Amphotericin B: Manfaat, Dosis, & Efek Samping

Dipublish tanggal: Feb 6, 2019 Update terakhir: Okt 24, 2020 Tinjau pada Mar 29, 2019 Waktu baca: 3 menit

Apa Itu Obat Amphotericin B?

Amphotericin B merupakan agen anti-fungal atau obat yang dapat digunakan dalam infeksi jamur didaerah kulit atau tubuh kita. Obat ini merupakan obat yang harus diresepkan oleh dokter. 

Amphotericin A & B merupakan hasil fermentasi dari Streptomyces nodosus, dan actinomyces yang dapat kita temukan didalam tanah, sehingga menghasilkan Amphotericin B yang memiliki aktifitas anti jamur. Amphotericin bekerja dengan cara menyerang sel jamur yang sedang tumbuh dengan cara menghambat pertumbuhannya serta juga menyerang sel yang telah dewasa. Kinerja anti-jamur Amphotericin pun sangat bergantung pada dosis dan golongan jamur yang ingin di obati itu sendiri.

Mengenai Amphotericin B

Golongan:

Obat resep 

Kemasan:

Oral, suntik, dan irigasi

Kandungan: 

Antijamur 

Manfaat Amphotericin B

Amphotericin sampai saat ini digunakan untuk mengobati keluhan keluhan yang diduga disebabkan oleh jamur. Keluhan keluhan yang disebabkan oleh jamur antara lain lesi keputihan dibanding kulit normal, gatal yang diperberat saat berkeringat serta bisa saja terjadi kemerahan atau timbul sisik pada lesi tersebut. Amphotericin B juga di gunakan untuk keadaan keadaan seperti koksidiodomikosis, parakoksidiodomikosis, aspergilosis, kandidiosis, mukormikosis dan lain lain. Obat ini merupakan obat terpilih untuk pasien yang memiliki lesi tidak progresif. 

Cakupan sensitifitas Amphotericin B terhadap spesies spesies jamur cukup besar, amphotericin B dapat mengatasi  Absidia spp, Aspergillus spp, Basidiobolus spp, Blastomyces dermatitidis, Candida spp, Coccidoide immitis, Conidiobolus spp, Cryptococcus neoformans, Histoplasma kapsul sulatum, Mucor spp, Paracoccidioides brasiliensis, Rhizopus spp, Rhodotorula spp, dan Sporothrix schenckii. 

Namun dalam pemberiannya, sebaiknya diperiksakan terlebih dahulu kepada dokter sehingga tidak salah dalam pemberian obat jamur ini. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian Amphotericin B ini antara lain adalah riwayat alergi pasien terhadap obat, pasien dengan gangguan ginjal, ibu hamil dan menyusui serta interaksi obat lainnya.

Dosis Amphotericin B

Sediaan Amphotericin B sendiri terdiri dari sediaan vial/injeksi serta tablet oral. Bila menggunakan tipe injeksi, tentu saja harus dilakukan oleh seorang tenaga medis dan tidak bisa oleh pasien sendiri. 

Pengobatan menggunakan Amphotericin B sangat tergantung spesies jamur serta tempat predileksi lesi pada bagian tubuhnya. Dosis bervariasi mulai dari 40mg-80mg per-oral atau 250mcg/kg/hari dengan injeksi dengan batas maksimal 1.5mg/kg/harinya. 

Tentunya penggunaan Amphotericin B harus dikonsultasikan lebih lanjut kepada dokter yang telah memeriksa anda secara langsung sehingga mengetahui kondisi medis Anda. Bila memang memiliki keluhan keluhan medis seperti diatas ataupun hal lainnya, segera periksakan diri Anda ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Efek Samping Amphotericin B 

Sebelum mengkonsumsi Amphotericin B, sebaiknya berkonsultasi tentang kondisi medis anda terlebih dahulu, karena perlu dipertimbangkan pada kondisi kondisi seperti gangguan gangguan ginjal, keadaan dengan riwayat alergi serta ibu hamil dan menyusui. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh Amphotericin B sendiri adalah:

  • Alergi seperti gatal, kesulitan bernafas, pembengkakan wajah, lidah dan tenggorokan atau bahkan sampai pingsan
  • Gangguan fungsi hati seperti urin menjadi gelap, feses berwarna terang, mual muntah atau kulit serta mata yang menguning.
  • Gangguan fungsi ginjal seperti nyeri berkemih, sulit berkemih atau berdarah saat berkemih.
  • Gangguan elektrolit seperti mual, pusing, muntah serta serasa ingin pingsan.
  • Efek samping efek samping lain seperti demam, mual, muntah, nafas terasa cepat, kelelahan, diare, keram perut, nyeri kepala serta sensasi terbakar pada kulit.
  • Perlu diketahui bahwa Amphotericin B termasuk kategori obat B untuk ibu hamil dan menyusui, yaitu tidak adanya resiko terhadap janin pada uji coba dengan hewan, namun saran kami hubungi dan konsultasikan kembali kepada dokter anda bila anda ingin mengkonsumsi Amphotericin B dalam keadaan hamil atau menyusui.

Overdosis

Gejala overdosis Amphotericin B antara lain pingsan, kesulitan bernafas, pusing, detak jantung yang melambat. Segera cari bantuan medis bila anda atau teman anda mengalami keluhan seperti ini

Interaksi Obat

Sebelum memberikan Amphotericin B, hendaknya kita berhati hati dengan interaksi obat golongan anti-jamur ini. Obatan obatan yang memiliki interaksi obat dengan Amphotericin B antara lain obat antikanker, pelemas otot, Zidovudine, anti-jamur lain golongan azole, Cyclosporine, dan lain lain. 

Diharapkan pasien yang ingin memulai regimen obat Amphotericin B tidak mengonsumsi obat-obatan tersebut diatas guna menghindari efek samping yang tidak diinginkan.

Perhatian

  • Bagi para penderita gangguan ginjal, jantung, hati, dan penderita kadar sel darah putih tidak normal diharapkan untuk berhati-hati saat mengkonsumsi obat ini dan konsultasikan dahulu kepada dokter. 
  • Hindari mengemudi atau mengoperasikan alat berat selama menjalani pengobatan dengan amphotericin B.
  • Jika mengalami reaksi alergi atau overdosis , segera periksakan diri ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. 

20 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Liposomal Amphotericin B for Fever and Neutropenia. (1999), 341(15), 1152-1155. https://doi.org/10.1056/nejm199910073411512. The New England Journal of Medicine. (https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM199910073411512)
Amphotericin B Liposome (Intravenous Route) Description and Brand Names. Mayo Clinic. (https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/amphotericin-b-liposome-intravenous-route/description/drg-20061777)
Flucytosine Combined with Amphotericin B for Fungal Infections: A Postmarketing Surveillance and Future Perspectives. Springer Link. (https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-540-77290-3_34)

Artikel ini hanya sebagai informasi obat, bukan anjuran medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter atau apoteker mengenai informasi akurat seputar obat.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app