Jenis Afasia yang Bisa Terjadi Setelah Stroke

Dipublish tanggal: Mei 30, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Jenis Afasia yang Bisa Terjadi Setelah Stroke

Afasia adalah kondisi gangguan bahasa yang sering terjadi setelah seseorang terserang stroke pada bagian otak yang berfungsi untuk mengontrol kemampuan bahasa. 

Kondisi ini bisa mempengaruhi kemampuan berbahasa termasuk kemampuan berbicara dan kemampuan untuk memahami bahasa, serta kemampuan lain yang berhubungan dengan bahasa seperti menulis dan membaca. Lebih dari 20% penderita stroke juga akan mengalami afasia. Berikut ini beberapa jenis afasia yang perlu Anda ketahui. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Afasia Global

Jenis afasia ini secara umum adalah dampak dari kerusakan otak yang cukup lama yang melibatkan bagian Wernicke dan broca. Penderita afasia global ini tidak mampu memahami ujaran dan berbicara namun pada beberapa kasus masih bisa menggunakan bahasa tulisan. 

Afasia Transkortikal Motorik

Gangguan bahasa ini hampir sama dengan afasia broca dimana penderita tidak bisa berbicara secara spontan. Penderita afasia transkortikal motorik ini tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan karena tidak bisa membentuk kata-kata. 

Namun, bila diminta untuk mengulangi perkataan orang lain mereka bisa melakukannya. Kondisi ini juga sering disebut sebagai ujaran telegrafik dan disebabkan karena stroke pada bagian depan broca. 

Afasia Transkortikal Sensorik

Jenis afasia ini termasuk langka karena penderitanya tidak bisa memahami apa yang dikatakan orang lain namun mampu berbicara dengan lancar. Meskipun mereka bisa mengulang kata atau kalimat yang dikatakan orang lain, namun penderita afasia ini tidak memahami maknanya. 

Jenis Afasia ini disebabkan oleh cedera pada bagian otak di sekitar Wernicke yaitu bagian otak yang berperan dalam pemahaman bahasa. 

Afasia Transkortika Campuran

Penderita afasia transkortika campuran ini tidak bisa berbicara dan memahami apa yang dikatakan orang lain namun mampu mengulang kata atau kalimat serta menyanyikan lagu yang didengar. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Afasia ini juga termasuk jenis yang langka karena disebabkan bagian Wernicke dan broca yang terisolasi dari sistem bahasa yang lain sebagai akibat dari kerusakan bagian otak disekitarnya.

Afasia Wernicke

Afasia Wernicke diberi nama sesuai dengan penemu bagain otak yang berfungsi untuk memahami bahasa. Sehingga penderita afasia Wernicke ini tidak bisa memahami apa yang dibicarakan bahkan memahami apa yang mereka bicarakan sendiri. 

Perkataan orang yang terkena afasia Wernicke tidak bisa dipahami karena mereka membuat kalimat dengan susunan yang acak atau disebut sebagai logorrhea. Namun, penderita afasia ini tetap merasa bila orang lain akan mengerti perkataan mereka. 

Kondisi ini biasanya disebabkan karena kurangnya kewaspadaan pada gangguan bahasa atau anosagnosia. Setelah beberapa saat, penderita afasia ini akan mulai sadar bila orang lain sebenarnya tidak memahami apa yang dibicarakan dan hal ini akan membuat merkea frustasi, marah, bahkan depresi

Afasia Broca

Afasia broca ini disebut sebagai afasia motorik yang menekankan pada produksi bahasa yang terganggu sedangan aspek lainnya tidak ada masalah. Saat terkena serangan stroke, bagian broca di otak mendapatkan gangguan aliran darah melalui pelmbuluh darah yang bertugas untuk menyuplai oksigen dan nutrisi ke bagian ini. 

Beberapa pembuluh darah yang mempengaruhi afasia broca ini juga membawa darah ke bagian lain yang berfungsi mengontrol tubuh bagian lain, maka biasanya afasia ini juga dibarengi dengan gangguan lain seperli hemiplegia atau hemiparesis, Alexia, dan agraphia. 

Secara umum, afasia menyebabkan ketidakmampuan seeorang dalam membentuk kata atau kalimat dengan jelas. Meskipun begitu mereka masih memahami apa yang dibicarakan oleh orang lain. Penderita afasia ini tidak sedikit yang mengalami frustasi karena tidak bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran mereka melalui kata-kata. 

3 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Aphasia (Speech Problems): Types, Causes, Symptoms, Treatments. WebMD. (https://www.webmd.com/brain/aphasia-causes-symptoms-types-treatments)
Dysphasia vs. Aphasia: What’s the Difference?. Healthline. (https://www.healthline.com/health/dysphasia)
Aphasia: Symptoms, diagnosis, and learning to communicate again. Medical News Today. (https://www.medicalnewstoday.com/articles/217487.php)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app