Merokok Buat Penyakit Asam Lambung Siap Menyerang Kapan Saja

Dipublish tanggal: Mei 25, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Merokok Buat Penyakit Asam Lambung Siap Menyerang Kapan Saja

Sudah banyak orang yang tahu, bahwa merokok dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit baru maupun memperparah penyakit lama. Namun hal ini tidak digubris oleh banyak orang, termasuk perokok aktif

Padahal hal seperti ini seharusnya diperhatikan dengan baik dan haruslah menjaga kesehatan tubuh dengan sebaik mungkin agar tidak menderita penyakit serius akibat rokok.

Selain menyerang bagian paru, ternyata rokok juga sering kali mengganggu penyakit asam lambung atau sering kali dikenal sebagai GERD atau Gastroesophageal reflux disease. 

Pada kondisi GERD inilah, asam lambung akan naik menuju kerongkongan yang menghubungkan antara lambung dengan mulut, sehingga hal ini menimbulkan rasa terbakar pada bagian dada dan menimbulkan gejala yang lainnya.

Penyebab Penyakit Asam Lambung Lebih Rentan Menyerang Perokok Aktif

GERD masuk sebagai jenis penyakit kronis atau parah. Hal ini dikarenakan penyakit jenis ini dapat muncul 1 sampai dengan 2 kali setiap minggunya. Sedangkan asam lambung lebih rentan menyerang perokok aktif, hal ini dikarenakan beberapa hal, diantaranya:

1. Merokok dapat mengurangi produksi air liur

Air liur yang diproduksi oleh perokok aktif akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Hal ini dikarenakan adanya berbagai jenis kandungan yang ada di dalam rokok, sehingga membuat mulut cenderung lebih kering. 

Sedangkan air liur memiliki fungsi sebagai penetralan asam bikarbonat untuk melawan efek asam lambung maupun GERD.

Air liur yang kita telan memiliki kegunaan sebagai penetralan asam yang ada di dalam kerongkongan akibat refleks. Apabila produksi air liur sedikit, maka Anda akan rentan terhadap penyakit asam lambung.

2. Nikotin dalam rokok bisa mengendurkan otot polos

Dalam tubuh terdapat otot polos yang mana, apabila jika terlalu banyak Anda menghisap nikotin, maka otot polos dalam tubuh akan mengendur. 

Sedangkan otot yang ada di bagian bawah kerongkongan yaitu Spinchter esofagus memisahkan kerongkongan dengan lambung maupun di dalam otot polos.

Spinchter memiliki fungsi sebagai pengatur jalannya makanan menuju lambung serta memberikan pencegahan asam masuk pada kerongkongan. 

Namun sayangnya kandungan nikotin dapat menimbulkan spichter berubah menjadi mengendur, sehingga menjadikan asam lambung memiliki risiko naik menuju kerongkongan dan akhirnya menimbulkan GERD.

3. Produksi asam lambung semakin meningkat

Merokok bisa mendorong bagian perut agar memproduksi asam lambung semakin banyak lagi. hal ini secara tidak langsung menyebabkan asam lambung berpeluang untuk naik menuju kerongkongan semakin banyak. 

Jika hal ini terus terjadi, maka bisa menimbulkan penyakit GERD semakin besar pula.

4. Rokok mengganggu sistem kerja otot

Semakin banyak Anda mengkonsumsi rokok, maka hal ini akan semakin mengganggu sistem kerja dari otot tubuh Anda sendiri, hal ini lah yang akan memindahkan makanan ke bagian kerongkongan. 

Padahal otot tubuh memiliki kegunaan dalam membersihkan bagian kerongkongan dari adanya asam yang telah merusak. Selain itu, bagian selaput lendir pun juga akan memberikan perlindungan pada bagian kerongkongan dari adanya kerusakan. 

Untuk itu, merokok memang dapat menimbulkan hal buruk yang dapat mengganggu pada kesehatan tubuh Anda.

Merokok memang tidak akan memberikan dampak yang positif, justru akan memberikan dampak negatif. Sedangkan rokok hanya memberikan kenikmatan sesaat, sedangkan dampak yang diterimanya sangatlah membahayakan bagi kesehatan tubuh. 

Untuk itu, mulailah untuk menghentikan kebiasaan merokok Anda. Terlebih lagi bagi Anda yang sering kali memiliki permasalahan dalam hal asam lambung. Karena jika dibiarkan akan memperparah kondisi lambung Anda.


12 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app