7 Mitos soal Bahaya Berhenti Merokok

Dipublish tanggal: Jun 20, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
7 Mitos soal Bahaya Berhenti Merokok

Merokok merupakan kegiatan yang membahayakan bagi tubuh. Meskipun banyak orang yang sudah mengetahui bahaya merokok, tetapi masih banyak juga orang yang masih melakukannya. Merokok memang menjadi sebuah kebiasaan yang susah dihentikan. Apalagi muncul mitos-mitos tentang bahaya dari berhenti merokok. Banyak orang yang mempercayai hal tersebut, sehingga enggan berhenti merokok. Padahal mitos tersebut belum tentu benar. Beberapa mitos tersebut adalah:

Berhenti merokok membuat tubuh sakit

Hal ini tentu tidak benar. Merokok dalam jangka waktu yang lama akan membuat tubuh kecanduan nikotin. Nikotin berfungsi merangsang otak sehingga menimbulkan rasa nyaman dan tenang. Berhenti merokok memang menyebabkan sakit kepala, kecemasan, konstipasi, dan kelelahan. Hal ini terjadi karena dampak kehilangan nikotin yang biasanya membuat tubuh nyaman. Dampak ini sebenarnya akan menghilang sendirinya, setelah tubuh kembali beradaptasi untuk tidak tergantung pada nikotin.

Iklan dari HonestDocs
Beli BLACKMORES CELERY 7000 via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores celery 7000 120 1

Sudah terlambat untuk memperbaiki efek dari merokok

Banyak orang yang malas berhenti merokok karena merasa sudah terlambat jika ingin memperbaiki kondisi tubuhnya. Namun, sebenarnya tidak ada kata terlambat, jika memang ingin memulai berhenti merokok dan memulai hidup yang lebih sehat. Penelitian menunjukkan bahwa berhenti merokok sebelum usia 35 tahun, akan menyebabkan risiko gangguan kesehatan akibat merokok berkurang hingga 90%. Selain itu, dengan berhenti merokok 1 tahun saja, sudah dapat membuat pernapasan menjadi lancar.

Bahaya merokok akan menurun jika mengganti rokok “mild” dengan “light”

Banyak orang yang percaya jika rokok dengan kandungan nikotin yang lebih sedikit akan menurunkan risiko dari bahaya merokok. Padahal nikotin mempunyai efek candu yang membuat Anda tidak berhenti merokok. Walaupun memilih rokok dengan kandungan nikotin yang lebih sedikit, tetapi jika mengkonsumsi dalam jumlah yang banyak tetap saja memiliki dampak buruk bagi kesehatan.

Saya sudah melakukan kegiatan yang menyehatkan, jadi tidak perlu berhenti merokok

Banyak orang yang menganggap bahwa melakukan kebiasaan hidup sehat dapat mengurangi risiko kerusakan organ tubuh akibat merokok. Padahal organ tubuh yang sudah rusak tidak dapat diperbaiki dengan menerapkan pola hidup sehat. Kebiasaan melakukan pola hidup sehat hanya akan menjaga tubuh tetap fit dan tidak mudah terkena penyakit, tetapi jika Anda tetap membiasakan merokok tentunya organ tubuh akan semakin rusak.

Merokok hanya membahayakan diri si perokok

Hal inilah yang tidak diketahui banyak orang, bahwa orang yang menghirup asap rokok atau perokok pasif memiliki risiko 30% lebih tinggi terkena kanker jika dibandingkan perokok aktif. Jadi hindarilah kebiasaan merokok sembarangan, karena akan membuat orang lain terkena dampak dari paparan asap rokok.

Berhenti merokok akan membuat stress, sehingga akan merusak kesehatan

Berhenti merokok memang awalnya akan menyebabkan rasa stress. Hal ini karena Anda mencoba menghilangkan kecanduan mengkonsumsi nikotin. Namun, kondisi stress ini tidak berbahaya dan akan menghilang dengan sendirinya. Melakukan kebiasaan sehat, seperti berolahraga akan membuat stress cepat hilang.

Merokok membuat berat badan bertambah

Merokok akan membuat indera pengecap tidak berfungsi dengan normal, sehingga nafsu makan juga akan berkurang. Selain itu, nikotin dapat meningkatkan metabolisme tubuh, sehingga kalori yang dibakar juga semakin banyak. Inilah yang menyebabkan perokok memiliki tubuh yang kurus. Ketika memulai berhenti merokok, sistem metabolisme tubuh akan kembali normal dan indera pengecap juga akan berfungsi dengan normal, sehingga memunculkan risiko naiknya berat badan. Namun, hal ini bukan dampak yang berbahaya, jika Anda mampu menjaga berat badan dengan baik. Saat memulai berhenti merokok, imbangilah juga dengan memulai gaya hidup sehat.

19 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
National Cancer Institute. (2010). Where to get help when you decide to quit smoking [Fact sheet]. (https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/tobacco/help-quitting-fact-sheet)
Lindson-Hawley N, et al. (2016). Gradual versus abrupt smoking cessation: A randomized, controlled noninferiority trial. DOI: (https://doi.org/10.7326/M14-2805)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app