Memahami Kemungkinan Terjadinya Gangguan Psikotik pada Penyintas COVID-19

Dipublish tanggal: Mar 2, 2021 Update terakhir: Jun 21, 2021 Waktu baca: 3 menit
Memahami Kemungkinan Terjadinya Gangguan Psikotik pada Penyintas COVID-19

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Salah satu efek psikologis yang menyerang penderita COVID-19 meski jarang terjadi adalah gangguan psikotik
  • Gangguan psikotik atau psikosis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan kesulitan membedakan kenyataan (realitas) dan imajinasi
  • Gejala gangguan psikotik yang pernah dilaporkan terjadi pada penderita atau penyintas COVID-19 adalah halusinasi dan delusi
  • Umumnya, gangguan psikotik bisa diobati dengan beberapa cara, seperti terapi rapid tranquilization, pemberian obat, dan terapi perilaku kognitif
  • Klik untuk membeli obat saraf dan otak lainnya dari rumah Anda melalui HDmall. *Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia dan bisa COD
  • Lakukan tes COVID-19 dan pemeriksaan kesehatan baik di klinik maupun di rumah dengan harga khusus dan promo menarik hanya melalui HDmall

Pandemi COVID-19 yang belum hanya berdampak pada kesehatan fisik saja, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Salah satu efek psikologis yang menyerang penderita COVID-19 meski jarang terjadi adalah gangguan psikotik

Apa itu gangguan psikotik?

Gangguan psikotik atau psikosis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan kesulitan membedakan kenyataan (realitas) dan imajinasi. Gangguan psikotik ini biasanya justru dialami oleh penyintas COVID-19. Gejala gangguan psikotik yang pernah dilaporkan terjadi adalah:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31
  • Halusinasi. Orang yang mengalami gangguan psikotik dengan gejala halusinasi biasanya akan melihat, mendengar, merasakan, atau bahkan mencium sesuatu yang sebenarnya tak nyata dan tidak diketahui orang lain. Contohnya adalah suara orang berteriak minta tolong padahal tidak ada orang di sekitar.
  • Delusi. Gejala delusi pada penderita gangguan psikotik ditandai dengan keyakinan yang tinggi akan sesuatu yang terbukti tidak benar. Misalnya, memercayai bahwa dirinya akan dibunuh karena telah diikuti oleh orang jahat dan akan meninggal akibat diberi racun.

Beberapa gejala gangguan psikotik lain yang bisa diperhatikan adalah:

  • Sulit diajak berbicara karena pembicaraan tidak jelas
  • Berperilaku aneh bahkan cenderung berbahaya
  • Mengalami gangguan tidur dan sulit berkonsentrasi
  • Melakukan gerakan yang tidak biasa atau lebih lambat
  • Perubahan suasana hati yang memburuk

Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan psikotik dapat menimbulkan pengaruh yang buruk dan bahkan membahayakan nyawa diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini berisiko membuat penderitanya menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Baca selengkapnya: Kenali 3 Jenis Psikosis yang Paling Umum dan Gejalanya

Mengapa pasien COVID-19 bisa mengalami gangguan psikotik?

Secara umum, penyebab utama gangguan psikotik atau psikosis adalah gangguan pada otak yang bisa saja dipicu oleh masalah kesehatan lain, seperti tumor otak, stroke, infeksi otak, hingga Alzheimer. 

Sejumlah ahli kesehatan memperkirakan bahwa gangguan pada otak itu berkaitan dengan efek peradangan di tubuh, gangguan pembuluh darah, maupun akibat respons sistem imun tubuh terhadap virus corona.

Dari sejumlah laporan kesehatan yang dirilis, sebagian besar pasien COVID-19 yang mengalami gangguan psikotik tersebut hanya menderita beberapa gejala fisik ringan dan umumnya tidak memiliki riwayat penyakit mental.

Iklan dari HonestDocs
Beli Perlengkapan New Normal via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 1

Tak hanya itu, sebuah studi yang diterbitkan pada November 2020 di Inggris memaparkan bahwa sekitar 20% penyintas didiagnosis mengidap gangguan mental lain seperti gangguan kecemasan dan depresi. Diagnosis ini ditegakkan setidaknya 90 hari setelah orang tersebut dinyatakan terinfeksi virus corona. Para peneliti pun mengemukakan bahwa pasien COVID-19 yang berusia 65 tahun ke atas lebih berisiko terserang demensia.

Baca juga: Ini Alasan Kita Harus Tetap Waspada meski Vaksin COVID-19 Sedang Didistribusikan

Cara mengatasi gangguan psikotik pada penderita Covid 19

Gangguan psikotik dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang, termasuk kesulitan melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Masalahnya, hingga  saat ini belum diketahui secara pasti berapa lama kondisi tersebut dapat menyerang seorang pengidap atau penyintas COVID-19. 

Walau pengobatan gangguan psikotik khusus pengidap atau penyintas COVID-19 masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, secara umum kondisi ini dapat diatasi dengan cara berikut:

  • Terapi rapid tranquilization yang bekerja dengan cara memberikan suntikan penenang ke tubuh pasien
  • Pemberian obat antipsikotik untuk mengurangi gejala halusinasi atau delusi
  • Terapi perilaku kognitif yang ditujukan untuk mengubah cara pikir dan perilaku penderita psikosis

Jika mengalami gejala gangguan psikotik, kamu disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter, psikolog, ataupun psikiater. Informasikan pula kondisi ini ke orang terdekat untuk mencegah kondisi yang mungkin lebih parah di kemudian hari. Lakukan tindakan serupa jika kamu menyadari orang lain--termasuk penyintas COVID--yang mengalami gangguan psikotik.

Atur waktu untuk melakukan berbagai aktivitas yang dapat mendukung kesehatan mental, seperti olahraga, yoga, relaksasi, maupun melakukan hobi. Pastikan aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan di dalam rumah atau sebisa mungkin tidak membutuhkan kontak langsung dengan orang lain.  

Terapkan juga pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, minum air putih yang cukup, dan tidur sekitar 7-8 jam setiap malam untuk menjaga daya tahan tubuh.

Baca juga: 7 Tips Tetap Sehat Secara Mental Saat Menghadapi Fase 'New Normal'

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Healthline. Psychosis: Symptoms, Causes, and Risk Factors. (https://www.healthline.com/health/psychosis)
NYTimes. Small Number of Covid Patients Develop Severe Psychotic Symptoms. (https://www.nytimes.com/2020/12/28/health/covid-psychosis-mental.html)​

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app