Selulitis: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: Apr 5, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 796.332 orang

Bakteri bisa menginfeksi di bagian tubuh manapun, khususnya pada kulit. Kulit adalah organ yang bersentuhan langsung dengan dunia luar, sehingga rentan mengalami infeksi. Salah satu jenis infeksi yang umum terjadi pada kulit adalah selulitis. Hati-hati, jangan sampai tertukar saat membedakan antara selulitis dan stretch mark, ya! Supaya lebih jelas, cari tahu lebih lengkap seputar selulitis berikut ini.

Apa itu selulitis?

Selulitis adalah infeksi yang umum terjadi pada lapisan-lapisan dalam kulit dan jaringan di bawah kulit. Tanda awal selulitis biasanya adalah kulit memerah dangt;bengkakan pada kelenjar getah bening. Ketika Anda menyentuh area yang terinfeksi, bagian kulit tersebut sering terasa hangat dan nyeri.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Perlu diingat bahwa selulitis berbeda dengan selulit yang orang-orang kebanyakan ketahui. Masyarakat mengetahui bahwa istilah selulit lebih sering dianggap sebagai peregangan kulit, atau yang lebih dikenal dengan istilah stretch mark.

Selulitis bisa terjadi pada daerah kulit manapun dan juga bisa terjadi pada siapapun. Hanya saja, letak selulitisnya bisa berbeda-beda pada setiap orang. Orang dewasa sering mengalami selulitis di kaki bagian bawah, sedangkan selulitis pada anak seringnya muncul di wajah atau leher

Selain dari area tubuh tersebut, bila selulitis sering muncul di bagian kaki hingga menyebabkan bengkak dan kemerahan, maka bisa jadi Anda mengalami penyakit lain. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh dermatitis stasis atau dermatitis kontak.

Mengenai selulitis

Penyebab

Penyebab selulitis paling umum dikarenakan infeksi bakteri Streptococcus (strep) dan Staphylococcus (staph). Selain dua bakteri tersebut, ada juga bakteri lain yang bisa menyebabkan selulitis, yaitu MRSA (methicillin-resistant Staph aureus) dan bakteri lain sepeti Haemophilus influenza, Pseudomonas aeruginosa, dan Pasteurella multocida.

Sebetulnya, bakteri ini tidak menimbulkan masalah ketika menyentuh kulit. Namun, begitu bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh, bakteri ini bisa membahayakan dan memicu penyakit. Luka terbuka, luka bakar, goresan, maupun lecet biasanya menjadi pintu masuk bagi bakteri ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi.

Namun, tentu saja tidak semua orang yang mengalami cedera kulit akan terkena selulitis. Sebab pada dasarnya, sistem kekebalan tubuh bekerja keras untuk menghancurkan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Tak hanya karena bakteri, ada beberapa hal lainnya yang dapat meningkatkan risiko terjadinya selulitis, yaitu:

  • Berusia lebih dari 50 tahun
  • Kegemukan atau obesitas
  • Diabetes, terutama jika kadar gula tidak terkontrol dengan baik
  • Menderita penyakit gangguan sistem imun, seperti HIV

Semua kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Akibatnya, bakteri dapat lebih mudah masuk dan menyebabkan infeksi.

Selain itu, ada juga beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan selulitis, di antaranya :

  • Kaki atlet
  • Dermatitis atopik (eksim)
  • Menjalani kemoterapi
  • Menggunakan kortikosteroid
  • Penyakit ginjal
  • Penyakit hati
  • Lymphedema
  • Penggunaan obat untuk mencegah respon penolakan organ transplantasi
  • Sirkulasi darah yang buruk
  • Baru saja menjalani operasi

Gejala

Sebelum adanya gejala selulitis di kulit, Anda biasanya akan merasa tidak enak badan. Beberapa orang mengalami demam, menggigil, atau kelelahan yang merupakan tanda tubuh terinfeksi bakteri. Jika Anda mengalami infeksi berat, Anda mungkin juga mengalami rasa sakit yang hebat, keringat dingin, mual, mengantuk, atau susah berkonsentrasi.

Ketika infeksi sudah semakin parah, akan timbul lecet pada kulit, kulit kemerahan, nyeri, bintik merah, dan bengkak. Kelenjar getah bening yang berdekatan dengan lokasi infeksi juga akan membengkak. Bila diperhatikan lagi, Anda mungkin menyadari adanya garis merah di area selulitis, luka terbuka, atau benjolan bernanah.

Orang-orang yang memiliki selulitis berat mungkin memiliki detak jantung yang cepat, tekanan darah rendah, atau susah berkonsentrasi.

Pencegahan selulitis

Jika Anda berpikir bahwa Anda memiliki selulitis, Anda harus segera mendapatkan perawatan medis. Semakin cepat selulitis terdeteksi, maka kemungkinan besar selulitis akan hilang sepenuhnya. Pengobatan yang dijalani pun akan memberikan hasil yang lebih maksimal.

Tanpa pengobatan, infeksi dapat menyebar dengan cepat dan berpindah ke kelenjar getah bening. Ketika bakteri penyebab selulitis berhasil masuk ke aliran darah, maka hal ini dapat menyebabkan infeksi darah atau merusak pembuluh getah bening secara permanen. Alhasil, sistem kekebalan tubuh Anda terganggu dan rentan terkena penyakit lainnya.

Sayangnya, tidak semua kasus selulitis bisa dicegah. Namun tak perlu khawatir. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya selulitis, yaitu:

  • Hindari cedera pada kulit, terutama pada penderita diabetes. Lindungi diri dengan alas kaki, sarung tangan, dan celana panjang guna mencegah kulit tergores.
  • Rajin mencuci tangan, untuk mencegah masuknya bakteri lewat kuku.
  • Rajin memotong kuku dan membersihkannya, supaya tidak ada bakteri yang menumpuk di bawah kuku.
  • Mandi secara teratur, guna membilas bakteri yang menempel di kulit tubuh.
  • Mengobati masalah kulit dengan cepat, seperti tinea dan eksim. Segera bersihkan luka pada kulit dengan antiseptik. Setelah itu, tutup luka dengan pembalut kasa untuk mencegah infeksi.

Pengobatan selulitis

Pengobatan selulitis bertujuan untuk mencegah gejalanya semakin memburuk. Hal ini juga dapat membantu Anda menghindari masalah medis serius, salah satunya sepsis atau keracunan darah.

Untuk mengobati selulitis, dokter biasanya meresepkan obat antibiotik oral yang dapat secara efektif membersihkan selulitis. Jenis antibiotik dan lama pemakaian disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Kebanyakan orang menggunakan antibiotik selama 7-14 hari. Jika Anda memiliki sistem kekebalan yang lemah, Anda mungkin perlu meminum antibiotik lebih lama.

Selain antibiotik, berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengobati selulitis, yaitu:

  • Perawatan luka: Menutupi luka pada kulit akan membantu mempercepat proses penyembuhan.
  • Istirahat: Ini dapat membantu mencegah selulitis menjadi serius dan membantu tubuh Anda pulih kembali.
  • Letakan kaki pada posisi yang lebih tinggi: Jika Anda memiliki selulitis di kaki Anda, posisikan kaki Anda lebih tinggi untuk membantu mengurangi pembengkakan dan mempercepat penyembuhan.
  • Perawatan untuk kondisi medis lain: Jika bakteri masuk ke dalam tubuh karena Anda memiliki kondisi kulit lain seperti kaki atlet, penting juga untuk menangani kondisi tersebut.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit