Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR SCIENTIA INU KIRANA ENWA SIWI
Kesehatan Fisik

Reaksi Alergi Anafilaksis

Update terakhir: SEP 21, 2019 Tinjau pada SEP 21, 2019 Waktu baca: 2 menit
Telah dibaca 1.068.392 orang

Reaksi Alergi Anafilaksis

Anafilaksis adalah suatu respon Alergi yang berat dan menyerang berbagai organ dan mengancam jiwa.

Reaksi anafilaksis terbagi menjadi dua kategori berdasarkan mekanisme kerjanya menurut World Allergy Organization, 2014

  • Anafilaksis imunologis
  • Anafilaksis non imunologis (Reaksi Anafilaktoid)

Merupakan reaksi yang berhubungan dengan system imun baika difasilitasi oleh immunoglobulin (E dan G), atau melibatkan senyawa komplemen.

Merupakan reaksi yang menginduksi pengeluaran sel mast atau basophil tanpa melibatkan reaksi imunologis.

Etiologi Analfilaksis atau Penyebab anafilaksis sangat beragam, diantaranya adalah antibiotik, ekstrak alergen (jamur atau ekstrak rumput-rumputan), serum kuda, zat diagnostik (misalnya zat radioopak untuk radiodiagnostik) bisa ular (venom), sengatan lebah, produk darah, anestetikum local seperti lidokain atau prokain, enzim, hormone dan lain-lain Beberapa makanan telah dikenal sebagai penyebab alaergi anafilaktik seperti susu sapi, kerang, dan kacang-kacangan.

Patofisiologi Reaksi Alergi Anafilaksis Akan lebih jelas kalau kita lihat pengaruh mediator pada organ target seperti sistem kardiovaskuler, traktus respiratorius, traktus gastrointestinalis dan kulit. Rangsangan alergen pada sel mast menyebabkan dilepaskannya mediator kimia yang sangat kuat yang memacu serangkaian peristiwa fisiologik yang menghasilkan gejala anafilaksis.

Histamin yang merupakan salah satu mediator sel mast dapat menyebabakan kontraksi otot polos bronkus yang menyebabkan bronkokonstriksi atau penyempitan bronkus. Pada sistem pembuluh darah menyebabkan pelebaran pembuluh darah dijaringan, sedangkan pada pembuluh darah yang lebih besar menyebabkan konstriksi  atau penyempitan karena kontraksi otot polos. Selanjutnya histamin meninggikan permeabiltas kapiler dan venula pasca kapiler.

Perubahan pembuluh darah ini menyebabkan respon wheal-flare, dan biia terjadi secara sistemik dapat menimbulkan hipotensi, urtikaria dan angioedema. Pada traktus gastrointestinalis histamin meningkatkan pengeluaran enzim-enzim pencernaan mukosa lambung, sedangkan pelepasan histamin terjadi secara sistemik mengakibatkan aktifitas otot polos usus dapat meningkat menyebabkan diare dan pergerakan usus menjadi lebih cepat .

Gejala klinis reaksi alergi anafilaksis

Gejalanya dapat berupa reaksi lokal dan reaksi sistemik. reaksi lokal terdiri dari urtikaria dan angioedema (bengkak seluruh tubuh) pada daerah yang kontak dengan antigen. Reaksi lokal dapat berat tetapi jarang sekali fatal. Reaksi sistemik terjadi pada organ target seperti saluran pernafasan, sistem jantung dan pembuluh darah, saluran pencernaan, dan kulit.

Reaksi ini biasanya terjadi dalam waktu beberapa detik hingga menit sesudah kontak dengan penyebab.Gejala awal reaksi sistemik ringan adalah rasa gatal dan panas dibagian perifer tubuh, biasanya disertai perasaan penuh dalam mulut dan tenggorokan.

Angiodem karena Alergi

Pencegahan merupakan aspek yang terpenting pada penatalaksanaan anafilaksis. Pencegahan meliputi anamnesis yang teliti, penggunaan antibiotik sesuai indikasi, dan melakukan uji kulit terhadap beberapa antibiotika atau antitoksin yang berasal dari serum hewan sebelum di berikan kepada pasien. Hindari paparan allergen yang menyebabkan Anda alergi.

 

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit