Doctor men
Ditulis oleh
HONESTDOCS EDITORIAL TEAM
Doctor men
Ditinjau oleh
DR. VINA SETIAWAN
Makanan dan Diet Sehat

Gangguan Saraf Mata: Penyebab, Gejala dan Cara Pengobatan

Penyakit ini perlu penanganan segera agar kerusakan tidak semakin parah. Di bawah ini adalah gejala dari penyakit saraf mata hingga penanganannya yang perlu anda ketahui.
Dipublish tanggal: Jun 21, 2019 Update terakhir: Feb 11, 2020 Tinjau pada Sep 3, 2019 Waktu baca: 2 menit
Gangguan Saraf Mata: Penyebab, Gejala dan Cara Pengobatan

Saraf mata merupakan fotoreseptor kecil yang terletak pada bagian retina atau bagian belakang di dalam mata. Fotoreseptor ini berfungsi sebagai sensor cahaya dan mengirimkan sinyal yang diterima menuju otak. 

Penyakit saraf mata berupa terjadinya kerusakan di bagian saraf mata maupun daerah pada belakang otak yang menyebabkan informasi penglihatan terganggu hingga menyebabkan hilangnya penglihatan. Penyakit ini perlu penanganan segera agar kerusakan tidak semakin parah. 

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat

Di bawah ini adalah gejala dari penyakit saraf mata hingga penanganannya yang perlu anda ketahui.

Penyebab penyakit saraf mata

Patut diketahui bahwa kedua mata bekerja mengirimkan sinyal yang diterima yang kemudian diteruskan ke bagian belakang otak. Otak memiliki bagian optic chiasm yang merupakan sistem saraf yang saling membelah dan melintang antara satu dan lainnya. 

Ketika serat saraf ini rusak, maka akan menyebabkan pola tertentu terhadap kerusakan penglihatan.

Penyebab penyakit mata sendiri beragam dan memiliki berbagai pemicu yang menyebabkan penyakit ini timbul. Beberapa faktor penyebab penyakit saraf mata adalah:

  • Adanya penyakit yang dapat mempengaruhi saraf pada mata
  • Efek samping yang muncul akibat mengkonsumsi beberapa jenis obat untuk saraf mata
  • Faktor keturunan, misalnya dari orangtua, saudara kandung dan sebagainya
  • Terjadi peningkatan produksi pada cairan mata di badan siliar
  • Adanya kelainan pada mata
  • Produksi cairan mata pada bagian sudut mata. Cairan ini juga bisa muncul di celah pupil

Faktor risiko penyakit

Beberapa faktor risiko berikut meningkatkan peluang terjadinya penyakit saraf mata.

  • Mutasi genetic. Mutasi genetic bisa menjadi salah satu faktor risiko yang mengembangkan neuritis optic
  • Gender. Wanita memiliki risiko neuritis optic lebih besar dibandingkan pria
  • Usia. Faktor usia menjadi salah satu faktor risiko terbesar. Orang dewasa berusia 20 sampai 40 tahun lebih berpeluang terkena penyakit saraf mata

Gejala penyakit saraf mata

Pasien yang menderita penyakit saraf mata akan mengalami beberapa gejala di bawah ini:

Iklan dari HonestDocs
Mau Pesan Obat? Beli Aja via HonestDocs!

Klik di sini dan beli obat via HonestDocs, langsung dapat GRATIS ongkir* ke seluruh wilayah Indonesia!

Iklan obat
  • Ketika posisi mata membengkak maka mata akan terasa sakit
  • Muncul keinginan untuk terus-menerus mengedipkan mata bahkan dengan memberikan tambahan tekanan ketika mengedipkan mata
  • Warna pelangi seolah-olah muncul ketika melihat lampu neon maupun sumber cahaya yang lain
  • Penglihatan yang menjadi semakin normal setelah sebelumnya kabur

Pengobatan gangguan saraf mata

Dokter mata memiliki beragam cara yang dilakukan untuk mengobati gangguan saraf mata. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap pasien saraf mata, peneliti mencoba memberikan penanganan berupa pengobatan steroid oral atau obat kosong (placebo) dan dengan steroid intravena (IV). 

Penelitian ini dikenal sebagai Optic Neuritis Treatment Trials (ONTT). Peneliti melakukan pengobatan acak terhadap beberapa pasien gangguan saraf mata.

Hasilnya adalah pengobatan menggunakan steroid memberikan sedikit perubahan terhadap pasien. Namun terdapat perbedaan risiko kambuhan terhadap pasien yang diobati dengan steroid IV atau steroid oral. 

Pasien yang diobati dengan steroid IV memiliki risiko kambuhan yang lebih sedikit dibandingkan dengan pasien yang diobati dengan steroid oral.

Selain itu, pasien yang diobati menggunakan steroid IV memiliki risiko terkena multiple sclerosis (MS) 50 persen lebih rendah dibanding pasien yang hanya diobati dengan steroid oral atau plasebo saja. 

Dari sejumlah pasien yang diobati dengan steroid IV dan ditambahkan steroid oral mengalami MS sebanyak 7,5 persennya saja.

Berdasarkan penelitian ONTT, dokter mata kini memilih mengobati penyakit saraf mata menggunakan pengobatan steroid intravena (IV) dan steroid oral. Dokter mata tidak menganjurkan pengobatan hanya menggunakan steroid oral.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit