Kebiasaan Sehat

Apakah Rokok Bisa Memicu Gejala Skizofrenia atau Justru Mengobati?

Dipublish tanggal: Mei 21, 2019 Update terakhir: Mar 26, 2020 Waktu baca: 3 menit
Apakah Rokok Bisa Memicu Gejala Skizofrenia atau Justru Mengobati?

Perokok berat memang sering dikaitkan dengan risiko psikosis yang mengarah pada skizofrenia. Akan tetapi, apakah merokok justru memicu atau justru mengobati skizofrenia? Hal ini masih menjadi perdebatan di antara para ahli. Mengapa bisa terjadi?

Apakah Rokok Bisa Memicu Gejala Skizofrenia atau Justru Mengobati?

Merokok Mengobati Gejala Skizofrenia

Pada tahun 2014, peneliti dari Washington University School of Medicine meneliti tentang skizofrenia. Hasilnya, penderita penyakit berat seperti skizofrenia lima kali lebih berpotensi jadi perokok berat. Kecenderungan ini dipelajari lebih lanjut oleh tim ilmuan gabungan mancanegara. Penjelasannya bahwa kandungan nikotin bekerja memperbaiki area otak yang rusak.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Akar percobaan mereka disebut hypofrontality, yaitu penurunan aktivitas korteks prefrontal otak. Keadaan tersebut mengarah ke persoalan kognitif seperti gangguan memori serta kesulitan mengambil keputusan.

Peningkatan risiko skizofrenia juga berkaitan dengan penurunan fungsi lobus frontal. Gangguan tersebut sudah dikaitkan dengan persoalan penalaran serta pemecahan masalah. Control diri dan emosi juga terkait. Gangguan di kedua bagian otak ini dicurigai memicu gejala psikosis penyebab skizofrenia. Berbagai gejala psikosis tersebut di antaranya adalah delusi, halusinasi, dan waham.

Peneliti juga mengatakan bahwa nikotin membalikkan persoalan ini. Nikotin memengaruhi reseptor di area otak tertentu guna menjalankan fungsi kognitif yang baik. Saat tikus lab menunjukkan gejala skizofrenia, aktivitas otak yang melemah bisa meningkat setelah diberi nikotin.

Peningkatan ini membutuhkan proses selama dua hari. Menurut peneliti, aktivitas otak kembali normal dalam waktu satu minggu. Pada dasarnya, tim peneliti menduga nikotin bereaksi melawan efek samping obat skizofrenia. Nikotin juga melawan penurunan fungsi kognitif otak yang disebabkan cacat genetik dari skizofrenia.

Merokok Memicu Gejala Skizofrenia

Sebuah studi di jurnal Lancet Psychiatry melaporkan bahwa perokok punya peningkatan risiko mengalami skizofrenia. Peningkatan tersebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan bukan perokok.

Tim peneliti merekap hasil temuan 61 studi sebelumnya. Secara keseluruhan, semua studi melibatkan 15 ribu perokok serta 273 ribu non perokok. Penemuannya adalah hampir 57% pasien yang mengalami episode utama gejala skizofrenia adalah perokok.

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Peneliti juga menemukan jika perokok berat menunjukkan gejala skizofrenia lebih cepat. Rata-rata, gejala skizofrenia tersebut meningkat satu tahun lebih cepat dibandingkan non perokok. Temuan ini menumpahkan keraguan teori terkait hubungan antara psikosis dan merokok. Hubungan tersebut terjadi karena pasien skizofrenia memakai rokok untuk mengobati diri sendiri.

Menurut peneliti, orang tersebut terlebih dahulu membiasakan diri merokok secara rutin. Setelah itu, barulah menunjukkan gejala skizofrenia yang merupakan dampak merokok. Gangguan kesehatan mental bisa disebabkan karena rutin merokok.

Tim peneliti juga menduga dopamin berperan utama dalam peningkatan gejala skizofrenia. Kelebihan dopamin merupakan faktor biologis terbaik untuk menjelaskan penyakit psikotik. Salah satunya adalah skizofrenia. Terdapat kemungkinan nikotin mampu meningkatkan pelepasan dopamin. Pelepasan tersebut memicu perkembangan gejala skizofrenia.

Lalu, Manakah yang Benar?

Jalan yang menentukan kepastian hubungan sebab akibat antara merokok dan psikosis masih terus ditelusuri. Bagaimanapun hasilnya, kebiasaan merokok tetap menjadi faktor serius terkait gejala skizofrenia. Persoalan ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Jangan sampai hanya dianggap sebagai konsekuensi penyakit. Demikianlah yang diungkap oleh banyak pakar kesehatan.

Sebaliknya, peneliti juga mendesak para profesional kesehatan mental serta tenaga medis skizofrenia. Semua pihak yang langsung berhadapan dengan pasien skizofrenia perlu mendorong mereka berhenti merokok. Tindakan pencegahan yang seharusnya lebih diutamakan.

Hubungan antara merokok dengan gejala skizofrenia masih dalam tahap penelusuran lebih lanjut. Meskipun demikian, tetap Anda harus waspada. Janganlah terus menerus merokok karena bagaimanapun bisa memicu skizofrenia. Penyakit lainnya juga mengancam. Untuk itu, berusahalah berhenti merokok.

3 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Nicotine may help treat schizophrenia, study finds. Medical News Today. (Accessed via: https://www.medicalnewstoday.com/articles/315446)
Šagud M, Vuksan-Ćusa B, Jakšić N, Mihaljević-Peleš A, Rojnić Kuzman M, Pivac N. Smoking in Schizophrenia: an Updated Review. Psychiatria Danubina 2018;30(Suppl 4):216-23. National Center for Biotechnology Information. (Accessed via: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29864763)
Sagud M, Mihaljević-Peles A, Mück-Seler D, Pivac N, Vuksan-Cusa B, Brataljenović T, Jakovljević M. Smoking and schizophrenia. Psychiatria Danubina 2009;21(3):371-5. National Center for Biotechnology Information. (Accessed via: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19794359)

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit
Buka di app