​Amankah Berhubungan Seksual Saat Haid?

Dipublish tanggal: Mei 29, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
​Amankah Berhubungan Seksual Saat Haid?

Amankah Berhubungan Seksual Saat Haid?

Kebutuhan akan kegiatan seksual memang tidak dapat dipungkiri oleh setiap pasangan yang telah menikah, dimana Anda dan pasangan seolah membutuhkan interaksi jiwa melalui kegiatan seksual. Tanpa disadari Anda telah menyetujui fakta tersebut.

Apakah Anda pernah berpikir untuk melakukan hubungan seksual bersama pasangan saat haid. Kemudian Anda juga berpikir bahwa seks saat haid tidak akan menimbulkan kehamilan. Sebelumnya terdapat beberapa anggapan yang beredar di masyarakat bahwa melakukan hubungan seksual selama haid adalah perbuatan yang terlarang secara agama, namun seringkali sebagian masyarakat juga tidak mengetahui aturan tersebut dengan lebih jelas.

Iklan dari HonestDocs
Beli Paket Prenatal (Panel Awal Kehamilan) via HonestDocs!

Cek ada tidaknya resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil dan dapatkan treatment yang tepat secepatnya. Diskon 30% jika beli via HonestDocs sekarang!

Paket prenatal %28panel awal kehamilan%29 di path lab %28home services%29

Selanjutnya, mari ketahui pengaruh haid terhadap aktivitas seksual jika dijelaskan menurut pandangan medis. Simak penjelasannya berikut ini. 

Apabila Anda dan pasangan melakukan hubungan seksual saat sedang haid maka hal tersebut dapat memicu timbulnya kehamilan. Selama kegiatan tersebut tidak dibatasi oleh penghalang atau kontrasepsi sementara seperti kondom. Sebuah fakta membenarkan bahwa terdapat kemungkinan terjadinya kehamilan, tergantung lamanya siklus yang Anda alami dan kondisi lain yang turut mempengaruhinya.

Proses Ovulasi Hingga Haid

Penyebab terjadinya siklus haid wanita adalah karena meluruhnya lapisan pembuluh darah dan sekaligus sel telur yang tidak sempat mengalami pembuahan sehingga hormon estrogen dan progesteron ikut menurun produktivitasnya. dr. Michele Hakakha menyatakan bahwa setiap bulan para wanita akan mengalami pelepasan sel telur tepat di hari ke 14. 

Sebelum pelepasan itu terjadi terdapat hormon-hormon yang mengalami peningkatan dan bersiap untuk berada pada fase pelepasan sel telur. Tak hanya itu lapisan dinding rahim juga turut menebal. Dengan demikian saat tidak terjadinya proses pembuahan, maka lapisan itu akan lepas dan luruh. 

Dimana istilah tersebut lebih dikenal dengan siklus haid wanita. dr. Hakakha juga menambahkan jika sel telur yang dilepaskan untuk menunggu pembuahan hanya mampu bertahan selama 24 jam. Dimana selebihnya jika melebihi waktu tersebut, sel telur akan gagal dibuahi dan seketika luruh atau keluar bersama dengan darah haid.

Biasanya para wanita memiliki rentang waktu sekitar 2 atau 8 hari lamanya darah keluar dan memiliki volume yang berbeda-beda setiap harinya sehingga sangat tidak mungkin terjadinya kehamilan pada masa tersebut. Ketika Anda mengalami haid biasanya akan merasakan nyeri di area tertentu, kemudian sakit kepala dan bahkan stress sehingga ketika Anda melakukan hubungan seksual dan mengalami orgasme Anda akan mengeluarkan hormon endorfin yang memiliki pengaruh untuk menurunkan tingkat stres.

Lalu Siapakah yang Beresiko Hamil Saat Haid?

Terdapat siklus haid yang berbeda-beda pada setiap wanita, terkadang sebagian wanita memiliki siklus haid yang lebih pendek, yakni kurang dari 32 hari sehingga wanita bisa mengalami 7 hari masa haid dan berhubungan seksual di hari terakhir. Sedangkan sperma dapat hidup di dalam rahim sekitar 3 atau 5 hari. Dengan demikian, terdapat kemungkinan terjadi ovulasi di tiga hari kemudian dan dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan.

Selain itu wanita seringkali mengalami kejadian pendarahan yang dianggap sebagai darah haid, padahal bukan. Maka ketika terjadi hubungan seksual dengan pasangan pada masa tersebut, dapat terjadi kemungkinan adanya pembuahan sel telur karena sperma berhasil masuk ke dalam rahim.

Apabila Anda ingin melakukan hubungan seksual bersama pasangan ketika Anda sedang haid dan khawatir akan terjadinya proses ovulasi. Maka cobalah untuk menggunakan alat kontrasepsi lain seperti memakai kondom. Akan tetapi segera hentikan penggunaan tersebut, apabila Anda merasakan efek samping seperti kram di bagian perut atau bahkan mengalami nyeri pada payudara.

12 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Witteveen H. (2017). Treatment of menstrual migraine; multidisciplinary or mono-disciplinary approach. DOI: (https://doi.org/10.1186/s10194-017-0752-z)
Mayo Clinic Staff. (2016). Menstrual cycle: What’s normal, what’s not. (https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/womens-health/in-depth/menstrual-cycle/art-20047186)
Herbenick D. (n.d.). Q A: Can having sex help to alleviate menstrual cramps? (https://kinseyconfidential.org/sex-alleviate-menstrual-cramps/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app