5 Penyebab Timbulnya Aroma Tak Sedap di Area Kewanitaan

Dipublish tanggal: Jun 28, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Tinjau pada Sep 20, 2019 Waktu baca: 2 menit
5 Penyebab Timbulnya Aroma Tak Sedap di Area Kewanitaan

Mencium bau aroma yang tidak sedap dari area kewanitaan tidak hanya menimbulkan rasa tidak percaya diri ketika berhadapan dengan pasangan. Akan tetapi bau menyengat yang timbul dari vagina bisa disebabkan karena adanya infeksi bakteri pada vagina, sehingga Anda harus mewaspadai hal ini dengan sebaik mungkin untuk menghindari aroma yang tidak sedap pada area vagina.

Apabila Anda tidak memiliki vagina dengan aroma yang kurang sedap, jangan membiarkan hal ini begitu saja. Akan tetapi Anda harus mengatasi aroma yang kurang sedap tersebut dengan cara yang tepat. 

Semakin Anda mengabaikan aroma tidak sedap tersebut, maka aroma tidak akan menghilang, melainkan justru akan semakin parah.

Berikut ini 5 ancaman yang dapat menimbulkan aroma tidak sedap pada area kewanitaan, diantaranya yaitu:

Jarang mengganti pembalut pada saat menstruasi

Pada saat menstruasi vagina cenderung lebih mudah terserang berbagai jenis penyakit akibat dari infeksi maupun bakteri. Sedangkan untuk darah menstruasi yang sudah meninggalkan tubuh terkontaminasi bersama organisme bawaan yang ada di dalam tubuh. 

Untuk menjauhkan Anda dari bakteri atau kuman yang terkontaminasi, Anda harus lebih rutin mengganti pembalut dari 4 hingga 5 kali dalam sehari.

Semakin sering Anda mengganti pembalut, maka akan menghindarkan bau anyir. Jika Anda malas mengganti pembalut, maka bau anyir dapat menimbulkan bau yang kurang sedap bahkan menimbulkan bau busuk yang membuat Anda merasa kurang nyaman.

Pemakaian celana dalam yang salah

Pemakaian celana dalam yang salah juga bisa menimbulkan aroma vagina yang menyengat. Kesalahan tersebut dapat terjadi karena penggunaan celana dalam yang terlalu ketat, tidak menggunakan celana dalam yang terbuat dari bahan katun. 

Apabila Anda menggunakan celana dalam selain bahan katun, maka vagina sulit bernafas dan menimbulkan kelembaban.

Kebersihan vagina yang kurang terjaga

Keunikan yang dimiliki oleh vagina yaitu, vagina dapat membersihkan area kewanitaan sendiri. Namun wanita tetap harus menjaga kebersihannya secara rutin. 

Cara membersihkan vagina yang tepat yaitu selalu mencuci vagina dengan bersih setelah buang air kecil atau air besar dengan satu arah, yaitu dari depan ke belakang.

Selain itu, mengganti celana dalam sesering mungkin juga dapat Anda lakukan untuk menghindari vagina yang lembab. Karena semakin vagina lembab, maka dapat menimbulkan jamur, infeksi maupun bakteri yang dapat menempel pada area vagina.

Terlalu sering menggunakan vaginal douche

Menggunakan produk kewanitaan memang akan membantu Anda untuk menciptakan vagina yang segar dan nyaman. Namun sayangnya, apabila Anda terlalu sering menggunakannya, maka hal ini justru akan menimbulkan risiko serangan bakteri yang dapat menimbulkan aroma yang tidak sedap pada bagian vagina.

Mengkonsumsi makanan yang dapat menimbulkan bau pada vagina

Jenis makanan yang dapat memberikan ancaman terdapat bau vagina yaitu mengkonsumsi makanan yang salah. Ada beberapa jenis makanan yang akan menimbulkan aroma yang kurang sedap pada bagian vagina, diantara yaitu seperti bawang putih, tempe, pete maupun makan jenis yang lainnya.

Apabila Ada sudah mengetahui 5 ancaman yang dapat membuat vagina Anda menimbulkan bau yang tidak sedap, maka Anda harus menghindari ke 5 ancaman di atas. 

Penting bagi para wanita untuk menjaga vagina nya agar tidak hanya segar saja, akan tetapi Anda juga harus menjaga kesehatan vagina agar tidak menimbulkan aroma yang busuk.

 


8 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Hassan S, et al. (2011). Douching for perceived vaginal odor with no infectious cause of vaginitis: A randomized controlled trial. DOI: (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21263351)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app