Alergi - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Feb 2, 2019 Update terakhir: Nov 5, 2020 Tinjau pada Feb 28, 2019 Waktu baca: 3 menit

Apakah Reaksi Alergi?

Istilah alergi pasti sudah sangat akrab ditelinga Anda. Jika ada seseorang yang bersin jika berada pada tempat yang berdebu, alergi. Jika ada seseorang yang selalu bersin jika berada dekat kucing, alergi. Jika ada seseorang yang gatal-gatal karena suhu dingin, alergi. 

Tapi apa itu alergi sebenarnya? Mengapa ada orang yang mengalami gejala alergi, sedangkan ada orang yang tidak mengalami gejala alergi? Apakah alergi hanya berupa gejala gatal atau bersin? Semuanya akan dibahas lebih mendalam, yuk disimak lebih lanjut.

Bagaimana reaksi Alergi bisa terjadi?

Sistem kekebalan tubuh Anda bertanggung jawab untuk menjaga tubuh terhadap serangan bakteri dan virus. Pada kondisi-kondisi tertentu, sistem kekebalan tubuh Anda akan melawan zat yang secara umum tidak menimbulkan ancaman bagi tubuh manusia. Zat-zat ini dikenal sebagai alergen, dan ketika tubuh Anda bereaksi terhadap alergen-alergen tersebut, reaksi alergi terjadi.

Anda bisa terpapar alergen melalui udara, makanan ataupun sentuhan. Dokter juga dapat menggunakan alergen untuk menentukan benda apa yang dapat memicu terjadinya reaksi pada tubuh Anda.

Apakah Penyebab Reaksi Alergi?

Penyebab Reaksi Alergi

Mengapa ada orang yang mengalami reaksi alergi sedangkan orang lain tidak mengalami reaksi alergi? Penyebab utama mengapa seseorang mengalami reaksi terhadap alergen belum bisa diketahui secara pasti oleh para ahli.

Walaupun belum diketahui penyebabnya secara pasti, ada beberapa alergen yang dapat diidentifikasi, sehingga dapat mencegah terjadinya alergi. Alergen yang biasa ditemukan adalah :

  • bulu hewan peliharaan
  • sengatan lebah atau gigitan dari serangga lain
  • makanan tertentu, termasuk kacang atau kerang, seafood
  • obat-obatan tertentu, seperti penisilin atau aspirin
  • tanaman tertentu
  • serbuk sari 

Gejala Reaksi Alergi

Gejala-gejala reaksi alergi dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Jika Anda terkena alergen untuk pertama kalinya, gejala Anda mungkin ringan. Tetapai gejala berkembang menjadi lebih buruk seiring dengan paparan alergen selanjutnya. 

Gejala reaksi alergi ringan dapat meliputi:

  • gatal-gatal (bintik-bintik merah gatal pada kulit)
  • gatal
  • hidung tersumbat (dikenal sebagai rhinitis)
  • ruam
  • tenggorokan gatal
  • mata berair atau gatal

Beberapa gejala berat pada reaksi alergi meliputi :

  • kram perut atau nyeri
  • nyeri atau sesak di dada
  • diare
  • kesulitan menelan
  • pusing (vertigo)
  • ketakutan atau kecemasan
  • wajah memerah
  • mual atau muntah
  • palpitasi jantung
  • pembengkakan wajah, mata, atau lidah
  • sulit bernafas
  • ketidaksadaran

Pada keadaan tertentu, reaksi alergi dapat berkembang menjadi reaksi anafilatik yang dapat membahayakan jiwa. Reaksi ini meliputi bengkak pada seluruh tubuh termasuk pada saluran pernapasan, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan menyebabkan tekanan darah turun secara tiba-tiba. Reaksi ini terjadi dalam hitungan detik.

Jika Anda mengalami jenis reaksi alergi ini, segera cari bantuan darurat. Tanpa penanganan, kondisi ini dapat menyebabkan kematian dalam 15 menit.

Penanganan yang dapat Anda lakukan untuk menangani reaksi Alergi

Secara umum, penanganan alergi mudah karena hanya dilakukan dengan menghindari paparan alergen, tetapi susah karena menghindari paparan alergen tidak bisa selalu dilakukan setiap saat. Pada kondisi seperti alergi terhadap debu, sangat sulit untuk menghindari debu mengingat debu ada dimana-mana.

Oleh karena itu, penggunaan obat-obatan untuk menangani reaksi alergi dapat digunakan. Antihistamin dan dekongestan over-the-counter (OTC) dapat meredakan gejala minor dari reaksi alergi.

Antihistamin mencegah gejala seperti gatal-gatal dengan memblokir reseptor histamin sehingga tubuh Anda tidak bereaksi terhadap alergen. Dekongestan membantu membersihkan hidung Anda dan sangat efektif untuk meringankan gejala pada alergi musiman. Tetapi perlu diingat untuk tidak mengkonsumsi obat-obatan tersebut lebih dari 3 hari berturut-turut.

Obat-obatan ini tersedia dalam tablet, tetes mata, dan semprotan hidung. Banyak obat OTC juga menyebabkan kantuk, jadi hindari meminumnya sebelum mengemudi atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan banyak konsentrasi.

Pembengkakan, kemerahan, dan gatal pada kulit dapat dikurangi dengan es dan krim topikal yang mengandung kortikosteroid.

Jika pengobatan dengan obat-obatan yang dapat dibeli di pasaran tidak berfungsi, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kondisi apa yang mendasarinya dan memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi Anda.

Apa yang harus dilakukan ketika seseorang mengalami anafilaksis

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, reaksi alergi dapat berkembang menjadi reaksi anafilaksis yang dapat membahayakan nyawa Anda. Saat Anda mengetahui seseorang mengalami gejala reaksi anafilaksis, Anda harus:

  • Segera membawa mereka ke UGD di rumah sakit jika memungkinkan
  • Lihat apakah mereka memiliki epinephrine (adrenalin) auto-injector (EpiPen) berikan suntikan di paha untuk menghentikan reaksi anafilaksis.
  • Cobalah untuk membuat orang itu tetap tenang.
  • Bantu orang itu berbaring telentang.
  • Angkat kaki mereka sekitar 30cm dan tutupi mereka dengan selimut.
  • Pastikan pakaian mereka longgar agar mereka bisa bernapas.
  • Semakin cepat orang mendapatkan epinefrin mereka, semakin baik.
  • Hindari memberikan obat oral, minum apa pun, atau mengangkat kepala mereka, terutama jika mereka mengalami kesulitan bernapas.

Penanganan utama pada reaksi ini adalah penggunaan epinephrine. Oleh karena itu, tetap tenang dan menyuntikan epinephrine pada waktu yang tepat, dapat menyelamatkan jiwa seseorang.


19 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
WebMD (2018). Who Gets Allergies? (https://www.webmd.com/allergies/who-gets-allergies)
WebMD (2018). What Is an Allergic Reaction? (https://www.webmd.com/allergies/allergic-reaction-causes)
Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Allergies. (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app