Efek Samping Obat Lithium yang Biasa Dikonsumsi Penderita Bipolar

Dipublish tanggal: Okt 29, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Des 17, 2019 Waktu baca: 4 menit
Efek Samping Obat Lithium yang Biasa Dikonsumsi Penderita Bipolar

Apakah Anda pernah mendengar tentang Lithium? Lithium merupakan salah satu unsur kimia dengan simbol Li dan nomor atom 3 yang dapat dijadikan obat untuk mencegah munculnya rasa senang berlebihan pada penderita gangguan bipolar, karena obat Lithium dapat membantu menstabilkan suasana hati. Beberapa merk obat Lithium antara lain Eskalith, Eskalith CR, dan Lithobid.

Baca juga: Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan Gangguan Bipolar

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

Lithium memang dapat membantu mengatasi gangguan bipolar. Namun penggunaan Lithium juga memiliki efek samping baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang perlu diperhatikan.

Efek Samping Obat Lithium Jangka Pendek

Efek jangka pendek saat pertama kali mengonsumsi Lithium antara lain diare, mual, disfungsi seksual seperti disfungsi ereksi dan menurunnya libido, berat badan bertambah, dan tangan menjadi bergetar. Selain itu, konsumsi Lithium juga bisa melemahkan fungsi kognitif serta menyebabkan sakit kepala. Beberapa efek samping tersebut lama-lama akan menghilang dengan sendirinya, contohnya adalah mual yang dialami oleh sekitar 10-20% pengguna baru Lithium.

Apabila Anda mengonsumsi Lithium sebagai obat, maka Anda perlu melakukan tes darah rutin karena Lithium dapat menumpuk di dalam darah dan berubah menjadi racun pada dosis tinggi. Apabila kadar Lithium dalam tubuh melebihi 1,5 milliequivalents per liter (mEq/l) serum darah, maka dapat menimbulkan masalah kesehatan. Efek samping dari tingginya dosis Lithium dalam tubuh dapat berupa muntah, diare, sistem koordinasi tubuh memburuk, serta otot menjadi lemah.

Begitupun dengan kadar Lithium dalam tubuh yang lebih tinggi lagi dan melebihi 2,0 mEq/l, maka akan menyebabkan pusing, penglihatan menjadi kabur, tinitus atau telinga berdengung, serta keluarnya urin yang lebih banyak. Saat kadar Lithium dalam tubuh melebihi 3,0 mEq/l, maka dapat disimpulkan bahwa kadar Lithium dalam tubuh Anda sudah sangat tinggi dan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

Namun efek samping Lithium dapat berbeda-beda pada tiap orang dan dalam konsentrasi berbeda pula. Misalnya beberapa orang mungkin akan mengalami tinitus meskipun kadar Lithiumnya masih di bawah 2,0 mEq/l. Jika terjadi overdosis Lithium, hanya ada beberapa cara perawatan seperti melakukan dialisis untuk menyaring darah penderita, memperbaiki kadar elektrolit, dan memantau keadaan kesehatannya karena hingga saat ini belum ada obat untuk mengatasi ketergantungan lithium pada tubuh. 

Efek Samping Obat Lithium Jangka Panjang

Efek samping jangka panjang dari konsumsi obat Lithium adalah terjadinya disfungsi ginjal, hipotiroidisme, dan hiperparatiroidisme. Menurut artikel review tahun 2015, wanita di bawah usia 60 tahun memiliki konsentrasi Lithium dalam darah lebih tinggi dari konsentrasi Lithium rata-rata. Akibatnya wanita di bawah usia 60 tahun lebih rentan mengalami masalah ginjal dan hipotiroidisme.

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

Berikut ini beberapa efek samping dari penggunaan obat Lithium jangka panjang:

  • Disfungsi ginjal

Konsumsi obat Lithium dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah ginjal, yaitu berkurangnya kemampuan ginjal untuk memekatkan urin. Kondisi ini disebut dengan NDI (nephrogenic diabetes insipidus) dengan gejala NDI berupa sering buang air kecil dan timbulnya rasa haus ekstrem. Selain itu, NDI juga dapat menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan kadar Lithiun dalam darah yang mengakibatkan Lithium dapat meracuni ginjal dan seluruh tubuh.

Apabila Anda akan menggunakan obat Lithium, Anda harus memantau kadar natrium dan fungsi ginjal secara teratur. Apabila ternyata ginjal sedikit bermasalah, biasanya dokter akan meresepkan obat Lithium dengan dosis yang lebih rendah atau mengganti resep obat. 

  • Masalah tiroid (hipotiroidisme)

Hipotiroidisme dapat timbul saat Anda mengonsumsi Lithium. Hipotiroidisme adalah kondisi saat kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon. Gejala yang mungkin dialami oleh penderita hipotiroidisme antara lain kulit kering, depresi, sulit berpikir dengan cepat, berat badan bertambah, kelelahan, serta intoleransi terhadap dingin atau tidak tahan terhadap dingin. Apabila Anda mengonsumsi obat Lithium, Anda harus melakukan tes rutin untuk memantau fungsi tiroid Anda.

  • Hiperparatiroidisme

Selain mempengaruhi kelenjar tiroid, konsumsi Lithium juga dapat mempengaruhi kelenjar paratiroid. Kelenjar paratiroid berfungsi untuk membantu mengatur kadar kalsium dalam tubuh dan dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mendeteksi kalsium. Akibatnya, dapat menimbulkan kondisi hiperkalsemia, yaitu terlalu tingginya kadar kalsium dalam tubuh.

Hiperkalsemia juga dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut, seperti osteoporosis dan masalah kardiovaskular. Menurut sebuah artikel dalam jurnal Case Reports in Medicine, hiperparatiroidisme yang disebabkan karena konsumsi Lithium lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

Baca juga: Jenis, Gejala, dan Penanganan Hiperparatiroidisme

Efek samping pada Kehamilan

Anda harus berkonsultasi mengenai kondisi Anda dengan dokter terlebih dahulu apabila Anda sedang mengonsumsi obat Lithium dan berencana untuk hamil, karena konsumsi Lithium dapat meningkatkan risiko kelainan pada saat persalinan, yaitu anomali Ebstein. Anomali Ebstein ini dapat mempengaruhi katup trikuspid di jantung dan biasanya dokter tidak menyarankan untuk menghentikan konsumsi obat Lithium selama masa kehamilan, namun dokter akan memantau kadar Lithium dengan sangat teliti.

Lithium dapat masuk ke dalam ASI wanita, maka biasanya dokter tidak akan merekomendasikan ibu menyusui mengonsumsi obat Lithium saat sedang menyusui. Selain itu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter atau bidan mengenai alternatif pilihan makanan yang dapat membantu menjaga kondisi kesehatan Anda dan buah hati.

Kapan Harus ke Dokter? 

Lithium akan bekerja secara efektif apabila Anda rutin mengonsumsinya setiap hari tanpa pernah terlewat sekalipun. Namun Anda harus waspada dan segera mendapatkan pertolongan medis apabila terjadi gejala seperti sulit berjalan, terjadi peningkatan rasa haus yang ekstrem, mual dan muntah parah, tangan menjadi tremor parah, kebingungan, serta terjadi perubahan daya lihat.

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Bipolar disorder - Treatment. NHS (National Health Service). (https://www.nhs.uk/conditions/bipolar-disorder/treatment/)
Lithium as Treatment for Bipolar Disorder. Verywell Mind. (https://www.verywellmind.com/speaking-from-experience-lithium-378790)
The role of lithium in the treatment of bipolar disorder: convergent evidence for neurotrophic effects as a unifying hypothesis. National Center for Biotechnology Information. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2800957/)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app