Perawatan Tubuh

Bau Kaki

Dipublish tanggal: Mar 14, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Apr 4, 2019 Waktu baca: 3 menit
Bau Kaki

Beberapa dari kamu pasti pernah menemui orang dengan bau kaki yang kurang sedap atau mungkin memiliki masalah dengan bau kaki. Memiliki bau kaki disebabkan oleh keringat berlebih ketika menggunakan alas kaki tertutup. 

Bau kaki bukan disebabkan oleh penyakit berbahaya namun dapat menyebabkan kurang percaya diri saat bertemu dengan orang lain. Artikel berikut akan membahas penyebab dan cara mengatasi bau kaki. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Salah satu hal yang mengganggu penampilan adalah bau kaki. Bau kaki bisa dialami oleh pria atau pun wanita. Aroma tidak sedap yang muncul bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa tidak percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.  

Penyebab bau kaki

Bau kaki, atau yang dikenal dengan istilah medis Bromodosis, adalah suatu kondisi medis yang umum yang disebabkan oleh timbunan keringat sehingga menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Bakteri yang tumbuh inilah yang menyebabkan bau kaki menjadi tidak sedap.  Beberapa bakteri penyebab bau kaki diantaranya Corynebacterium dan Micrococcus sedentarius. Kaki yang berkeringat akan melunakkan lapisan tanduk (keratin) yang mengakibatkan bakteri mudah untuk masuk ke lapisan kulit dibawahnya.

Ada lebih banyak kelenjar keringat pada kaki dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, sehingga kaki mampu menghasilkan lebih banyak keringat. Kelenjar keringat yang berada pada kaki mengeluarkan keringat secara terus menerus, tidak seperti kelenjar keringat pada anggota tubuh lainnya. 

Hal ini karena keringat yang dikeluarkan oleh kaki berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh saat udara panas atau ketika berolahraga, dan untuk menjaga kelembaban kulit.  

Secara alami, terdapat sebagian kecil bakteri pada kaki. Kondisi kaki yang lembab saat berkeringat, menjadi media yang baik bagi petumbuhan bakteri sehingga jumlahnya meningkat. Bakteri yang ada kemudian memecah senyawa organik dari keringat yang memiliki aroma tidak sedap.  

  • Menggunakan sepatu dalam keadaan lembab atau basah 
  • Perilaku yang tidak higienis misalnya jarang membersihkan kaki atau menggunakan kaos kaki yang sama secara terus menerus tanpa menggantinya.
  • Perubahan hormon pada tubuh biasanya terjadi pada remaja dan wanita hamil. 
  • Melakukan aktivitas yang banyak menggunakan kaki misalnya berjalan atau berlari dalam jarak yang cukup jauh.
  • Berada dalam kondisi stress
  • Berada dalam kondisi kesehatan tertentu misalnya Athlete’s Foot yang disebabkan oleh infeksi jamur sehingga menimbulkan rasa gatal, kulit kaki kering dan pecah-pecah. 
  • Hiperhidrosis yaitu sebuah kondisi gangguan neurologis atau metabolism yang menyebabkan produksi keringat yang berlebihan.

Mencegah bau kaki

Permasalahan bau kaki dapat diatasi dengan cara yang mudah, cepat, dan tidak memerlukan banyak biaya. Berikut adalah beberapa cara dan pencegahan masalah bau kaki:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31
  • Mencuci dan menyikat kaki dengan sabun setidaknya sekali sehari Waktu terbaik untuk membersihkan kaki adalah dipagi hari atau malam sebelum tidur. Setelah itu, keringkan kaki dan memastikan tidak ada bagian kaki yang berair, terutama pada sela-sela jari. 
  • Memotong dan membersihkan kuku kaki secara rutin
  • Mengganti kaos kaki sehari sekali dan memilih bahan kaos kaki yang mampu menyerap keringat dengan baik
  • Membersihkan atau mencuci sepatu secara rutin, paling tidak sekali dalam seminggu
  • Menyimpan sepatu di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik, kering, dan sejuk
  • Tidak menggunakan sepatu dalam keadaan lembab atau basah
  • Menggunakan bedak kaki atau semprotan antijamur pada kaki Alternatif lain adalah dengan menggunakan deodoran yang biasa dipakai di ketiak untuk dioleskan atau disemprotkan pada kaki. 

Mengatasi bau kaki dengan bahan alami

Terdapat juga beberapa cara alternatif untuk mengatasi bau kaki menggunakan bahan-bahan yang tersedia di rumah, misalnya:

Cuka Apel

Campurkan 1 bagian cuka dan 2 bagian air dalam wadah untuk merendam kaki. Campuran ini berguna untuk menurunkan jumlah bakteri penyebab bau kaki. Cuka apel memiliki kemampuan antibakteri dengan menekan pertumbuhan bakteri tersebut.

Teh

Celupkan 4 hingga 5 kantong teh kedalam satu liter air hangat. Setelah dingin, rendam kaki selama 20 menit dan lakukan setiap hari. Teh mengandung senyawa non polymeric phenolic (NP) dan polymeric tannin (PT) yang berfungsi sebagai anti oksidan dan anti bakterial. Efek Antibakterial terbesar ditemukan pada teh hitam.

Garam

Campurkan ½ gelas garam ke dalam 4 gelas air. Rendam kaki selama 10-15 menit, kemudian keringkan kaki dengan sempurna.Garam (NaCl) memiliki efek membunuh bakteri (bakteriosidal) dengan proses yang dinamakan osmosis yaitu garam dapat menarik cairan dari sel bakteri yang menyebabkan bakteri kehilangan air dan mengalami kematian.

Minyak aroma terapi (Lavender oil) 

 Letakkan 2 tetes lavender oil pada 3 – 4 liter air, kemudian gunakan untuk merendam kaki selama 10 – 15 menit. Dapat juga dengan meneteskan 4 tetes lavender oil untuk memijat kaki. Lavender (Lavandula spp) dapat digunakan sebagai antibakteri,anti jamur, antikecemasan, antidepresi dan repelen alami.

Kaki berkeringat adalah hal umum yang dialami oleh setiap orang. Menjaga kebersihan kaki dapat mencegah terjadinya masalah bau kaki. Pada sebagian kasus, apabila bau kaki tidak menghilang dalam waktu lama dengan berbagai cara dan bau semakin menyengat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau dermatologis. 

Dokter atau dermatologis akan memberikan resep antijamur yang tepat atau melakukan beberapa tes untuk mengetahui penyebab produksi keringat yang berlebihan.

8 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app