Albothyl: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Mar 7, 2019 Update terakhir: Okt 26, 2020 Tinjau pada Agu 8, 2019 Waktu baca: 3 menit

Berbicara mengenai albothyl, tentunya hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah mengetahui apa itu albothyl. Albothyl merupakan salah satu obat yang dikenal karena dapat mengobati sariawan maupun membersihkan area intim organ kewanitaan. 

Namun di awal tahun 2018 lalu, tiba tiba terdengar suatu kabar mengagetkan dimana badan kesehatan BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) Indonesia melarang peredaran dan penggunaan albothyl lagi. 

Tentunya berita ini sangat mengejutkan banyak pihak terutama masyarakat Indonesia yang sudah famiiliar dengan pemakaian obat albothyl. Lalu apa alasan BPPOM tiba tiba melarang penggunaan obat albothyl ? Yuk kita simak lebih lanjut artikel ini untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Apa itu obat Albothyl ?

Albothyl ialah suatu obat yang dikeluarkan oleh PT. Pharos Indonesia yang di claim sebagai cairan antiseptik dan desinfektan kulit yang umum digunakan sebagai obat luar dalam fungsinya untuk mengobati keputihan, luka, sariawan dan berbagai masalah kulit lainnya yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. 

Albothyl juga di claim mampu menjadi cairan pembersih area kewanitaan seorang wanita. 

Selain itu, sifat dari obat albothyl ini sendiri juga dipercaya sangat baik sebagai obat antiseptik untuk mematikan kuman kuman penyebab infeksi, obat hemostatik untuk menghentikan pendarahan dan obat astringent untuk menutup atau mengecilkan area kulit yang terluka.

Lalu mengapa BPOM menetapkan Albothyl sebagai obat berbahaya ?

Hal ini diakibatkan karena di dalam albothyl terkandung kandungan zat Policresulen yang konsentratnya mencapai 36% dari seluruh kandungan zat yang ada di albothyl.

Zat policresulen ialah suatu senyawa asam organik atau polymolecular organic acid yang didapatkan dari proses formaldehyde atau kondensasi formalin dan senyawa meta cresolsufonic acid.

Ternyata setelah ditelit lebih dalam, BPOM menyimpulkan bahwa kandungan zat policresulen dapat menyebabkan jaringan yang terolesi oleh zat policresulen tersebut menjadi mati. 

Inilah yang menyebabkan mengapa begitu seseorang terkena sariawan lalu diolesi oleh obat albothyl maka sariawannya secara cepat dalam hitungan detik atau menit akan berubah tiba tiba menjadi perih lalu berubah warna mejadi putih susu 

Secara sekejap sariawan yang tadinya perih tersebut akan terasa mati rasa atau tidak perih atau sakit lagi bahkan luka sariawan yang tadinya menganga sudah tertutup dengan lapisan berwarna putih susu dan kering.

Hal inilah yang menjadi dasar BPOM mengambil keputusan untuk menghentikan peredaran obat albothyl yang sudah beredar luas di masyarakat karena obat albothyl yang kita percaya selama ini dapat mengobati luka sariawan dan area mulut kita ternyata bukanlah mengobati namun mematikan jaringan yang ada pada luka sariawan tersebut

Walau memang setelah mematikan jaringan di area luka sariawan tersebut maka akan tumbuh sel sel baru di area luka tadi sehingga luka akan cepat menyembuh. 

Ini bukan dikarenakan oleh albothyl melainkan karena memang tubuh manusia dapat dengan sendirinya melakukan regenerasi sel sel baru pada sel sel yang sudah mati.

Selain karena sifat zat policresulen yang mematikan sel jaringan, ternyata zat policresulen juga dapat menimbulkan efek chemical burn atau efek terbakar pada mucosa oral atau pada jaringan mukosa mulut. 

Hal ini makin diperparah dengan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan albothyl juga tidak sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada kemasan Albothyl 

Seharusnya albothyl tidak boleh langsung bersentuhan dengan luka sariawan melainkan harus diencerkan terlebih dahulu dengan air baru diberikan ke area luka sariawan dengan cottod bud atau kapas namun 

Kebanyakan orang Indonesia biasanya akan langsung mengoleskan obat albothyl ke luka sariawannya sehingga dapat memperparah efek zat policresulen yang terdapat pada obat albothyl.

Efek Samping Albothyl

Penggunaan obat albothyl yang dilakukan secara konstan dan terus menerus lama kelamaan juga akan membawa efek samping bagi si pemakai seperti:

  • Adanya iritasi
  • Alergi
  • Infeksi jamur pada vagina atau candidiasis
  • Edema atau pembengkakan jaringan lunak
  • Kerusakan pada enamel gigi akibat kandungan sifat asam pada zat policresulen
  • Sariawan menjadi berlubang dan menimbulkan infeksi serius pada area mulut sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan permanen di area mulut.

Hal hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa BPOM melarang penggunaan dan peredaran obat Albothyl di Indonesia. Semoga artikel satu ini dapat menjawab rasa penasaranmu akan pemberhentian peredaran obat albothyl.


4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Albothyl Dosage & Drug Information. MIMS.com. (https://www.mims.com/malaysia/drug/info/albothyl)
[Effect of albothyl in Trichomonas vaginalis infection on the changes in vaginal environment]. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/5349992)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app