Mengenal Karies Botol, Penyebab Gigi Berlubang Pada Gigi Depan Anak

Dipublish tanggal: Jul 10, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Mengenal Karies Botol, Penyebab Gigi Berlubang Pada Gigi Depan Anak

Hampir 85 persen anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia mengalami karies gigi. Karies gigi adalah kerusakan jaringan pada permukaan gigi yang merambat ke bagian pulpa. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menurunkan kualitas perkembangan anak dan mengganggu penampilannya. Dari sekian banyak jenis karies gigi, salah satu yang paling sering dialami oleh anak-anak adalah nursing bottle carries atau karies botol.

Apa itu karies botol?

Karies botol adalah kondisi gigi berlubang yang terjadi akibat adanya sisa minuman yang masih melekat pada gigi anak dalam kurun waktu yang cukup lama. Sisa minuman yang bertumpuk dan mengandung kadar gula yang cukup banyak ini akan memicu berkembangnya bakteri

Iklan dari HonestDocs
Penambalan Dengan Sinar Laser & Pemeriksaan Dengan Kamera Intraoral Camera At Tooth's Kingdom Dental Care

Penambalan gigi merupakan prosedur medis yang dilakukan untuk mengisi gigi berlubang (caries).

Penambalan dengan sinar laser   pemeriksaan dengan kamera intraoral camera at tooth s kingdom dental care

Bakteri yang terlibat dalam munculnya karies gigi adalah bakteri bariogenik. Seiring berjalananya waktu, bakteri tersebut akan memakan plak sisa makanan atau minuman yang menempel pada gigi.

Tidak hanya menggerogoti plak pada gigi, bakteri yang tumbuh juga akan mengubah gula menjadi asam yang mengikis enamel gigi. Lambat laun, hal ini dapat memicu munculnya lubang kecil pada gigi anak.

Baca Selengkapnya: Apa Perbedaan Antara Gigi Berlubang dan Karies Gigi?

Penyebab karies botol

Penyebab karies botol biasanya terjadi anak-anak terbiasa menyusu saat tertidur, baik dengan menggunakan botol, sippy cup, maupun ASI. Susu maupun minuman manis merupakan lingkungan yang sangat potensial bagi mikroorganisme penyebab karies untuk berkembang biak dan merusak gigi.

Karies botol umumnya terjadi pada gigi depan bagian atas. Hal ini terjadi karena deretan gigi depan sangat rentan terkena cairan selama anak menyusui. Berbeda dengan gigi bagian bawah, deretan gigi ini lebih terlindungi oleh air liur anak dan terhalang oleh lidah. 

Apabila anak Anda masih susah untuk melepaskan botol, sebaiknya kurangi frekuensi minum susu dengan botol. Menurut Mochamad Fahlevi yang merupakan seorang dokter spesialis anak, minum susu botol 2 kali atau lebih dalam sehari akan meningkatkan risiko karies botol hingga 2,27 kali. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Tanda dan gejala karies botol pada anak 

Tanda-tanda anak mengalami karies botol biasanya agak sulit disadari oleh orangtua, karena biasanya hanya berupa tumpukan putih di sekitar gigi. Namun, gejala karies botol yang paling umum adalah adanya bintik-bintik kecokelatan dengan mencakup area yang sangat luas pada gigi. 

Karies gigi tidak hanya bisa terjadi pada satu gigi, tapi juga bisa meluas ke beberapa gigi sekaligus. Semakin banyak sisa-sisa minuman yang menempel, maka semakin luas pula risiko karies botol pada gigi anak hingga menyebabkan gigi berlubang.

Bila jumlah lubang pada gigi semakin bertambah, anak biasanya akan mengalami sakit gigi bahkan gigi bengkak. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera untuk mencegah risiko pembusukan pada gigi anak.

Dokter akan melihat dulu tingkat keparahan kerusakan gigi pada anak. Jika gigi anak mengalami pembusukan yang cukup parah, dokter biasanya akan melakukan perawatan saluran akar gigi. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan pasak gigi dari strip fiber hingga pembuatan mahkota gigi. 

Baca Juga: 10 Cara Merawat Gigi Sehari-Hari untuk Anak dan Dewasa

Apakah karies botol bisa dicegah?

Tentu saja, karies botol pada anak-anak dapat dicegah sedini mungkin. Anda bisa melakukan beberapa langkah di bawah ini agar si kecil terhindar dari karies botol:

  1. Biasakanlah anak tidur tidak sambil nge-dot, baik dengan botol berisi susu, jus, maupun minuman manis lainnya.
  2. Setelah makan dan minum, segera bersihkan mulut, gusi, dan gigi si kecil dengan lap bersih yang dibasahi air matang. 
  3. Ajarkan anak tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar, seperti tidak menelan air kumur dan tidak menelan pasta gigi. Beri tahu juga mengenai cara merawat gigi apabila gigi anak Anda sudah tumbuh. 
  4. Sebelum si kecil menginjak usia 2 tahun, mulailah membiasakannya untuk minum susu pakai gelas - bukan lagi dengan botol susu.
  5. Ajak si kecil memeriksakan kesehatan giginya secara rutin sejak usia 1 tahun. 
  6. Ajari anak untuk selalu menyikat gigi sebelum tidur. 

Dengan melakukan beberapa tips pencegahan di atas, kesehatan gigi anak akan semakin terjaga dan terhindar dari risiko kehilangan gigi susu di usia dini. Perlu diketahui bahwa kehilangan gigi susu terlalu dini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan wajah, serta tulang rahang anak.

Baca Juga: Bedanya Dokter Gigi Anak dan Dokter Gigi

7 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Infant formula and fluorosis. (2015, April 20)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app