Kenali Apa Yang Disebut Obsessive Compulsive Disorder

Dipublish tanggal: Mar 4, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Agu 2, 2019 Waktu baca: 3 menit
Kenali Apa Yang Disebut Obsessive Compulsive Disorder

Apa itu OCD?

Anda pasti pernah mendengar istilah OCD. Apakah OCD merupakan suatu penyakit atau ini hanya sekedar kelainan psikologis ? OCD atau Obsessive-compulsive Disorder adalah suatu kondisi psikologis pada akal dan pribadi seseorang dimana terjadi gangguan pikiran yang menyebabkan mereka selalu melakukan sesuatu secara berulang-ulang. 

Bagi penderita OCD sendiri mereka menyadari bahwa kebiasaan mereka sangat tidak nyaman dan menganggu aktivitas keseharian. DI Indonesia sebenarnya banyak penderita OCD tetapi mereka merasa malu untuk melakukan konsultasi ke dokter atau membicarakan kondisi ini ke orang-orang sekitar.

OCD sendiri merupakan kombinasi dari kebiasaan dan minat (obsesif), kecemasan, tindakan kompulsif, dan mempercayai bahwa dengan melakukan hal tersebut akan memberi kepuasan. 

Kita beri contoh kepada orang yang suka mengecek pintu nya berkali-kali untuk memastikan pintunya telah terkunci rapat, atau mengoleksi barang-barang yang aneh dan menyimpannya secara berurut dan sejajar. 

Pikiran mereka tidak bisa dilawan karena ini terjadi dari impuls sendiri, walaupun secara pikiran mereka ini merupakan kondisi yang sangat tidak nyaman. Tetapi dengan melakukannya berulang-ulang maka mereka akan merasa puas dan lega, sehingga rasa cemas pun akan menghilang.

OCD disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Riwayat rantai keluarga dengan OCD memiliki resiko lebih besar pada keturunan berikutnya. Faktor lingkungan yang kurang bersahabat seperti riwayat kejahatan seksual atau trauma fisik dapat menyebabkan munculnya gejala OCD.

Tipe OCD

Dalam ilmu kejiwaan, OCD dibagi menjadi 5 jenis yaitu:

  1. OCD tipe Kontaminasi
    Pada OCD tipe ini mereka suka mencuci tangan berulang-ulang karena merasa tangan telah terkontaminasi bakteri, virus, atau zat kimia. Mereka memiliki pikiran bahwa sentuhan menyebabkan tangan terinfeksi dan menyebabkan kematian.
  2. OCD tipe Checking
    OCD jenis ini paling sering ditemukan terutama mulai usia dewasa. Mereka selalu memeriksa sesuatu berulang-ulang seperti memeriksa pintu apakah telah dikunci
  3. OCD tipe Rumination
    PIkiran yang timbul pada OCD jenis ini berhubungan dengan adanya kehidupan kembali pada orang-orang yang telah mati.
  4. OCD tipe Simetri
    Bila anda pernah menemukan teman atau kerabat yang suka menyusun barang-barang yang atau benda secara simetris, berurutan, atau sejajar, mungkin saja mereka menderita OCD tipe simetris. Mereka telihat rapi dan mahir sekali menyusun barang
  5. OCD tipe Hoarding
    OCD tipe ini juga sering ditemukan. Kondisinya adalah mereka suka sekali mengoleksi barang-barang bekas atau tidak berharga karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bila barang tersebut dibuang. 

Gejala OCD

Seseorang dinyatakan sebagai pencerita OCD bila kebiasaan ini muncul selama lebih dari 2 minggu. Gejala obsesif berpacu pada pikiran yang selalu berulang-ulang yang mengakibatkan terganggunya emosional. 

Penderita OCD akan merasa agresif bila kebiasaan mereka dicoba dihentikan oleh orang lain. Mereka akan menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk mengulang kegiatan tersebut, hingga mereka mendapat kepuasan dan cemas pun menghilang. 

Gejala tersebut datang dan pergi, hingga dapat semakin berat. Saking merasa terganggunya mereka bahkan mencoba meghilangkan kebiasaan tersebut dengan merokok atau minum alkohol dengan alasan untuk melegakan pikiran dan kecemasan. 

Terapi OCD

Untuk menangani OCD, diperlukan dua jenis pengobatan yaitu dengan obat-obatan dan terapi psikologis.

1. Cognitive Behavioural Therapy (CBT)

Terapi psikologis ini membantu mengatasi rasa takut dan cemas secara psikologis dan memberikan saran baik akan pikiran yang berlangsung. Terapi ini menjadi tatalaksana awal pada penderita OCD. 

Jenis terapi CBT yang digunakan sekarang adalah EXRP atau Exposure and Response Prevention. Terapi ini juga cocok bagi penderita depresi, gangguan cemas, dan gangguan dismorfik tubuh. 

2. Terapi Obat

Jika terapi CBT tidak berjalan baik selama 2 minggu, perlu obat-obatan untuk meredakan gejala. Obat utama yang diberikan adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI).  

Nama obat yang sering digunakan yaitu Fluoksetin dan setralin. Obat ini dikonsumsi secara berkelanjutan selama 1 tahun dan diperhatikan efeknya. Dosis semakin lama semakin diturunkan hingga gejala OCD menghilang. Terapi kombinasi dengan CBT dilanjutkan selama 6 bulan bersamaan dengan terapi obat-obatan. 



23 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Why we don't recommend couples counseling for abusive relationships. (2014). (https://www.thehotline.org/2014/08/01/why-we-dont-recommend-couples-counseling-for-abusive-relationships/)
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2012). An attachment perspective on psychopathology. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3266769/)
Harmful masculinity and violence. (2018). (https://www.apa.org/pi/about/newsletter/2018/09/harmful-masculinity)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app