Wound Infection - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Mar 3, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Waktu baca: 3 menit

Banyak orang yang sudah ketakutan jika mendengar kata “operasi”, bukan hanya karena biaya yang mahal dan adanya tingkat kegagalan pada tiap-tiap prosedur yang dilakukan, tapi ada banyak faktor lain yang membuat seseorang enggan untuk melakukan prosedur ini. Salah satunya adalah adanya kekhawatiran timbulnya infeksi setelah dilakukannya prosedur ini.


Angka kejadian terjadinya infeksi pada luka operasi (Surgical Site Infection atau SSI) pada suatu institusi penyedia pelayanan kesehatan mencerminkan kualitas pelayanan institusi tersebut.SSI di Amerika Serikat merupakan penyebab utama angka kesakitan pasien setelah menjalani operasi.

SSI dibedakan atas SSI Insisional dan SSI Spasial atau organ. SSI insisional hanya mencakup luka infeksi pada luka jaitan pasca operasi. SSI Insisional  dibedakan atas SSI Insisional Superfisialis, yang hanya melibatkan kulit bagian luar dan SSI Insisional dalam yang mencapai jaringan lunak dalam (misalnya jaringan lemak dan otot). SSI spatial/organ melibatkan organ yang terlibat dalam proses operasi.  

Bagaimana luka bekas operasi dikatakan sebagai SSI?

Surgical Site Infection (SSI) adalah infeksi yang terjadi pada tempat insisi dalam 30 hari pasca operasi yang mengenai kulit dan subkutis tempat operasi dan dijumpai satu diantara kriteria berikut ini: 

  • Adanya cairan (nanah) yang keluar dari luka pasca operasi.
  • Adanya Mikroorganisme yang ditemukan pada pemeriksaan kultur jaringan.
  • Setidaknya dijumpai satu dari tanda dan gejala infeksi seperti berikut ini :adanya nyeri, edema lokal (pembengkakan tanpa disertai tanda-tanda memar), eritema (kemerahan), atau rabaan hangat.
  • Diagnosa SSI ditegakkan oleh dokter bedah atau dokter yang memeriksa. 

Faktor apa saja yang berperan meningkatkan resiko terjadinya SSI?

Banyak penelitian mencari hubungan yang paling signifikan antara beberapa faktor yang dianggap merupakan faktor risiko dengan kejadian SSI. beberapa faktor tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

Pengaruh dokter bedah

  • Pemasangan drain adalah meletakan selang melalui luka yang terbuka, sehingga meningkatkan resiko terjadinya infeksi
  • Lama operasi  berbanding lurus dengan risiko infeksi luka dan memperberat resiko akibat jenis kontaminasi
  • Elektrokauter digunakan untuk menghentikan pendarahan dengan cepat. Namun pemakaian alat Elektrokauter yang berlebih jelas menyebabkan insidens SSI, namun apabila dipakai dengan cara yang benar untuk menghentikan pendarahan,
  • atau untuk membelah jaringan yang biasanya hanya menimbulkan destruksi jaringan ringan yang tidak mempengaruhi infeksi luka operasi

Kasus Terkontaminasi

  • Prosedur Abdomen seperti pada  operasi pecahnya usus buntu akan meningkatkan resiko terjadinya infeksi dikemudian hari
  • Kasus trauma, Pada kasus trauma atau kecelakaan dengan luka robek yang sudah ada sebelum dilakukan operasi juga akan meningkatkan resiko infeksi
  • Operasi kotor dan terinfeksi. Pada operasi kotor atau terinfeksi harus diberikan antibiotik Terapeutik. Pada operasi kotor akibat trauma, biasanya luka tidak boleh ditutup seketika. Jika ditutup terlalu cepat, SSI pasti akan terjadi

Faktor Pasien

  • Perfusi lokal atau yang dikenal dengan sistem peredaran darah pada lokasi dilakukannya operasi, sangat mempengaruhi timbulnya infeksi, terbukti pasien-pasien dengan gangguan peredaran darah, cenderung mengalami infeksi pada tungkai.

    Perfusi yang menurun akan menurunkan jumlah kuman yang dibutuhkan untuk timbulnya infeksi, sebagian karena perfusi yang tidak adekuat menyebabkan penurunan kadar oksigen jaringan
  • Usia tua, Penuaan berhubungan dengan perubahan fungsi dan struktur yang menyebabkan jaringan kulit dan jaringan disekitarnya lebih rentan terhadap infeksi 

Apa yang dapat dilakukan untuk menangani terjadinya SSI?

Pengobatan yang paling penting bagi Infeksi Luka operasi adalah membuka kembali sayatan bedah untuk membersihkan material yang terinfeksi (jaringan mati dan benda asing). Kasa pembalut yang digunakan pada luka harus diganti beberapa kali sehari.

Hal ini memungkinkan infeksi untuk sembuh dengan tindakan lanjutan. Kondisi ini akan membuat luka yang terbuka pulih dari bawah ke atas dengan membuat jaringan baru.

Antibiotik dapat diberikan pada saat luka dibersihkan dan selama beberapa hari setelahnya. Pengobatan dapat diperpanjang jika ada tanda-tanda bahwa infeksi dapat menyebar dan terutama jika terjadi demam.

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan

Antibiotika Profilaksis Terhadap SSI. Sulit untuk dimengerti bagaimana antibiotika kadang-kadang tidak bisa mencegah SSI. Alasan utama ketidakefektifan antibiotika adalah ketidakmengetian terhadap biologi dari SSI.

Antibiotik paling efektif bila diberikan sebelum bakteri berkembang biak (Inokulasi). Antibiotik tidak efektif lagi bila diberikan 3 jam setelah Inokulasi. Efektifitasnya sedang bila diberikan diantara kedua waktu tersebut.

Berdasarkan inilah prinsip antibiotika Profilaksis terhadap SSI di semua bidang bedah adalah antibiotika profilaksis harus diberikan 2 jam sebelum dilakukan pembedahan, dalam dosis penuh, dan dalam waktu terbatas.


7 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app