Tips Sukses Menyapih Anak Usia 2 Tahun Tanpa Drama

Dipublish tanggal: Agu 19, 2019 Update terakhir: Jan 18, 2023 Tinjau pada Okt 24, 2019 Waktu baca: 3 menit
Tips Sukses Menyapih Anak Usia 2 Tahun Tanpa Drama

Bagi kebanyakan ibu, proses menyapih anak menjadi momen menantang sekaligus penuh drama. Momen ini seakan-akan menjadi perpisahan bagi anak dengan "minuman favoritnya" selama 2 tahun kehidupannya. Maka tak heran jika akhirnya si kecil akan rewel dan uring-uringan tanpa minum ASI.

Kalau sudah begitu, kebanyakan ibu biasanya jadi tidak tega dan membiarkan si kecil terus menyusu meskipun usianya sudah lebih dari 2 tahun. Lantas, bagaimana cara menyapih anak dengan lancar tanpa penuh drama? Berikut tips dan triknya.

Kapan sebaiknya anak mulai berhenti minum ASI?

Tidak selamanya si kecil akan bergantung dengan air susu ibu (ASI). Sejak 6 bulan saja, bayi sudah mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk melengkapi kebutuhan nutrisinya.

Menurut American Academy of Pediatrics, pemberian ASI memang idealnya sampai anak berusia 2 tahun. Selama 6 bulan pertama sejak kelahirannya, bayi hanya diberikan ASI saja. Kemudian lanjut sampai 2 tahun, ASI tetap diberikan tapi disertai dengan makanan lunak atau MPASI.

Menginjak usia 2 tahun, ASI sudah tidak lagi menjadi "minuman favorit" yang cocok untuk batita. Pasalnya, fungsi organ-organ tubuh anak mulai berkembang dan dianggap siap menerima tekstur makanan yang lebih kompleks seperti orang dewasa. 

Semakin bertambahnya usia, jumlah kebutuhan gizi anak juga akan semakin banyak. Mengonsumsi makanan keluarga akan membuat si kecil mendapatkan asupan zat gizi yang lebih bervariasi dan lengkap, sehingga kebutuhan nutrisinya tetap terjaga.

Cara menyapih anak balita tanpa banyak drama

Setiap orangtua tentu punya caranya sendiri-sendiri dalam menyapih anak. Ingat, tidak ada cara menyapih anak yang terbilang salah atau benar. Momen menyapih anak pun terjadi secara alami, melihat dari kesiapan anak dan ibu itu sendiri. 

Berikut ini beberapa cara menyapih anak balita yang bisa Anda terapkan di rumah, di antaranya:

1. Komunikasikan dengan anak

Kunci terpenting dalam keberhasilan menyapih anak adalah jangan pernah dipaksakan. Anda dan si kecil harus sama-sama menikmati prosesnya tanpa keterpaksaan. Semakin dipaksakan, anak akan semakin tidak nyaman dan sulit melepaskan ASI favoritnya.

Coba bicarakan dengan si kecil dan berikan pemahaman secara perlahan. Beri tahukan bahwa anak sudah cukup besar dan bukan bayi lagi, sehingga tidak cocok untuk minum ASI. 

Jangan menyapih anak secara tiba-tiba tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Sebaiknya buat kesepakatan dengan anak kapan ia akan mulai lepas ASI.

Misalnya katakan padanya, "Mulai minggu depan, adik sudah tidak menyusu lagi, ya, karena adik sudah besar". Kalau anak belum menyanggupi, bantu si kecil menentukan kapan ia siap disapih. Dengan komunikasi yang baik, anak akan lebih mudah memahami dan bisa menjalani masa-masa penyapihan dengan baik.

Baca Juga: Tips Menghadapi Anak Sering Merengek

%70358276941360%

2. Pastikan anak dalam kondisi sehat

Jika anak demam tepat di hari ulang tahunnya yang ke-2 tahun, jangan paksakan untuk menyapihnya di hari itu. Tunggulah sampai si kecil merasa lebih baik dan sehat sampai ia siap disapih.

Begitu juga kalau Anda jatuh sakit. Sebaiknya tunda dulu proses menyapih anak sampai Anda benar-benar kembali sehat. Anda dan si buah hati tentu akan lebih menikmati proses "peralihan" ini jika keduanya dalam kondisi sehat.

Baca Selengkapnya: Waspada Stunting Pada Anak, Yuk Kenali Gejalanya Sejak Dini!

3. Kurangi frekuensi menyusui sedikit demi sedikit

Anda mungkin ingin segera berhenti menyusui secara langsung. Alih-alih melancarkan proses menyapih, hal ini justru bisa memicu payudara bengkak, nyeri puting, bahkan menekan sisi psikologis ibu dan bayi.

Itulah sebabnya, berhenti menyusui total secara langsung bukanlah cara menyapih anak yang tepat. Ada baiknya, kurangi frekuensi menyusui sedikit demi sedikit dan jangan terburu-buru.

Sebagai langkah awal, coba hilangkan momen menyusui di waktu-waktu yang tidak terlalu penting bagi batita. Misalnya momen menyusui di siang hari setelah si kecil bermain.

Ketika anak merasa lelah, lapar, dan mulai ingin menyusu, berikan camilan ringan untuk mengisi perutnya. Lakukan selama beberapa hari sampai anak terbiasa tidak menyusu di siang hari.

Menghentikan proses menyusui di pagi dan malam hari biasanya menjadi momen paling sulit dan rentan membuat anak rewel. Lagi-lagi, lakukan secara bertahap sambil memberikan afirmasi positif pada si kecil.

4. Alihkan perhatian anak

Untuk menghindari anak kembali rewel atau menangis karena ingin menyusu, coba alihkan perhatian anak pada hal-hal yang disukainya. Bisa dengan memberikan berbagai makanan favoritnya seperti buah potong, susu botol, biskuit, dan sebagainya.

Selesai makan camilan, ajak anak bermain sambil belajar dengan membaca buku, menyusun balok, atau bermain peran. Hal ini dapat membantu membuat anak lupa terhadap kebiasaan menyusu.

5. Cari cara lain untuk menidurkan anak

Menyusui biasanya menjadi cara paling ampuh untuk menidurkan anak. Namun bagi Anda yang sedang berjuang menyapih anak, jangan langsung menyerah memberikan ASI ketika si kecil susah tidur.

Langkah pertama, siapkan sebotol susu hangat dan berikan menjelang waktu tidur anak. Sembari buah hati Anda minum susu, usap kepala dan tubuhnya secara perlahan agar si kecil merasa tenang.

Kalau tidak berhasil, duduklah di kursi goyang atau gendong anak sampai terlelap. Metode kulit ke kulit (skin to skin) bisa membantu membuat anak merasa nyaman dan pada akhirnya tidur dengan sendirinya tanpa harus menyusu.

Baca Juga: Cara Membuat Anak Cepat Tidur


5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Weaning Your Child (for Parents). Nemours KidsHealth. (https://kidshealth.org/en/parents/weaning.html)
Weaning: When and how to stop breastfeeding. BabyCenter. (https://www.babycenter.com/0_weaning-when-and-how-to-stop-breastfeeding_3272.bc)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app