Rokok vs Vape, Mana yang Lebih Diminati di Indonesia?

Dipublish tanggal: Mei 29, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Tinjau pada Jun 20, 2019 Waktu baca: 6 menit
Rokok vs Vape, Mana yang Lebih Diminati di Indonesia?

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 31 Mei. Gerakan ini dilakukan dengan tujuan mengajak para perokok untuk sejenak 'puasa' dari kebiasaan mengisap rokok selama 24 jam penuh. Tentu saja, ini diharapkan bisa menjadi awal yang baik untuk menghentikan kebiasaan merokok demi kesehatan.

Meskipun sudah diketahui membahayakan kesehatan, ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang suka merokok, baik dengan rokok batangan maupun rokok elektrik (vape). Di antara keduanya, mana yang paling banyak diminati di Indonesia? Mari simak hasil survei Honestdocs berikut ini.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Jumlah perokok di Indonesia berdasarkan jenis kelamin

Tim Honestdocs telah melakukan survei terhadap 10.559 responden mengenai penggunaan rokok di Indonesia. Responden yang berpartisipasi terdiri dari 72% pria dan 28% wanita yang sebagian besar tergolong usia produktif, yaitu 18-34 tahun.

Dari seluruh responden yang terlibat, ternyata hanya 10% dari total responden yang aktif merokok. Perokok didominasi oleh kaum pria, baik dari usia produktif maupun tidak produktif, bahkan persentase perokok pria pada usia 45-54 tahun mencapai 72%. 

Sementara itu jika dilihat secara keseluruhan (dari segala umur), sebanyak 50% pria punya kebiasan merokok dan hanya 26% wanita mengaku memiliki kebiasaan merokok. 

Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 2016, bahwa jumlah perokok pria lebih banyak daripada perokok wanita. Hal ini mungkin karena rokok dianggap sebagai tren dan standar kejantanan, sehingga pria lebih mudah tergoda untuk merokok.

Jumlah perokok di Indonesia berdasarkan usia

Dilihat dari grafik usia responden, jumlah perokok di Indonesia terus meningkat dari usia muda hingga usia 54 tahun. Bahkan, kebiasaan merokok paling banyak terjadi pada usia dewasa 45-54 tahun (69%) dan usia 35-44 tahun (61%).

Pada responden usia 55-64 tahun, jumlah perokok mulai mengalami penurunan cukup drastis, yaitu 36%. Hal ini diduga karena semakin bertambahnya usia, masyarakat mulai sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Salah satu caranya yang dilakukan adalah dengan menghentikan kebiasaan merokok.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Penduduk kota ternyata lebih banyak yang merokok

Tak hanya melihat dari segi usia dan jenis kelamin, tim Honestdocs juga membagi responden berdasarkan tempat tinggalnya, yaitu Kota Jakarta dan luar Kota Jakarta.

Dari data yang terkumpul, diketahui bahwa jumlah perokok di Kota Jakarta lebih banyak (65%) daripada perokok di luar Kota Jakarta (49%).

Hal ini mungkin karena tuntutan hidup di Kota Jakarta jauh lebih besar daripada di luar Jakarta sehingga meningkatkan risiko stres. Bagi sebagian orang, merokok menjadi salah satu cara instan untuk mengatasi stres.

Sementara itu, lima provinsi teratas dengan jumlah perokok paling banyak berdasarkan hasil survei Honestdocs adalah:

  1. Riau (80%)
  2. Kalimantan Barat (75%)
  3. Sumatera Selatan (67%)
  4. DKI Jakarta (65%)
  5. Jawa Tengah (64%)

Rokok vs vape, mana yang paling banyak diminati?

Tren rokok elektrik alias vape kini telah merajalela, bahkan sudah akrab di kalangan remaja. Hal ini karena asap vape dianggap tidak terlalu menusuk asap rokok, sehingga vape dipercaya lebih sehat daripada rokok batangan.

Faktanya, popularitas vape tetap tidak dapat menggantikan rokok. Hal ini dibuktikan oleh survei tim Honestdocs, bahwa sekitar 43% responden lebih menyukai rokok daripada vape (22%). Namun, ada juga yang menggunakan rokok batangan dan vape secara bergantian, yaitu sebanyak 35% responden.

Iklan dari HonestDocs
Beli Antidot via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 17

Pengguna vape terbukti lebih disukai oleh remaja usia muda, yaitu usia 12-17 tahun (34%). Bahkan uniknya lagi, kebanyakan pengguna vape berasal dari kaum wanita (26%) daripada pria (18%).

Remaja mulai banyak yang melirik rokok elektrik alias vape ketimbang rokok batangan. Mereka mungkin menduga bahwa vape cenderung lebih aman bagi kesehatan. Sebab dari asapnya saja, bau asap vape tidak terlalu menusuk daripada asap rokok batangan.

Padahal, apa pun jenis rokok yang Anda pilih, keduanya sama-sama membahayakan kesehatan. Kandungan nikotin dalam rokok elektrik dapat menyebabkan kecanduan. Belum lagi dengan kandungan zat-zat berbahaya lainnya yang dapat merusak otak remaja dan anak-anak, bahkan memicu kanker.

Walaupun terkadang bau asap rokok elektrik tidak terlalu menusuk, namun asap yang terhirup tetap dapat meracuni paru-paru. Hal ini bisa menghambat pernapasan dan menyebabkan mata perih.

Baca Selengkapnya: 16 Penyakit Berbahaya Akibat Merokok

Rokok elektrik lebih banyak digunakan di luar Jakarta

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tim Honestdocs menemukan bahwa jumlah perokok di Kota Jakarta cenderung lebih banyak daripada di luar Kota Jakarta. Hal ini merupakan kombinasi antara perokok yang mengisap rokok batangan maupun vape.

Namun bila dilihat dari jenis rokoknya, ternyata rokok elektrik lebih populer di luar Kota Jakarta. Buktinya, sebanyak 20% responden asal luar Jakarta menggunakan vape dan 25% lainnya menggunakan vape dan rokok batangan secara bersamaan.

Hal ini mungkin karena vape dianggap lebih menyehatkan daripada rokok batangan. Terlebih lagi, persebaran rokok di luar Jakarta mungkin tidak semasif Kota Jakarta sehingga masyarakat luar Jakarta beralih ke rokok elektrik alias vape.

Baca Juga: Rokok Elektrik vs Shisha, Mana yang Lebih Berbahaya?

Meski banyak diminati, masyarakat Indonesia mulai berniat berhenti merokok

Dalam memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh setiap tanggal 31 Mei, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) terus berupaya menekan jumlah perokok aktif, khususnya di Indonesia. Mulai dari penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pembatasan iklan-iklan rokok di berbagai media, hingga sosialisasi bahaya rokok bagi kesehatan.

Melalui survei yang dilakukan oleh tim Honestdocs, sebanyak 69% responden pria dan wanita mengaku berencana untuk berhenti merokok. Di sisi lain, sebanyak 31% responden lainnya belum terpikir untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut.

Meskipun rokok identik dengan kaum pria, ternyata sebanyak 60% perokok pria sudah berniat berhenti merokok. Sementara itu, hanya 49% perokok wanita yang ingin berhenti merokok.

Apa alasan masyarakat ingin berhenti merokok?

Jika biasanya kesadaran hidup sehat mulai dirasakan setelah dewasa, tim Honestdocs justru menemukan sebaliknya. 

Uniknya, responden perokok yang ingin berhenti merokok paling banyak berasal dari kalangan usia muda, yaitu usia 18-24 tahun (66%). Orang dewasa pun memiliki niat yang sama, bahwa sebanyak 69% responden usia 45-54 tahun ingin berhenti merokok.

Setelah ditelusuri lebih jauh, setiap orang mempunyai alasannya tersendiri mengapa mereka ingin berhenti merokok. Penyebab paling banyak adalah responden ingin menjaga kesehatannya dan menghindari bahaya merokok. Ada juga yang ingin berhenti merokok dengan alasan ingin menghemat pengeluaran.

Terlepas dari apa pun alasannya, niat untuk berhenti merokok sudah menjadi awal yang baik. Dibutuhkan konsistensi lebih lanjut supaya responden benar-benar bisa menghentikan kebiasaan buruk tersebut.

Tips ampuh berhenti merokok sejak dini

Berhenti merokok bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Berikut berbagai cara berhenti merokok yang mudah dan efektif, di antaranya:

1. Kuatkan niat

Pertama-tama, bulatkan niat Anda terlebih dahulu. Pasalnya, semua cara bisa jadi sia-sia bila Anda sendiri tidak benar-benar niat berhenti merokok.

2. Lakukan secara bertahap

Hampir tidak mungkin rasanya jika seorang perokok akan langsung bisa berhenti merokok secara total. Sebaiknya, lakukan pelan-pelan supaya tubuh Anda tidak 'kaget' dengan penurunan efek nikotin dalam tubuh.

Kalau biasanya Anda bisa menghabiskan berbungkus-bungkus rokok setiap hari, coba kurangi menjadi beberapa batang. Terus lakukan sampai Anda terbiasa dan bisa berhenti merokok sepenuhnya.

3. Alihkan dengan makanan bergizi

Bagi perokok aktif, mulut kadang terasa hambar bila sehari saja tanpa merokok. Nah, bagi Anda yang ingin berhenti merokok, coba alihkan hasrat tersebut dengan ngemil sehat.

Konsumsi camilan sehat seperti potongan buah pir, apel, pisang, atau jeruk bisa meredam hasrat merokok. Bisa juga dengan mengisap permen mint atau mengunyah permen karet untuk menggantikan rokok.

Baca Juga: Cara Menghentikan Alasan dan Godaan Merokok Lagi

2 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Vaping versus Smoking: A Quest for Efficacy and Safety of E-cigarette. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29485005)
Can vaping damage your lungs? What we do (and don’t) know. Harvard Health. (https://www.health.harvard.edu/blog/can-vaping-damage-your-lungs-what-we-do-and-dont-know-2019090417734)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app