Waspada Darah Menggumpal Setelah Operasi! Berikut Cara Pencegahannya

Dipublish tanggal: Jul 22, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Waspada Darah Menggumpal Setelah Operasi! Berikut Cara Pencegahannya

Pembentukan gumpalan darah, juga dikenal sebagai koagulasi, yang merupakan respons normal tubuh Anda dalam situasi tertentu. 

Misalnya, jika Anda tidak sengaja melukai tangan atau jari Anda, maka pembentukan bekuan darah dapat menghentikan pendarahan dan membantu meredakan luka.

Jenis gumpalan darah tersebut bermanfaat, dan juga dapat membantu mencegah kehilangan darah berlebih saat Anda mengalami luka parah. 

Bekuan darah bisa mengenai bagian tubuh mana saja. Gumpalan darah umumnya tidak berbahaya. Namun, terkadang pembekuan darah juga bisa menjadi suatu tanda bahaya.

Menjalani operasi besar dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap pembentukan pembekuan darah yang berbahaya di area-area seperti paru-paru atau otak.

Apa itu Gumpalan Darah?

Trombosit, yang merupakan bentuk sel darah, dan plasma, yang merupakan bagian cair dari darah, bergabung untuk membantu menghentikan pendarahan dan membentuk gumpalan di daerah yang terluka.

Anda mungkin paling sering melihat gumpalan darah di permukaan kulit saat mengalami luka, yang biasa disebut keropeng. Biasanya begitu daerah yang terluka sembuh, tubuh Anda akan secara alami melarutkan bekuan darah.

Namun ada kasus di mana gumpalan dapat terbentuk di dalam pembuluh darah Anda meskipun Anda tidak mengalami cedera. Gumpalan tersebut tidak larut secara alami dan merupakan suatu kondisi berbahaya.

Gumpalan di pembuluh darah Anda dapat membatasi kembalinya aliran darah ke jantung. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri dan bengkak karena penggumpalan darah di belakang daerah bekuan darah.

Gejala Gumpalan Darah setelah operasi

Selalu ada risiko yang terkait dengan semua jenis operasi. Deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru adalah komplikasi potensial yang harus Anda perhatikan. 

Banyak orang tidak memahami gejala dan faktor risiko yang terkait dengan gumpalan darah. Gejala umum pembekuan darah meliputi:

  • Jantung: Nyeri dada, mati rasa di lengan, ketidaknyamanan di bagian lain tubuh bagian atas, sesak napas, berkeringat, mual, dan pusing.
  • Otak: Kelemahan pada wajah, lengan, atau kaki, kesulitan berbicara atau bicara kacau, masalah penglihatan, sakit kepala mendadak dan berat, serta pusing.
  • Lengan atau tungkai: Nyeri tiba-tiba atau bertahap pada tungkai, bengkak, nyeri tekan, dan rasa hangat pada tungkai.
  • Paru-paru: Nyeri dada yang tajam, jantung berdetak kencang atau nafas cepat, sesak napas, berkeringat, demam, batuk darah
  • Abdomen: Nyeri perut hebat, muntah, diare

Jika Anda merasa mengalami gejala-gejala tersebut setelah menjalani operasi, segera hubungi dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Mencegah Pembekuan Darah setelah operasi

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah pembekuan darah setelah operasi. Hal terpenting yang dapat Anda lakukan adalah mendiskusikan riwayat medis Anda dengan dokter. 

Jika Anda memiliki riwayat pembekuan darah atau sedang menggunakan obat-obatan, Anda harus memberi tahu dokter Anda.

Beberapa kelainan darah dapat menyebabkan masalah pembekuan dan menyebabkan masalah setelah operasi. 

Mengkonsumsi obat aspirin juga telah terbukti membantu pembekuan darah, sehingga memulai menggunakan rejimen aspirin dapat membantu masalah pembekuan darah.

Dokter mungkin akan meresepkan warfarin (Coumadin) atau heparin, yang merupakan pengencer darah umum. Pengencer darah, atau antikoagulan, digunakan untuk mengobati pembekuan darah yang berlebihan. 

Obat tersebut juga dapat membantu masalah pembekuan darah yang Anda miliki saat ini agar tidak bertambah besar.

Sebelum operasi, dokter akan melakukan semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. 

Setelah operasi, dokter akan memastikan bahwa lengan atau kaki Anda terangkat, untuk membantu meningkatkan sirkulasi darah.

Jika Anda memiliki risiko pembekuan darah yang tinggi, dokter mungkin akan mengamati dan memantau Anda menggunakan scan ultrasound serial duplex. 

Obat pelarut gumpalan darah yang disebut trombolitik dapat digunakan jika Anda memiliki risiko tinggi untuk pulmonary embolism (PE) atau deep vein thrombosis (DVT). Obat-obatan tersebut akan disuntikkan ke aliran darah Anda.

Perubahan gaya hidup sebelum operasi juga dapat membantu. Hal tersebut mungkin termasuk berhenti merokok atau melakukan program olahraga secara teratur.

Setelah operasi pastikan Anda bergerak sebanyak mungkin. Bergerak dapat mengurangi kemungkinan Anda mengalami pembekuan darah. 

Dokter juga dapat merekomendasikan penggunaan stoking kompresi. Stoking kompresi dapat membantu mencegah pembengkakan pada kaki.


9 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Schulte, Leah & O'Brien, Joseph & Bean, Matthew & Pierce, Todd & Yu, Warren & Meals, Clifton. (2013). Deep Vein Thrombosis and Pulmonary Embolism After Spine Surgery: Incidence and Patient Risk Factors.. American journal of orthopedics (Belle Mead, N.J.). 42. 267-270.. ResearchGate. (Accessed via: https://www.researchgate.net/publication/242334740_Deep_Vein_Thrombosis_and_Pulmonary_Embolism_After_Spine_Surgery_Incidence_and_Patient_Risk_Factors)
Muleledhu, Andrew & Galukande, Moses & Makobore, Patson & Mwambu, Tom & Ameda, Faith & Kiguli-Malwadde, Elsie. (2013). Deep venous thrombosis after major abdominal surgery in a Ugandan hospital: a prospective study. International journal of emergency medicine. 6. 43. 10.1186/1865-1380-6-43.. ResearchGate. (Accessed via: https://www.researchgate.net/publication/259001757_Deep_venous_thrombosis_after_major_abdominal_surgery_in_a_Ugandan_hospital_a_prospective_study)
Ali-El-Dein, Bedeir. (2012). Deep Venous Thrombosis After Radical Pelvic Surgery. 10.5772/32371.. ResearchGate. (Accessed via: https://www.researchgate.net/publication/221927429_Deep_Venous_Thrombosis_After_Radical_Pelvic_Surgery)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app