Inilah Yang Dirasakan Penderita Buta Warna Parsial

Dipublish tanggal: Sep 21, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit

Tidak jarang orang salah menebak warna dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang tidak dapat membedakan warna hijau dan biru atau warna merah dengan merah maroon. Kesulitan membedakan warna ini sebuat juga dengan buta warna

Sebagian besar orang yeng menderita buat warna mengalami buta warna parsial. Hanya sebagian kecil orang yang mengalami buta warna total. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Penderita buta warna memiliki ciri -ciri, yaitu mempunyai pandangan yang berbeda tentang warna, dan tidak mampu membedakan warna tertentu. 

Kondisi buta warna sering ditandai dengan sulitnya seseorang untuk menyebutkan nama  warna sejak kecil. Penderita akan berbeda-beda dengan anak-anak seusianya yang dapat mengenali warna dengan mudah. 

Mengenali penyebab Buta Warna 

Pada dasarnya, terdapat dua jenis buta warna, yaitu buta warna parsial dan buta warna total atau sebagian. Pada jenis buta warna parsial, penderita kemungkinan mengalami kesulitan dalam membedakan sebagian warna. 

Kemudian, pada jenis buta warna total, penderita tidak memiliki kemampuan untuk melihat warna sama sekali. Buta warna total sering juga dikenal dengan penglihatan monokromatik. 

Kondisi buta warna parsial umumnya disebabkan oleh faktor keturunan yang diwariskan dari keluarga yang mengidap kelainan pada fotopigmen. 

Fotopigmen merupakan molekul yang berfungsi untuk mengindentifikasi wanra dalam sel-sel berbentuk kerucut pada retina mata

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Di samping faktor keturunan, buta warna juga dapat terjadi akibat adanya kerusakan oleh paparan bahan kimia, atau cdera fisik pada mata, saraf penglihatan, dan bagian otak yang berfungsi untuk memproses informasi. 

Tidak ketinggalan, perpaduan usia dan katarak juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sesoerang mengalami buta warna. 

Memahami klasifikasi Buta Warna Parsial 

Berdasarkan klsifikasinya, buta warna parsial mencakup dua golongan, yaitu buta warna atau ketidakmampuan membedekan warna pada gradais merah-hijau, dan buta warna yang tidak sulit membedakan warna biru-kuning. 

Ketidakmampuan dalam membedakan warna merah- hijau terjadi akibat fungsi sel kerucut merah atau kerucut hijau berkurang atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Buta waran merah-hijau terbagi atas empat macam, yaitu: 

Deuteranopi 

Deuteranopi merupakan kondisi dimana penderita buta warna tidak memiliki sel kerucut hijay sehingga mereka cenderung melihat warna merah menjad warna kuning kecokelatan dan warna hijau. 

Protanopia 

Kondisi ini terjadi akibat tidak adanya sel kerucut merah sehingga membuat warna tampak terlihat seperti warna hitam. Sedangkan warna hijau dan jingga akan terlihat seperti warna kuning. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Pengidap protanopia juga tidak mampu membedakan warna ungu dan biru. 

Protanomali 

Protanomali merupakan kondisi di mana fungsi dari fotopigmen merah terganggu yang mengakibatkan warna merah, jingga, dan kuning terlihat lebih gelap seperti warna hijau. 

Kondisi ini tidak mengkhawatirkan karena hanya dialami oleh sekitar satu persen pria dan tidak memliki pengaruh yang berlebihan akan aktivitas sehari-hari. 

Deuteranomali 

Deuteranomali akan membuat penderitanya melihat warna hijau dan kuning menjadi kemerahan dan tidak dapat membedekan warna ungun dan biru. 

Kondisi ini terjadi akibat tidak normalnya fotopigmen biru, namun tidak membahayakan. Sekitar lima persen pria yang mengalami buta warna mengidap kondisi ini. 

Sementara itu, buta warna biru dan kuning terjadi akibat pigmen foto kerucut biru (tritan) menghilang atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Buta warna jenis deuteranomali terbagi atas dua macam, yaitu tritanomali dan tritaopian. 

Tritanomali merupakan kondisi yang terjadi akibat terganggunya fungsi fotopigemn biru sehingga penderita akan melihat warna biru tampak seperti warna hijau, terlihat menjadi ungu atau abu-abu muda. 

Tritanomali merupakan kondisi yang langka untuk dialami, baik oleh pria maupun wanita. 

Sedangkan tritanopia merupakan kondisi dimana tidak adanya sel kerucut biru yang cukup sehingga pengidapnya akan melihat warna biru tampak seperti warna hijau dan warna kuning terlihat seperti warna ungu atau abu-abu muda. 

Sama seperti tritanomali, tritanopia juga merupakan kondisi yang jarang dialami, baik oleh pria maupun wanita. 

Buta warna parsial merupakan kondisi yang bersifat keturunan sehingga tidak bisa disembuhkan, karena Anda tidak dapat menggantikan sel kerucut pada retina

Namun, selama kondisi yang Anda alami ini tidak berbahaya dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hati, maka tidak perlu penanganan khusus karena tidak menimbulkan gamgguan kesehatan. 

Namun, jika buta warna parsial yang dialami terjadi akibat mengonsumsi obat-obatan tertentu atau kondisi kesehatan tertentu, maka kondisi ini memerlukan pemeriksaan dan penanganan khusus oleh dokter. 

Jangan ragu untuk selalu memeriksakan kondisi buta warna parsial ke dokter agar mendapatkan saran yang tepat sehingga Anda dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan lancar. 


12 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Xie J, et al. (2014). Color vision deficiency in preschool: The multi-ethnic pediatric eye disease study. DOI: (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4839481)
Ward B. (2015). A world without color - researchers find gene mutation that strips color, reduces vision [Press release]. (https://ucsdnews.ucsd.edu/index.php/pressrelease/a_world_without_color_researchers_find_gene_mutation_that_strips_color_redu)
Niwa Y, et al. (2014). Evaluation of acquired color vision deficiency in glaucoma using the Rabin cone contrast test. DOI: (https://doi.org/10.1167/iovs.14-14079)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app