Mutasi COVID-19 Kian Mengganas, Apa yang Harus Dilakukan?

Dipublish tanggal: Mei 5, 2021 Update terakhir: Mei 10, 2021 Waktu baca: 4 menit
Mutasi COVID-19 Kian Mengganas, Apa yang Harus Dilakukan?

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Mutasi adalah perubahan genetik virus yang memengaruhi struktur atau cara kerja virus itu sendiri.
  • Virus corona SARS-CoV-2 diketahui lebih mudah bermutasi karena termasuk jenis virus RNA yang materi genetiknya berantai tunggal.
  • Jenis mutasi COVID-19 yang ditemukan di Indonesia antara lain E484K, N439K, D614G, B.1.1.7, B.1.351, P.1, dan B.1.617.
  • Tetap lakukan protokol kesehatan 5M untuk melindungi diri dari COVID-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.
  • Vaksin COVID-19 menjadi satu-satunya cara untuk membentuk antibodi dalam tubuh agar mampu melawan virus corona.
  • Dapatkan paket tes COVID-19 berupa swab PCR, swab antigen, dan rapid test dengan promo menarik dan dokter berpengalaman melalui HDmall.
  • Gunakan fitur chat untuk berkonsultasi dengan apoteker kami secara gratis seputar obat dan pemeriksaan kesehatan yang Anda butuhkan.

Kabar mutasi COVID-19 terus merebak di tanah air. Belum selesai dengan pandemi di Indonesia, kini masyarakat juga harus mewaspadai adanya mutasi COVID-19 yang disebut-sebut dapat menyebar lebih cepat dan lebih ganas. Jika sudah menerima vaksin COVID-19, apakah risiko paparan mutasi virus ini bisa diminimalkan?

Apa itu mutasi COVID-19?

Mutasi adalah perubahan genetik virus yang memengaruhi struktur atau cara kerja virus itu sendiri. Sebetulnya, mutasi pada virus adalah hal yang wajar dan terjadi oleh semua virus, bukan hanya virus corona SARS-CoV-2. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Ambil contoh pada virus flu, virus tersebut juga sering bermutasi dan berubah sebagai bentuk penyesuaian diri agar virus bisa bertahan hidup. Itulah kenapa dokter menyarankan Anda untuk mendapatkan vaksin flu baru setiap tahunnya agar tidak mudah terinfeksi flu.

Baca juga: Vaksin Influenza, Kenali Manfaat Hingga Efek Sampingnya

Dibandingkan dengan virus lainnya, virus corona SARS-CoV-2 diketahui lebih mudah bermutasi. Hal ini karena SARS-CoV-2 termasuk jenis virus RNA yang memiliki materi genetik berantai tunggal. Karena itulah, mutasi virus corona sudah terjadi beberapa kali dan terus berkembang sampai saat ini.

Jenis-jenis mutasi COVID-19 di Indonesia

Meski setiap jalur masuk ke Indonesia sudah dijaga dengan ketat, mutasi COVID-19 masih saja lolos lewat pendatang baru dari luar negeri. Beberapa jenis di antaranya tampak mengkhawatirkan karena mutasinya mengandung protein S mirip spike yang mampu mengikat dan menginfeksi sel.

Beberapa jenis mutasi COVID-19 yang ditemukan di Indonesia antara lain:

1. E484K

Salah satu bentuk mutasi dari virus corona B.1.1.7 yang terdeteksi di Indonesia sejak Februari 2021. Sifat penyebaran dan penularannya cenderung lebih cepat, mampu melemahkan respon imun, dan efeknya lebih besar pada orang yang pernah terkena COVID-19.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

2. N439K

Varian N439K terdeteksi di Indonesia sejak November 2020. Mutasi COVID-19 ini diduga dapat mengkamuflase pembuatan antibodi dan dua kali lebih kuat menginfeksi tubuh.

3. D614G

Mutasi D614G ditemukan sejak awal tahun 2021 dan termasuk varian baru COVID-19 yang mendominasi di Indonesia. Jenis mutasi virus corona ini disebut dapat mempengaruhi efektivitas vaksin COVID-19 yang ada saat ini.

4. B.1.1.7

Varian B.1.1.7 pertama kali ditemukan di Inggris pada Desember tahun 2020 dan teridentifikasi di Indonesia pada Maret 2021. Mutasi COVID-19 ini mampu mengikat lebih erat ke sel tubuh (terutama di hidung dan paru-paru), sekitar 50-74% menyebar lebih cepat, dan berpotensi meningkatkan risiko kematian.

5. B.1.351

Varian baru B.1.351 ditemukan pertama kali di Afrika Selatan pada awal Oktober 2020. Mutasi COVID-19 jenis ini diduga dapat memengaruhi netralisasi beberapa antibodi.

6. P.1

Terdeteksi pertama kali di Amerika Serikat pada awal tahun 2021 dari seorang pelancong asal Brasil. Salah satu mutasi ganas ini bersifat 2,5 kali lebih menular dan lebih resisten terhadap antibodi sehingga meningkatkan risiko reinfeksi.

7. B.1.617

B.1.617 pertama kali ditemukan pada Oktober 2020 di India, disebut sebagai mutasi ganda karena mengandung 2 mutasi sekaligus berupa L4525 dan E484Q. Hal tersebut dikhawatirkan menjadikan virus ini jadi lebih ganas karena dapat meningkatkan transmisi virus, menurunkan kemanjuran antibodi, dan menghindari kekebalan.

Iklan dari HonestDocs
Beli Anti Virus via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 23

Apakah vaksin mampu mengatasi mutasi COVID-19?

Sejak merebaknya kabar mutasi COVID-19 di tanah air, Anda mungkin mulai mengkhawatirkan kemanjuran vaksin. Terlebih, mutasi virus corona disebut-sebut lebih cepat menyebar dan lebih ganas dibandingkan sebelumnya.

Kekhawatiran ini sempat ditujukan pada varian baru jenis D614G yang disebut-sebut dapat memengaruhi efektivitas vaksin COVID-19. Namun, kabar baiknya, salah satu vaksin yang digunakan saat ini cukup efektif menetralkan varian tersebut. Meskipun memang, hal tersebut belum tentu berlaku untuk varian virus corona lainnya sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Para peneliti tidak perlu mengubah kandungan vaksin yang sedang digunakan saat ini karena, toh, virus akan terus bermutasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa vaksin yang ada masih bisa digunakan untuk melindungi diri dari varian baru corona.

Akan tetapi, para peneliti tentunya terus melakukan pengujian terhadap obat atau vaksin COVID-19. Tujuannya supaya nantinya ada jenis vaksin corona dapat melawan setiap karakteristik mutasi atau virus baru sehingga hasilnya lebih efektif. 

Baca selengkapnya: Kupas Tuntas Vaksin COVID-19: Efikasi, Syarat, dan Efek Samping

Cara melindungi diri dari paparan mutasi COVID-19

Kabar soal varian mutasi COVID-19 yang kian merebak tentu saja membuat masyarakat panik akan potensi lonjakan kasus. Bagaimanapun, tetaplah waspada dan terus tingkatkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan.

Meskipun sudah divaksin, kunci paling penting untuk melindungi diri dari COVID-19 adalah dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Penggunaan masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak secara maksimal dapat membantu mencegah penularan COVID-19, termasuk bentuk mutasinya. Percuma juga jika kita sudah divaksin tapi mengabaikan protokol kesehatan, virus dan bentuk mutasinya akan tetap bisa menginfeksi tubuh kapan saja.

Selain dengan 3M tadi, sebaiknya tambahkan dengan 2M lainnya sehingga protokol kesehatan menjadi total 5M, yaitu:

  • Memakai masker, dianjurkan menggunakan 2 masker sekaligus (masker medis dan masker kain)
  • Mencuci tangan pakai sabun
  • Menjaga jarak
  • Menghindari kerumunan
  • Membatasi mobilitas

Jika Anda termasuk golongan orang yang boleh divaksin, segeralah dapatkan vaksin COVID-19 -- jangan ditunda. Terlepas dari apa pun bentuk mutasi virusnya, vaksin ini penting dan menjadi satu-satunya cara untuk membentuk antibodi dalam tubuh agar mampu melawan virus corona. 

5 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
WHO. SARS-CoV-2 Variants. (https://www.who.int/csr/don/31-december-2020-sars-cov2-variants/en/.). 31 Desember 2020.
WHO. The effects of virus variants on COVID-19 vaccines. (https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-effects-of-virus-variants-on-covid-19-vaccines). 1 Maret 2021.
Nature. COVID research updates: One vaccine dose can nearly halve transmission risk. (https://www.nature.com/articles/d41586-020-00502-w). 30 April 2021.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app