Tips Menyimpan ASI Agar Kualitasnya Tetap Baik

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 2 menit
Tips Menyimpan ASI Agar Kualitasnya Tetap Baik

Hidup wanita seakan menjadi sempurna ketika ia hamil, dan setelah perjalanan panjang selama 9 bulan kehamilan, bayi mungil kemudian lahir dan mewarnai hari-harinya. Hal itu akan semakin sempurna ketika seorang ibu memberikan ASI kepada bayinya.

Nah, permasalahan mungkin muncul bagi para ibu baru yang juga bekerja. “Aku ingin memberikan ASI eksklusif untuk bayiku, tapi di sisi lain aku juga harus bekerja di kantor”. Banyak penelitian membuktikan bahwa ASI adalah sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Belakangan moms juga cenderung memilih untuk memberi ASI secara penuh kepada bayi tanpa tambahan susu formula.

Iklan dari HonestDocs
Beli Paket Prenatal (Panel Awal Kehamilan) via HonestDocs!

Cek ada tidaknya resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil dan dapatkan treatment yang tepat secepatnya. Diskon 30% jika beli via HonestDocs sekarang!

Paket prenatal %28panel awal kehamilan%29 di path lab %28home services%29

Tips Menyimpan ASI yang Baik

Ibu yang bekerja di kantor, dapat memompa ASI-nya dan menyimpannya, untuk kemudian diberikan pada bayinya. Nah, hari ini kita akan share beberapa tips bagi para ibu tentang bagaimana menyimpan ASI yang baik.

1. Siapkan pompa dan botol plastik untuk menyimpan ASI

Selalu siapkan pompa ASI, dan juga beberapa botol plastik untuk menyimpan ASI. Bersihkan botol tersebut dengan sabun dan bilaslah dengan air hingga bersih. Jika ibu tidak yakin dengan kebersihan sumber air, botol tersebut (setelah dicuci) boleh direndam dalam air panas.

2. Berikan label pada botol ASI

Jika ibu memompa ASI di kantor atau di tempat kerja, jangan lupa untuk memberikan label pada botol-botol tersebut, berisikan nama bayi/orang tua, dan yang penting tanggal dan jam.

3. Simpan ASI dengan volume 60-100 ml

Untuk meminimalisasi sisa ASI (supaya tidak terbuang), simpanlah ASI pada botol bervolume sekitar 60-100ml, jadi bisa digunakan untuk sekali feeding time. Dan pada waktu mengisinya, jangan diisi sampai batas penuh, karena pada suhu dingin (beku) ASI akan mengembang.

4. Simpan ASI di kulkas jika tidak segera diminum

ASI yang disimpan pada suhu ruangan dapat bertahan selama 6-8 jam, lebih dari itu sebaiknya dibuang. Atau jika baru akan digunakan nanti, sebaiknya disimpan di lemari pendingin (kulkas).

5. Simpan ASI di cooler bag agar bertahan 1 hari

ASI yang disimpan dalam tas pendingin (cooler bag) dengan ice packs didalamnya, dapat bertahan hingga 1 hari. Ini bisa menjadi alternatif solusi untuk ibu yang kantornya tidak menyediakan kulkas yang memadai.

Iklan dari HonestDocs
Beli Paket Prenatal (Panel Awal Kehamilan) via HonestDocs!

Cek ada tidaknya resiko gangguan kesehatan pada ibu hamil dan dapatkan treatment yang tepat secepatnya. Diskon 30% jika beli via HonestDocs sekarang!

Paket prenatal %28panel awal kehamilan%29 di path lab %28home services%29

6. Simpan ASI di freezer supaya bertahan 2 minggu-6 bulan

ASI yang disimpan dalam kulkas dapat bertahan hingga 7-8 hari. Sedangkan ASI yang disimpan dalam freezer, bisa bertahan hingga 2 minggu-6 bulan (tergantung suhu freezer)

Namun, penyimpanan ASI jangka panjang tidak dianjurkan

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyimpanan ASI jangka panjang tidak terlalu dianjurkan karena kadar zat dan nutrisi yang ada didalamnya bisa berubah (mengalami penurunan). Selain kadar vitamin C yang berkurang, kadar lemak dalam ASI juga ikut berkurang, belum lagi kemampuan ASI untuk membunuh bakteri juga akan berkurang. Lagipula komposisi ASI yang keluar pada saat bayi baru lahir akan berbeda dibandingkan kebutuhan bayi yang sudah berusia beberapa bulan, jadi tidak terlalu perlu juga menyimpannya untuk jangka panjang.

Temukan juga tips untuk memperlancar ASI di artikel ini. Happy breastfeeding, moms!

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app