Efek Jangka Panjang Bulimia bagi Kesehatan

Dipublish tanggal: Nov 12, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Des 17, 2019 Waktu baca: 3 menit
Efek Jangka Panjang Bulimia bagi Kesehatan

Apakah Anda pernah mendengar tentang bulimia? Bulimia adalah salah satu jenis gangguan makan atau penyakit selalu merasa lapar dan selalu ingin makan, namun setelah makan selalu muntah. Dampak utama dari gangguan makan bulimia adalah kurangnya asupan makanan yang diperoleh tubuh sehingga terjadi gangguan fisiologis.

Penderita bulimia biasanya membatasi makanan karena keinginan atau pikirannya sendiri untuk menurunkan berat badan dengan cara membatasi jumlah asupan makanan secara ekstrim. Pembatasan asupan makanan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan malnutrisi dan tubuh menjadi tidak bisa menjalankan kerjanya dengan baik akibat nutrisi tubuh yang tidak tercukupi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Domperodine IF 10mg Tab via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Domperidone if 10mg tab 1

Perilaku memuntahkan makanan secara paksa sendiri dapat merusak fungsi organ pencernaan karena masing-masing organ memiliki fungsi yang spesifik dan waktu tersendiri untuk mencerna makanan. Selain memuntahkan makanannya secara paksa, penderita bulimia juga dapat menyalahgunakan konsumsi obat untuk mempercepat proses penyerapan makanan di perut dan usus. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pencernaan yang serius apabila dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

Baca juga: Jenis Gangguan Makan (Eating Disorder)

Efek Jangka Panjang Bulimia bagi Kesehatan

Berikut ini beberapa efek kesehatan jangka panjang yang mungkin dialami oleh penderita bulimia:

Osteoporosis

Bulimia dapat mengakibatkan osteoporosis apabila tulang tidak mendapatkan asupan kalsium, vitamin D, dan fosfor yang cukup sehingga kepadatan tulang akan berkurang. Jika ini terjadi, dapat membuat penderita lebih mudah mengalami pengeroposan tulang, retak maupun patah tulang. Wanita juga berisiko lebih tinggi mengalami osteoporosis jika dibandingkan dengan pria, terutama wanita yang telah mengalami menopause.

Konstipasi kronis

Gangguan konstipasi atau sembelit pada penderita bulimia dapat disebabkan akibat perilaku penderita yang berusaha mengeluarkan makanan dengan cara mengonsumsi penyalahgunaan obat pencahar maupun dengan memuntahkan kembali makanan secara paksa. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan ujung saraf pada otot usus sehingga usus tidak dapat berfungsi secara normal meskipun penggunaan obat pencahar sudah dihentikan.

Baca juga: Cara Atasi Sembelit atau Konstipasi

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Jantung via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 10

Gangguan menstruasi

Kekurangan asupan makanan dalam waktu lama juga dapat menyebabkan kerusakan sistem reproduksi pada wanita. Akibatnya siklus menstruasi menjadi tidak normal dan tidak teratur, bahkan bulimia dapat merusak siklus menstruasi sehingga terhentinya fase menstruasi seumur hidup dan meningkatkan risiko kemandulan atau tidak dapat memiliki anak. 

Kerusakan kulit dan rambut

Penderita bulimia yang mengalami kekurangan nutrisi sekaligus terlalu sering menggunakan obat pencahar dan muntah secara paksa menyebabkan terjadinya kerusakan kulit dan rambut. Hal ini menyebabkan kulit kering dan rambut menjadi rusak serta terjadi penurunan kepadatan kuku sehingga mudah patah. Untuk mengatasi kulit kering, Anda dapat menggunakan krim pelembab alami serta menggunakan lidah buaya (aloe vera) untuk memperkuat akar rambut.

Aritmia

Mengeluarkan makanan secara paksa dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh. Hal ini dapat memicu terjadinya gangguan irama jantung atau aritmia. Suatu penelitian di Jepang menunjukkan bahwa penderita bulimia akan lebih cenderung mengalami irama jantung yang tidak normal dan apabila aritmia dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan komplikasi, penyakit jantung, hingga kerusakan ginjal.

Baca juga: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Aritmia

Gangguan mental dan emosional

Tak hanya kesehatan fisik, penderita bulimia juga mungkin akan mengalami gangguan mental dan emosi. Biasanya penderita bulimia akan cenderung merasa malu dan minder terhadap berat badan dan bentuk tubuhnya sendiri sehingga akan lebih sensitif, mudah tersinggung, dan memiliki gangguan mood. Akibat kekurangan nutrisi juga dapat menyebabkan penderita jadi sulit berkonsentrasi dan bahkan menimbulkan rasa cemas, stres, depresi, dan gangguan mental lainnya.

Kerusakan gigi

Kerusakan gigi akan cenderung dialami oleh penderita bulimia yang suka secara paksa memuntahkan makanan. Saat memuntahkan makanan, asam lambung juga akan keluar bersama makanan yang belum dicerna sempurna. Secara otomatis asam lambung dan makanan tersebut akan menyentuh bagian gigi dan seiring berjalannya waktu, gigi akan lebih mudah keropos dan menyebabkan karies gigi akibat terlalu sering terpapar asam dari lambung.

Pembengkakkan kelenjar saliva

Kelenjar saliva atau kelenjar ludah yang berfungsi untuk menghasilkan air liur akan terluka akibat kebiasaan mengeluarkan kembali makanan secara paksa oleh penderita bulimia. Akibatnya, kelenjar saliva di dalam rongga mulut akan membengkak sehingga tampak seperti pembengkakkan di sekitar wajah dan dapat disertai dengan pembengkakkan tenggorokan.

Penderita bulimia seringkali tidak mengetahui resiko kesehatan dan efek jangka panjang dari kondisi bulimia, padahal efek jangka panjang bulimia yang paling serius terhadap kesehatan, yaitu kerusakan jantung dan kerusakan sistem pencernaan. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, bulimia dapat menyebabkan kanker esofagus akibat kerja usus menjadi tidak normal karena adanya upaya mengeluarkan makanan yang sudah ditelan secara paksa.

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app