Atresia Ani - Penyebab, Gejala dan, Pengobatan

Update terakhir: Mar 7, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 815.326 orang

Atresia ani adalah cacat lahir yang terjadi pada saat bayi masih tumbuh di dalam kandungan. Kecacatan ini menyebabkan bayi memiliki anus yang berkembang secara tidak normal

sehingga menyebabkan ketidakmampuan untuk buang air besar dengan baik melalui rektum untuk keluar dari tubuh. Kondisi ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun perempuan. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Pada bayi perempuan yang mengalami atresia ani sering terjadi penggabungan rektum, kandung kemih, dan vagina dengan satu saluran pembuangan. 

Satu saluran pembuangan ini disebut kloaka. Kondisi ini berkembang sejak dalam kandungan pada minggu ke lima hingga ke tujuh. Penyebabnya masih belum diketahui. 

Akibat dari atresia ani, masalah yang muncul antara lain; lubang anus yang terlalu sempit, lubang anus tertutup jaringan atau membran, rektum tidak menyambung dengan anus, dan rektum terhubung dengan saluran urin atau saluran sistem reproduksi. 

Seringkali, bayi yang memiliki kondisi ini juga memiliki kecacatan lain pada rektumnya. Dokter dapat mendiagnosa setelah proses kelahiran. 

Kondisi ini termasuk kondisi serius dan memerlukan penanganan segera. Kebanyakan bayi akan menjalani operasi untuk memperbaiki kecacatan ini.

Gejala Penyakit Atresia Ani

Tanda dan gejala atresia ani biasanya terlihat sejak kelahiran, antara lain:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01
  • Tidak terdapat lubang anus
  • Lubang anus terletak di tempat yang salah, misalnya terlalu dekat dengan vagina
  • Feses keluar dari tempat yang salah, seperti dari uretra, vagina, buah zakar, atau dari dasar penis
  • Perhubungan yang tidak normal atau fistula antara rektum dengan sistem reproduksi atau saluran urin
  • Feses tidak keluar pada 24 hingga 48 jam pertama setelah kelahiran
  • Perut mengalami pembengkakan.

Beberapa bayi yang mengalami atresia ani juga mengalami ketidaknormalan, seperti:

  • Cacat ginjal dan saluran urin
  • Cacat pada trakea (batang tenggorokan)
  • Cacat pada tangan atau kaki
  • Ketidaknormalan pada tulang belakang
  • Cacat pada esofagus
  • Sindrom down, yaitu kondisi kromosom yang berhubungan dengan penundaan kognitif, disabilitas intelektual, karakteristik wajah dan kelemahan otot
  • Atresia duodenal, yaitu perkembangan yang tidak tepat pada bagian pertama usus kecil
  • Penyakit Hirchsprung, yaitu kehilangan sel saraf pada usus besar
  • Cacat jantung bawaan.

Penyebab Penyakit Atresia Ani

Bayi yang masih berkembang di dalam rahim ibu, akan menumbuhkan dan mengembangkan organ maupun sistem organ yang berbeda. Saluran usus bagian ujung bawah terbentuk pada masa kehamilan awal. 

Pada bayi yang belum lahir, usus besar bagian bawah dan saluran urin merupakan satu kesatuan massa sel. Beberapa langkah pertumbuhan harus terjadi pada tiga bulan pertama kehamilan atau gestasi. 

Langkah ini diperlukan agar anus dan rektum terlepas dari saluran urin dan tumbuh secara tepat. Kadangkala, langkah ini tidak terjadi secara seharusnya. Penyebab tidak terjadinya langkah ini masih belum diketahui.

Diagnosa Penyakit Atresia Ani

  • X-ray pada perut
  • Ultrasound pada perut.
  • CT-scan
  • MRI
  • Lower GI atau gastrointenstinal series,
    atau sering disebut dengan barium enema. Tes ini mengecek rektum, usus besar, dan bagian bawah usus kecil. Suatu cairan berwarna logam yang disebut barium dimasukkan ke dalam rektum dalam bentuk enema.

    Barium akan melapisi organ bagian dalam sehingga akan terlihat di x-ray. X-ray pada perut akan memperlihatkan area yang mengalami penyempitan yang disebut striktur, penghalang atau masalah lainnya
  • Upper GI atau gastrointestinal series,
    yang umum disebut barium telan. Tes ini memeriksa sistem pencernaan bagian atas, termasuk esofagus, perut dan bagian pertama usus kecil yang disebut duodenum. Barium akan ditelan, sehingga melapisi organ sistem pencernaan bagian atas sehingga terlihat di x-ray.

Penanganan Penyakit Atresia Ani

Penanganan atresia ani bergantung pada hal berikut:

  • Tingkat keparahan
  • Pendapat dokter tentang penyakit tersebut
  • Ekspektasi penanganan terhadap penyakit
  • Keinginan dan pendapat pasien
  • Kesehatan secara menyeluruh anak dan riwayat medis

Kebanyakan balita yang mengalami atresia ani akan ditangani dengan operasi untuk memperbaiki masalahnya. Tipe dan banyaknya jumlah operasi yang diperlukan tergantung pada tingkat ketidaknormalan yang dialami balita, termasuk hal-hal berikut:

  • Jalur anus yang sempit. Balita yang mengidap tipe atresia ani yang menyebabkan jalur anus menjadi sempit tidak memerlukan operasi. Prosedur yang disebut dilatasi anus dapat dilakukan secara bertahap sehingga otot anus dapat meregang sehingga feses bisa lewat.
  • Membran pada anus. Balita yang memiliki atresia ani tipe membran perlu melakukan operasi untuk menghilangkan membran.
  • Ada atau tidaknya hubungan antra rektum/anus, dengan atau tanpa fistula.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit