Benarkah Orang Jangkung Berumur Lebih Pendek?

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Benarkah Orang Jangkung Berumur Lebih Pendek?

Beberapa ex pemain basket NBA meninggal karena sakit jantung hanya dalam waktu tiga minggu, di usia relatif belum terlalu tua  (di bawah 64 tahun). Pemain-pemain itu adalah Moses Malone, Sixer Darryl Dawkins dan Sixer Caldwell Jones.

Kematian mereka menimbulkan tanya di benak publik penggemar basket, apakah orang jangkung berumur lebih pendek?

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Jantung via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 10

Sebuah studi 1992 yang meneliti catatan kematian hampir 1.700 orang menemukan bahwa, rata-rata pria yang lebih pendek dari 175 cm tutup usia pada usia 71 tahun. Sementara, pria yang lebih tinggi dari 190 cm, rata-rata meninggal lebih cepat, yaitu pada usia 64 tahun.

"Hampir pada setiap spesies, individu yang lebih kecil hidup lebih lama," kata Thomas Samaras, yang menjalankan Reventropy Associates di San Diego, sebuah organisasi nirlaba yang meneliti konsekuensi dari pertambahan populasi dunia.

Mengenal Gigantisme dan Akromegali

Sementara itu, Medical Daily mengatakan, kaitan antara angka harapan hidup dengan tinggi badan, dilatarbelakangi oleh kasus gigantisme dan okromegali. 

Gigantisme adalah kondisi kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi dan besar yang di atas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan jumlah hormon pertumbuhan. Tidak terdapat definisi tinggi yang merujukan orang sebagai "raksasa". Tinggi orang dewasa yang mengalami gigantisme dapat mencapai 2,25 - 2,40 meter.

Akromegali juga merupakan kondisi kelebihan hormon pertumbuhan, hanya bedanya jika gigantisme muncul sejak kanak-kanak, akromegali muncul saat dewasa.

Hormon pertumbuhan diproduksi oleh kelenjar hipofisis.  Hipofisis merupakan kelenjar kecil yang terletak di dasar otak di belakang batang hidung dan menghasilkan sejumlah hormon. Hormon pertumbuhan ini memainkan peran penting dalam mengelola pertumbuhan fisik seseorang.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Jantung via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 10

Pada kedua kondisi ini, kelebihan hormon pertumbuhan dapat memicu tumbuhnya tumor di kelenjar hipofisis. 

Bisa disembuhkan

Baik gigantisme maupun akromegali bisa disembuhkan. Empat tahun lalu, penderita akromegali, Sultan Kosen yang merupakan pria tertinggi di dunia (280,84 Cm) disembuhkan oleh empat dokter dari University of Virginia Medical Center dengan terapi Gamma Knife radiosurgery. 

Indentifikasi seringkali terlambat

Sayangnya, identifikasi akromegali seringkali terlambat. Banyak penderitanya keliru mengartikan gejala akromegali dengan pembengkakan. Gejala umum gigantisme dan akromegali adalah pembesaran tangan, kaki di luar ukuran normal. Gejala lain seperti penebalan bibir dan kening menonjol keluar sering datang setelah kelainan dalam tahap lanjut. 

Karena alasan inilah, banyak penderitanya terlambat mendapat pertolongan medis dan mengalami komplikasi artritis, tekanan darah tinggi, sakit jantung dan kanker

Jika komplikasi penyakit-penyakit ini terjasi pada orang dengan akromegali, seringkali menyebabkan kematian prematur (10 tahun lebih awal). Studi menemukan, 60 persen orang dengan akromegali meninggal dunia karena gangguan kardiovaskular termasuk sakit jantung, 25 persen karena gangguan pernapasan, 15 persen karena neoplasis atau tumor.

9 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Body size may influence women's lifespan more than it does men's: And 60 minutes of daily physical activity was associated with the best chance of reaching 90 for women. ScienceDaily. (https://www.sciencedaily.com/releases/2019/01/190121192041.htm)
Salaris, Luisa & Poulain, Michel & Samaras, Thomas. (2012). Height and Survival at Older Ages among Men Born in an Inland Village in Sardinia (Italy), 1866–2006. Biodemography and social biology. 58. 1-13. 10.1080/19485565.2012.666118. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/224955770_Height_and_Survival_at_Older_Ages_among_Men_Born_in_an_Inland_Village_in_Sardinia_Italy_1866-2006)
How Your Height Affects Your Health. WebMD. (https://www.webmd.com/a-to-z-guides/ss/slideshow-height-affects-health)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app