GRACIA BELINDA
Ditulis oleh
GRACIA BELINDA
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Anemia Bikin Repot? Coba Atasi dengan Sakatonik Liver

Dipublish tanggal: Okt 16, 2020 Update terakhir: Okt 20, 2020 Waktu baca: 3 menit
Anemia Bikin Repot? Coba Atasi dengan Sakatonik Liver

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Anemia defisiensi zat besi adalah salah satu jenis anemia yang paling sering terjadi akibat kurangnya kadar zat besi dalam tubuh;
  • Gejala anemia umumnya berupa rasa lemas, letih, pucat, pusing, bahkan sesak napas yang diakibatkan oleh kekurangan oksigen;
  • Anemia defisiensi zat besi lebih sering dialami oleh ibu hamil, anak-anak dalam masa pertumbuhan, hingga wanita yang mengalami menstruasi berlebihan;
  • Sumber makanan yang kaya zat besi antara lain daging merah, tiram, ikan, dan kacang-kacangan, serta suplemen tambahan Sakatonik Liver;
  • Sakatonik Liver tersedia dalam kemasan sirup dan kaplet yang mengandung vitamin B kompleks, zinc, dan asam folat;
  • Klik untuk mendapatkan Sakatonik Liver atau suplemen multivitamin lainnya ke rumah Anda di HDmall. *Gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia dan bisa COD;

Anemia atau kurang darah terjadi ketika jumlah sel darah merah tidak mencukupi dan lebih sedikit dari batas normal. Anemia terdiri dari beberapa jenis, mulai dari anemia defisiensi zat besi, anemia defisiensi B12, anemia defisiensi folat, hingga anemia sel sabit.

Di antara jenis-jenis tersebut, anemia karena kekurangan zat besi atau defisiensi zat besi yang paling sering terjadi. Jangan lupa bahwa zat besi merupakan komponen penting untuk menghasilkan sel darah merah, terutama hemoglobin.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Jika kadar zat besi tak mencukupi, produksi hemoglobin ikut menurun sehingga mengganggu pasokan oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan oksigen inilah yang membuat pengidap anemia jadi sering letih, lemas, pucat, pusing, dan bahkan sesak napas.

Baca juga: 8 Ciri-Ciri dan Gejala Kurang Darah (Anemia) dan Pengobatannya 

Penyebab anemia defisiensi zat besi

Selain karena kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi, anemia defisiensi zat besi ini juga bisa disebabkan oleh sejumlah faktor lain yang meliputi:

Menstruasi dan masa kehamilan pada wanita

Wanita yang sedang mengalami menstruasi berlebihan dan anak-anak dalam masa pertumbuhan umumnya membutuhkan lebih banyak makanan yang kaya akan zat besi. Begitupun pada ibu hamil di mana kebutuhan darah akan semakin meningkat selama masa kehamilan.

Pendarahan yang terjadi akibat kecelakaan atau trauma

Selain kehilangan banyak darah akibat luka fisik, kekurangan zat besi juga bisa terjadi karena adanya pendarahan internal, misalnya sakit maag di perut, polip di usus besar, atau penyakit kanker pada usus.

Tubuh tidak mampu menyerap zat besi

Gangguan kesehatan pada saluran cerna terutama usus (penyakit gastrointestinal) juga bisa menyebabkan penyerapan zat besi menjadi terhambat meski telah mengonsumsi asupan zat besi yang cukup. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Pendukung Gizi & Nutrisi via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 8

Konsumsi obat atau operasi tertentu

Berkurangnya kadar zat besi dalam tubuh juga bisa terjadi akibat mengonsumsi obat asam lambung ataupun menjalani operasi pengangkatan usus yang menyebabkan menurunnya penyerapan zat besi.

Baca juga: Efek Buruk Kekurangan Zat Besi

Manfaat zat besi bagi tubuh

Kekurangan zat besi bukan kondisi yang dapat dibiarkan begitu saja. Zat besi merupakan salah satu mineral alami yang terkandung di dalam makanan dan tersedia pula dalam bentuk suplemen. 

Selain sebagai komponen utama dalam pembentukan hemoglobin, zat besi berperan dalam proses metabolisme tubuh, pertumbuhan dan perkembangan fungsi normal sel-sel tubuh, antaran sinyal listrik dalam saraf, serta pembentukan hormon dan jaringan ikat. Tak sampai di situ. Zat besi juga diperlukan untuk meningkatkan fungsi otak, termasuk kemampuan berpikir, konsentrasi, dan daya ingat.

Karena zat besi tidak bisa dihasilkan oleh tubuh, kita harus mencukupi kebutuhan tersebut dengan mengonsumsi makanan dan suplemen tertentu. Beberapa sumber makanan yang mengandung zat besi adalah daging merah, tiram, telur, ikan tuna, ikan salmon, tahu, kentang, dan kacang-kacangan. Selain itu, kandungan zat besi bisa didapatkan dari suplemen tambahan, seperti Sakatonik Liver.

Baca juga: Sumber Zat Besi Penambah Stamina 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Sakatonik Liver terkenal sebagai salah satu suplemen penting untuk mengatasi anemia akibat kekurangan zat besi. Sakatonik Liver tersedia dalam kemasan sirup dan kaplet, serta bisa dibeli secara bebas tanpa resep dokter. Kandungan Sakatonik Liver cukup lengkap, termasuk vitamin B kompleks dan mineral seperti zinc dan asam folat.

Sakatonik Liver baik dikonsumsi oleh penderita anemia yang mengalami kekurangan zat besi. Sakatonik Liver juga bisa membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral dalam masa kehamilan, sekaligus memelihara kesehatan tubuh.

Dengan mengonsumsi Sakatonik Liver, kebutuhan zat besi dalam tubuh dapat terpenuhi dan dapat menghindari Anda dari risiko komplikasi penyakit tertentu, seperti penyakit jantung dan paru-paru akibat gangguan peredaran darah dan masalah sistem imun tubuh.

Dosis umum yang direkomendasikan untuk penggunaan Sakatonik Liver adalah:

Sirup

Orang dewasa: 1 sendok makan, 1-2 kali sehari;

Anak-anak: 1-2 sendok teh, 1-2 kali sehari.

Kaplet

Orang dewasa: 1 butir sekali sehari.

Meski demikian, tetap waspadai risiko efek samping penggunaan Sakatonik Liver, seperti diare, sembelit, kram perut, dan perubahan warna feses menjadi hitam. Jika terjadi reaksi alergi, seperti ruam kulit, pembengkakan, atau kesulitan bernapas, sebaiknya segera menghentikan penggunaan dan konsultasikan ke dokter.

Baca juga: Cara Mengatasi Anemia Saat Menstruasi Berlebihan 

3 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app