4 Penyakit yang Sering Terjadi pada Fungsi Sistem Koordinasi

Penyakit yang menyerang fungsi sistem koordinasi manusia dapat mengganggu gerakan tubuh dan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Beberapa penyakit yang sering terjadi pada fungsi sistem koordinasi adalah sebagai berikut:
Dipublish tanggal: Sep 4, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit

Tubuh manusia terdiri dari beberapa organ yang mempunyai peranan dan fungsi yang berbeda. Agar organ-organ pada tubuh manusia dapat bekerja dengan baik, maka dibutuhkan fungsi sistem koordinasi. 

Fungsi sistem koordinasi adalah untuk melancarkan gerakan tubuh. Sistem koordinasi dibutuhkan oleh sistem saraf, sistem hormon (endokrin), dan sistem indera.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

Otak kecil atau cerebellum mempunyai peranan vital pada tubuh Anda. Saat Anda ingin melakukan sesuatu, otak kecil akan menerima informasi dari sistem sensorik, saraf tulang belakang, dan bagian otak lainnya. 

Setelah semuanya terintegrasi, Anda bisa melakukan gerakan sesuai keinginan. Namun jika otak kecil mengalami gangguan, maka hal ini dapat mengganggu keseimbangan tubuh. 

Otot, sendi, dan saraf juga terlibat dalam koordinasi gerakan tubuh. Saat Anda ingin melakukan sesuatu, otak akan memerintahkan ke anggota tubuh yang dituju, lalu fungsi sistem koordinasi akan menghasilkan gerakan tersebut. 

Otak kecil pada orang yang sehat dapat mengontrol dan mengatur gerakan tubuh dengan baik. Namun jika terdapat gangguan atau kelainan pada fungsi sistem koordinasi, maka organ-organ tubuh tidak dapat bekerja seperti sebagaimana mestinya. 

Lalu penyakit apa saja yang dapat terjadi jika fungsi sistem koordinasi terganggu? Simak uraian selengkapnya di bawah ini.

Penyakit pada fungsi sistem koordinasi

Penyakit yang menyerang fungsi sistem koordinasi manusia dapat mengganggu gerakan tubuh dan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Beberapa penyakit yang sering terjadi pada fungsi sistem koordinasi adalah sebagai berikut:

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

1. Dispraksia

Penyakit dispraksia dapat mengganggu gerakan tubuh dan fungsi sistem koordinasi. Dispraksia adalah penyakit yang disebabkan karena pengiriman pesan dari otak ke otot terganggu. Biasanya dispraksia sering dialami oleh anak-anak. 

Tetapi orang dewasa juga bisa terkena penyakit ini jika mengalami cedera. Tapi risiko yang paling tinggi terkena dispraksia adalah bayi yang terlahir prematur dan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang minum alkohol dan merokok selama hamil.

Indikasi awal anak terkena dispraksia dapat diamati sejak bayi ketika lambat duduk, merangkak,dan berjalan. Seiring bertambahnya usia, anak akan menjadi ceroboh, sering jatuh, dan membutuhkan waktu yang lama untuk belajar sepeda. 

Selain itu, ciri-ciri umum anak terkena dispraksia adalah anak mengalami kesulitan saat menulis, berbicara, dan mendengarkan, serta sulit mengikuti perintah.

2. Ataksia

Ataksia termasuk penyakit degeneratif yang dapat mempengaruhi otak, batang otak, atau saraf tulang belakang. Gejala seseorang terkena penyakit ataksia yakni tubuh seperti gangguan berbicara, kesulitan menelan, tremor, dan kehilangan keseimbangan dan koordinasi. 

Saat seseorang terkena penyakit ini biasanya gerakan tubuhnya akan menjadi tersentak dan terombang-ambing, bahkan bisa sering jatuh akibat gaya berjalannya tidak stabill.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Saraf & Otak via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 5

3. Penyakit parkinson

Sama halnya dengan ataksia, penyakit parkinson juga termasuk penyakit degeneratif. Penyakit parkinson dapat menyebabkan gangguan pada fungsi sistem koordinasi di otak dan biasanya dialami oleh lansia

Penyakit ini dapat mengakibatkan tremor, gerakan tubuh melambat, dan sulit mempertahankan keseimbangan tubuh. 

4. Developmental Coordination Disorder

Penyakit ini umumnya dialami oleh anak-anak selama masa perkembangan. Anak yang terkena penyakit Developmental Coordination Disorder mempunyai gejala seperti kesulitan dalam mempelajari keterampilan motorik halus dan kasar apabila dibandingkan dengan anak seusianya. 

Gejala lain yang ditimbulkan yakni kesulitan menangkap bola atau mengendarai sepeda. Selain gangguan perkembangan fisik, penyakit ini juga dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam bersosialisasi. 

Fungsi sistem koordinasi mempunyai peranan yang penting dalam tubuh manusia. Apabila fungsi sistem koordinasi terganggu, maka seseorang akan kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya. Segera konsultasikan dengan dokter apabila Anda atau keluarga Anda mengalami beberapa gejala penyakit di atas.


35 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Rodrigues, Paula & Vasconcelos, Olga. (2014). ISSUES IN DEVELOPMENTAL COORDINATION DISORDER. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/267643243_ISSUES_IN_DEVELOPMENTAL_COORDINATION_DISORDER)
Riggin EA. Allscripts EPSi. Mayo Clinic, Rochester, Minn. May 29, 2018.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app