Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM

Perimenopause - Penyebab, Gejala dan, Pengobatan

Update terakhir: SEP 22, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 872.274 orang

Perimenopause adalah suatu periode yang mengarah kepada masa transisi alami menuju menopause. Karena itulah perimenopause menandakan berakhirnya masa reproduksi. Kondisi perimenopause juga biasa disebut dengan transisi menopause.

Setiap wanita mengalami perimenopause pada usia yang berbeda-beda. Tanda-tanda yang paling sering terlihat adalah siklus menstruasi yang tidak teratur. Yang biasanya dialami oleh wanita berusia 40-an. Namun, ada juga wanita yang mengalaminya di usia 30-an.

Selama masa perimenopause tingkat hormon estrogen wanita mengalami fluktuasi. Sehingga tidak menentu naik dan turunnya. Siklus menstruasi bisa jadi lebih panjang atau lebih pendek

Dan setelah melewati 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi maka perimenopause berakhir dan Anda telah memasuki masa menopause.

Gejala Perimenopause yang Biasa Dialami Oleh Wanita

Selama masa transisi menopause terjadi, dapat dirasakan beberapa perubahan yang dialami oleh wanita. Terkadang perubahan tersebut memang tidak terasa dan juga terlihat dampaknya. Berikut beberapa perubahan yang terjadi ketika masa perimenopause.

Siklus menstruasi menjadi tidak teratur
Periode menstruasi jadi tidak bisa diprediksi. Lamanya jarak waktu menuju menstruasi berikutnya bisa lebih panjang atau lebih pendek. Jika gejalanya berdampak lebih bisa jadi Anda takkan mengalami menstruasi hingga beberapa bulan.

Mengalami hot flashes dan gangguan tidur
Hot flashes adalah gejala yang biasa dialami wanita saat perimenopause atau menopause. Anda akan merasakan panas hingga berkeringat dan detak jantung menjadi cepat. Hot flashes juga menyebabkan susah tidur di malam hari. Hal tersebut dipicu oleh rendahnya tingkat estrogen ketika malam hari.

Mood atau suasana hati jadi mudah berubah
Perubahan mood, mudah merasa terganggu, hingga mengalami depresi dapat terjadi selama perimenopause. Penyebabnya juga bisa dikarenakan gangguan tidur yang terkait dengan hot flashes. Dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak terkait dengan perubahan hormonall selama perimenopause.

Masalah pada area kewanitaan dan kandung kemih
Ketika kadar estrogen berkurang maka jaringan vagina Anda mungkin akan kehilangan pelumasan dan elastisitas. Sehingga dapat menyebabkan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual. Estrogen rendah juga dapat membuat Anda lebih rentan mengalami infeksi saluran kencing.

Tingkat kesuburan menurun
Saat ovulasi menjadi tidak teratur, maka kemampuan untuk hamil juga ikut menurun. Namun, selama masih mengalami menstruasi, kehamilan masih mungkin terjadi. Jika Anda ingin menghindari kehamilan maka bisa menggunakan alat kontrasepsi hingga Anda sudah tidak menstruasi lagi selama 12 bulan.

Perubahan fungsi seksual
Selama perimenopause, gairah dan keinginan seksual dapat berubah. Namun jika Anda memiliki keintiman seksual yang baik sebelum menopause, kemungkinan kepuasan seksual Anda akan tetap berlanjut hingga melalui masa perimenopause.

Mengalami pengeroposan tulang
Seiring menurunnya kadar estrogen, Anda pun mulai kehilangan massa tulang lebih cepat. Karena pembentukan tulang baru membutuhkan waktu lebih lama. Sehingga dapat meningkatkan risiko osteoporosis, yakni penyakit yang menyebabkan tulang menjadi rapuh.

Mengalami perubahan kadar kolesterol
Penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan perubahan yang tidak menguntungkan dalam kadar kolesterol Anda. Di mana akan terjadi peningkatan kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol ‘jahat’, yang dapat menjadi penyebab risiko penyakit jantung.

Pada saat bersamaan, kolesterol high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol ‘baik’ menurun pada banyak wanita seiring bertambahnya usia. Yang juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Kapan Harus Mengunjungi Dokter

Ada yang mencari bantuan secara medis untuk mengatasi gejala perimenopause. Ada juga yang dapat mentolerirnya. Jika gejalanya sudah mengganggu kenyamanan Anda, baik itu hot flashes, perubahan mood atau perubahan fungsi seksual, maka waktunya memeriksakan ke dokter.

Umumnya dokter akan menyarankan gejala perimenopause diobati dengan cara melakukan terapi.

Terapi hormon
Terapi estrogen sistemik bisa dalam bentuk pil, skin patch, gel atau krim. Cara ini adalah yang paling efektif untuk menghilangkan hot flashes. Estrogen juga dapat membantu mencegah keropos tulang.

Estrogen vagina
Bertujuan untuk mengurangi kekeringan vagina. Estrogen bisa diberikan langsung ke vagina menggunakan tablet, cincin atau krim. Pengobatan ini dapat membantu mengurangi kekeringan pada vagina, mengatasi ketidaknyamanan dalam berhubungan seksual serta meredakan gejala buang air kecil.

Antidepresan
Antidepresan tertentu yang terkait dengan jenis obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs) dapat mengurangi hot flashes. Antidepresan berguna untuk wanita yang tak dapat menggunakan estrogen karena alasan kesehatan. Serta antidepresan juga dapat mengatasi gangguan mood.

Gabapentin (Neurontin)
Gabapentin dapat mengobati kejang namun juga terbukti mampu mengurangi hot flashes selama perimenopause. Obat ini juga dapat diberikan kepada wanita yang tidak dapat menggunakan estrogen karena berbagai alasan kesehatan. Serta dapat membantu meringankan migrain.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit