Penyebab Kecanduan Nikotin dan Cara Mengatasinya

Dipublish tanggal: Jul 2, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Jul 20, 2019 Waktu baca: 3 menit
Penyebab Kecanduan Nikotin dan Cara Mengatasinya

Rata-rata perokok yang ada di Indonesia menghabiskan sebanyak 12,4 batang rokok setiap hari. Bertambahnya jumlah rokok yang diisap setiap hari tentu tidak lepas dari pengaruh nikotin. Ya, salah satu kandungan tersebut seakan menjadi perangkap bagi para perokok hingga mengalami kecanduan nikotin.

Bagaimana cara kerja nikotin?

Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, perokok aktif yang ada di Indonesia mulai dari usia 10 tahun ke atas berkisar hingga 66 juta orang. Ini artinya, jumlah perokok aktif di Indonesia lebih dari 10 kali lipat dari total penduduk Singapura.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Bahkan yang mengejutkan adalah tingginya angka kematian yang disebabkan oleh rokok di Indonesia hingga mencapai 200 ribu kasus per tahunnya. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kandungan dalam rokok, salah satunya nikotin si penyebab candu.

Ketika seseorang menghirup asap rokok, nikotin akan disuling dari tembakau lalu dibawa oleh partikel asap. Asap ini diserap cepat oleh kantung udara di paru-paru yang mengandung kaya pembuluh darah, atau disebut dengan alveoli. Partikel nikotin tersebut kemudian akan memasuki peredaran darah arteri dan bergerak menuju otak.

Baca Juga: Bahaya Kandungan Rokok yang Tinggal Dalam Tubuh

Sebetulnya, tidak mudah bagi nikotin untuk mengalir ke jaringan otak, sebab otak terdiri dari jaring-jaring pembuluh darah (blood brain barrier). Namun, pada dosis tinggi dan paparan jangka panjang, sifat radikal bebas yang dimiliki nikotin dapat menembus lapisan. Akibatnya, nikotin dapat masuk ke sel-sel otak dan memengaruhi neurotransmitter. 

Salah satu neurotransmitter adalah dopamin, yang berfungsi untuk meningkatkan suasana hati dan mengaktifkan perasaan senang. Nah, hal inilah yang membuat seseorang terus merasa kecanduan nikotin, karena tiap kali merokok, nikotin itu sendiri yang menimbulkan rasa bahagia.

Efek ketergantungan nikotin berkaitan dengan beberapa perilaku dan faktor fisiologis, seperti berikut: 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5
  • Kebiasaan merokok di waktu-waktu tertentu. Misalnya, merokok sambil minum kopi ataupun merokok pada saat jam istirahat kerja.
  • Setelah makan.
  • Berbarengan dengan minum alkohol.        
  • Tempat-tempat dan orang-orang tertentu.
  • Ketika menelpon.
  • Ketika merasa sedih.
  • Melihat orang lain merokok dan mencium bau rokok.
  • Ketika sedang berkendara.

Bila diperhatikan, hasrat dan kebutuhan untuk merokok biasanya menjadi pelampiasan saat suasana hati sedang kacau, stres, atau mengisi waktu luang. Maka tak heran jika para perokok jadi terus-terusan kecanduan nikotin karena efek fisiologis ini.

Apa tanda dan gejala kecanduan nikotin?

Sebagian orang merasa sangat mudah kecanduan nikotin meskipun jarang merokok atau hanya merokok dalam jumlah sedikit. Sejumlah tanda dan gejala kecanduan nikotin antara lain:

  • Tidak bisa berhenti merokok, meskipun telah mencoba beberapa kali untuk berhenti.
  • Mengalami gejala nicotine withdrawl saat berhenti merokok, seperti kecemasan, mudah marah, insomnia, gangguan mood, dan tidak nafsu makan.
  • Tetap merokok tanpa peduli pada masalah kesehatan yang sedang dialami.
  • Lebih penting merokok daripada melakukan hal lain, seperti aktivitas sosial atau kehidupan sehari-hari yang lebih penting.

Bagaimana cara mengobati kecanduan nikotin?

Beberapa cara berikut ini terbukti ampuh mengobati kecanduan nikotin, antara lain:

1. Produk alternatif nikotin

Aad beberapa produk alternatif nikotin yang bisa membantu Anda mengurangi hasrat merokok, dikenal dengan Nicotine Replacement Therapy (NRT). Produk ini tersedia dalam 2 bentuk, yaitu permen karet nikotin atau koyo nikotin. Keduanya sama-sama yang dapat digunakan untuk membantu mengalihkan kebutuhan terhadap nikotin dan meringankan efek sakau dari berhenti merokok.

Terapi menggunakan NRT memiliki efek samping yang rendah. Hal ini dikarenakan produk tersebut tidak menghasilkan efek menyenangkan dan menenangkan seperti yang Anda dapatkan dari produk tembakau. 

Keunggulan lainnya, produk alternatif nikotin tidak mengandung senyawa karsinogenik dan polutan yang biasa dikaitkan dengan asap rokok. Dengan demikian, produk ini aman bagi kesehatan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

2. Obat resep dokter

Obat resep dokter seperti bupropion dan varenicline juga dapat membantu mengatasi kecanduan nikotin. Kedua obat tersebut hanya dapat digunakan di bawah pengawasan dokter dan harganya cenderung lebih mahal.

Bupropion adalah obat antidepresan yang dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok. Bupropion biasanya digunakan dalam jangka waktu 4-8 minggu. Bila digunakan secara rautin, obat ini diketahui dapat menghentikan hasrat merokok setidaknya selama 6 bulan. 

Meski demikian, ada sejumlah efek samping bupropion yang mungkin terjadi pada diri Anda. Efek samping tersebut berupa insomnia dan mulut kering.

Sedangkan varenicline adalah obat yang dapat memblokir asupan nikotin sebelum sampai ke membran otak. Hal ini berfungsi untuk membantu menurunkan keinginan untuk merokok. 

Banyak studi yang membuktikan bahwa varenicline lebih efektif dalam membantu seseorang berhenti merokok. Tak hanya itu, varenicline juga dapat mengurangi gejala kecanduan nikotin dan mencegahnya kambuh kembali.

Bahkan obat jenis ini pun mampu memblokir efek nikotin ketika Anda ingin merokok kembali. Dengan demikian, Anda bisa berhenti merokok sedikit demi sedikit sampai benar-benar menghentikan kebiasaan buruk ini.

 Baca Juga: Vape Tanpa Nikotin, Benarkah Lebih Aman dari Efek Samping?

28 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Secondhand Smoke (SHS) Facts. U.S. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/secondhand_smoke/general_facts/index.htm.
Parker MA, et al. Higher smoking prevalence among United States adults with co-occurring affective and drug use diagnoses. Addictive Behaviors. 2019; doi: 10.1016/j.addbeh.2019.106112.
Tobacco and kids. American Academy of Child & Adolescent Psychiatry. http://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Tobacco-And-Kids-068.aspx.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app