Cephalgia - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Jan 28, 2022 Tinjau pada Jun 13, 2019 Waktu baca: 4 menit

Rasa nyeri di kepala kadang datang saat badan terasa tidak fit, kurang minum (dehidrasi), kepanasan, atau kelelahan akibat aktivitas padat. Faktanya, ada banyak jenis sakit di kepala yang memiliki istilah yang berbeda-beda. Salah satunya adalah kondisi bernama cephalgia.

Apa itu cephalgia?

Cephalgia adalah nyeri kepala atau sakit kepala. Cephalgia (baca: sefalgia) berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata 'cephalo' yang berarti kepala dan 'algos' yang berarti nyeri. 

Penggunaan istilah sakit kepala ini sering kali disamakan dengan pusing, padahal pengertiannya di dalam dunia medis berbeda. Pada saat pasien datang ke dokter sering kali mengeluhkan pusing, kemudian dokter menanyakan kembali gejala yang dirasakan seperti apa. Apakah yang dirasakan itu sensasi kepala berdenyut atau seolah-olah kepala berputar? 

Apabila pasien merasakan sensasi kepala berdenyut (orang awam sering menyebut dengan istilah “nyut-nyutan”), maka gejala yang dirasakan pasien itu disebut dengan nyeri kepala. Sedangkan apabila yang dirasakan pasien seperti seolah-olah kepala berputar (orang awam sering menyebut dengan istilah “keliyengan”), maka gejala yang dimaksud adalah pusing atau istilah medisnya dikenal dengan vertigo.

Mengapa dua jenis gejala ini perlu dibedakan? Karena penyebabnya berbeda sehingga penanganannya pun berbeda. 

Hampir semua orang pasti pernah mengalami cephalgia. Ini merupakan jenis nyeri yang paling umum terjadi dan menjadi penyebab utama alasan seseorang mengunjungi dokter. 

Cephalgia dapat merupakan suatu penyakit tersendiri, bisa karena adanya gangguan di kepala atau merupakan suatu gejala dari penyakit lain. Hampir pada semua penyakit, pasien mengeluhkan adanya sakit kepala.

Mengenai cephalgia

Jenis

Jenis cephalgia terdiri dari 5 tipe, yaitu :

1. Tension headache

Merupakan jenis cephalgia yang paling sering terjadi. Gejala tension headache adalah nyeri atau adanya tekanan di sekitar kepala, terutama di kepala bagian belakang dan leher. Jenis nyeri kepala ini biasanya ringan, tidak sampai menimbulkan mual dan muntah, serta tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebab tension headache diduga terjadi karena adanya spasme otot di daerah tengkuk, bahu, rahang, dan leher atau dapat disebabkan adanya gangguan neutransmiter di otak. Jenis cephalgia ini juga bisa dipicu oleh stres, depresi, atau kecemasan. 

Anda berisiko terkena Tension headache jika terlalu banyak bekerja, kurang tidur, telat makan, atau mengonsumsi alkohol. Gejala tension headache biasanya membaik dengan penggunaan obat analgetik (penghilang nyeri), seperti aspirin, parasetamol, atau ibuprofen.

2. Cluster headache

Cluster headache lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita. Nyeri kepala jenis ini sering kali terjadi berulang, muncul secara tiba-tiba dan keluhan yang dirasakan semakin berat. Gejala cephalgia berupa cluster headache disertai dengan mata berair, hidung tersumbat, atau hidung berair pada salah satu sisi yang sama dengan kelemahan salah satu sisi kepala.

Selama serangan muncul, pasien merasa sangat tidak bertenaga, tidak nyaman, dan selalu ingin berbaring. Jika dilihat, ciri-ciri cluster headache mirip dengan migraine. 

Bedanya, penyebab cluster headache tidak diketahui, sedangkan penyebab migrain diketahui. Cluster headache diduga berkaitan dengan faktor genetik.

Cluster headache tidak dapat disembuhkan. Akan tetapi, penggunaan obat-obatan sakit kepala dapat mengurangi frekuensi dan durasi terjadinya cluster headache.

3. Sinus headache

Sinus merupakan rongga-rongga yang ada di tulang tengkorak wajah. Apabila terjadi inflamasi atau peradangan di daerah sinus, biasanya karena adanya infeksi, maka akan menimbulkan nyeri di rongga sinus dan dapat menjalar ke kepala. 

Selain sakit kepala, keluhan sinus headache biasanya disertai dengan demam. Diagnosis sinus headache dilakukan dengan pemeriksaan fiber-optic untuk melihat ada tidaknya pus di rongga sinus.

Untuk mengobati sinus headache, dokter akan meresepkan obat sesuai dengan penyebabnya, biasanya berupa antibiotik. Obat-obatan lain dapat digunakan untuk mengatasi gejala, seperti obat golongan antihistamin atau dekongestan.

4. Rebound headache

Jenis cefalgia ini muncul karena terlalu banyak penggunaan obat penghilang nyeri untuk menghilangkan nyeri kepala. Alih-alih menyembuhkan sakit kepala, hal tersebut malah dapat memicu nyeri kepala muncul kembali.

5. Migraine headache

Migrain headache merupakan sakit kepala berdenyut yang hanya terjadi di salah satu sisi, bisa di sebelah kanan saja atau sebelah kiri saja. Ciri-ciri migraine headache lainnya meliputi nyeri kepala yang timbul sangat hebat, nyeri pada mata, sensitif terhadap cahaya, bau, dan suara, mual dan muntah. 

Gejala cephalgia jenis ini biasanya menetap dan semakin terasa berat saat pasien beraktivitas. Keluhannya dapat berlangsung selama beberapa jam, namun ada yang sampai beberapa hari.

Gejala migraine dapat membaik dengan obat-obatan seperti paracetamol, ibuprofen, naproxen sodium, triptan, natrium diklofenak, atau golongan narkotik.

Pengobatan cephalgia

Setiap jenis cephalgia memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Pada umum, setiap tipe cephalgia dapat membaik dengan konsumsi obat analgetik yang dijual bebas di warung, contohnya paracetamol. Walaupun dijual secara bebas dan dapat dikonsumsi secara aman, penggunaan parasetamol harus tetap sesuai aturan dan tidak boleh berlebihan.

Tidak semua jenis-jenis dari cephalgia tersebut membutuhkan penanganan dari dokter, walaupun nyeri kepala bisa menjadi suatu gejala penyakit serius. Jika sakit kepala muncul tiba-tiba, terasa sangat berat, atau tidak kunjung sembuh meski sudah minum obat, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

Untuk membantu meringankan gejala dan kekambuhan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Hindari stres
  • Beristirahat yang cukup
  • Makan makanan sehat dan teratur
  • Berolahraga teratur
  • Hindari konsumsi alkohol

37 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Sullivan E, et al. (2010). Management of menstrual migraine: A review of current abortive and prophylactic therapies. DOI: (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2989388/)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app