HonestDocs. Klik dan booking sekarang!

Ia h18 covid 19

Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan indera penciuman, disebut juga anosmia, sementara hilangnya kemampuan indera perasa disebut sebagai ageusia. Dua kondisi tersebut diperkirakan menjadi salah satu tanda atau gejala Covid-19 yang khas.

Apa dasar penelitian tersebut terkait gejala Covid-19?

Gejala Covid-19 sendiri disebabkan oleh virus Corona sendiri yang berupa demam, batuk, pilek, dan sesak nafas. Tetapi beberapa gejala tersebut terkadang dianggap cukup umum sehingga sulit memastikan apakah benar terinfeksi virus Corona atau tidak. Karena gejala tersebut juga bisa menjadi tanda penyakit lain, seperti influenza atau batuk pilek biasa.

Meskipun hal ini masih dalam tahap perkembangan dan membutuhkan penelitian lebih mendalam, tetapi beberapa dokter terus memberikan informasi dan peringatan akan adanya isu ini sehingga disarankan untuk menggunakan perlindungan penuh secara menyeluruh ketika berhubungan dengan pasien penderita Covid-19.

Oleh karena itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap adanya masalah fungsi indera penciuman ataupun perasa tersebut, setiap orang yang merasakan gangguan indera tersebut diwajibkan untuk melakukan karantina mandiri di rumah atau isolasi diri selama 14 hari dan terus memantau perkembangan kesehatan. Hal tersebut terutama berlaku bagi mereka yang mengalami gejala anosmia dan ageusia tanpa memiliki riwayat alergi ataupun sinusitis, serta tidak mengalami hidung tersumbat.

Penelitian terkait gangguan indera juga didasarkan dari pengalaman dan pengamatan secara langsung terhadap beberapa petugas medis, seperti dokter dan perawat yang mengalami anosmia dan ageusia ternyata positif terinfeksi Coronavirus (Covid-19). Tak hanya itu, para pasien yang menderita Covid-19 di beberapa negara, termasuk China, Italia, UK, dan Korea Selatan, juga ternyata memiliki gejala yang sama, yakni hilangnya fungsi indera penciuman dan indera perasa.

Apa itu anosmia dan ageusia?

Sebenarnya ada banyak istilah yang terkait dengan fungsi indera penciuman dan indera perasa. Jika anosmia itu adalah hilangnya indera penciuman, maka ageusia adalah hilangnya fungsi indera perasa pada lidah, terutama ketidakmampuan indera dalam mendeteksi rasa manis, asam, pahit, asin, ataupun gurih. 

Iklan dari HonestDocs
Booking Klinik Pemeriksaan COVID-19 via HonestDocs

Dapatkan diskon hingga 70% paket covid-19 hanya dari HonestDocs. Klik dan booking sekarang!

Ia h18 covid 19

Kemampun indera perasa (lidah) dalam mendeteksi rasa tertentu juga berkaitan dengan kemampuan indera penciuman yang berasal dari bau itu sendiri. Kondisi ageusia sebenarnya sangat jarang terjadi jika dibandingkan dengan hypogeusia (kondisi di mana hilangnya sebagian rasa) dan dysgeusia (terjadinya perubahan rasa atau distorsi).

Jaga kebersihan diri sendiri dan orang terdekat dari virus Corona (Covid-19) dengan rajin cuci tangan dengan sabun, kenakan masker pelindung, gunakan tisue ketika bersin atau batuk, dan hindari tempat keramaian. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, berolahraga, istirahat cukup, dan minum air putih serta multivitamin.     

Jika mengalami gejala seperti demam, batuk, bersin, atau kondisi lainnya, sebaiknya segera memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan. 
Untuk informasi atau laporan mengenai kasus Covid-19, bisa melihat di website resmi www.covid19.go.id atau menghubungi hotline Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) khusus COVID-19 di nomor 119 ext. 9. 
Pencegahan dan penanganan awal akan membantu mengurangi risiko bahaya atau komplikasi yang lebih parah.

Sekilas Mengenai Covid-19

Covid-19 atau penyakit yang disebabkan oleh virus Corona telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Virus tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan dengan gejala demam, batuk, bersin, sakit kepalasesak nafas, nyeri dada, hingga menyebabkan pingsan. 

Penularan virus bisa terjadi melalui batuk atau bersin, bersentuhan dengan penderita, serta menyentuh benda yang telah terkontaminasi karena virus dapat bertahan hingga 24 jam di permukaan benda. Untuk mencegah penyebaran virus Corona, sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri.

Baca selengkapnya: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Coronavirus

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
NY Times. Lost Sense of Smell May Be Peculiar Clue to Coronavirus Infection. (https://www.nytimes.com/2020/03/22/health/coronavirus-symptoms-smell-taste.html?smid=fb-nytimes&smtyp=cur). 22 Maret 2020
Livescience. COVID-19 might cause loss of smell. Here’s what that could mean. (https://www.livescience.com/odd-coronavirus-symptom-smell-loss.html)
Livescience. Loss of smell could be a symptom of COVID-19. (https://www.livescience.com/covid-19-symptoms-loss-smell-taste.html)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app