Siklus Anovulasi: Ketika Tubuh Wanita Tidak Melepaskan Sel Telur

Dipublish tanggal: Mei 20, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Siklus Anovulasi: Ketika Tubuh Wanita Tidak Melepaskan Sel Telur

Ketika sedang mencoba untuk hamil, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah mengetahui siklus menstruasi selama beberapa bulan belakangan. Karena agar dapat hamil, tentu harus berovulasi terlebih dahulu. Secara umum, menstruasi menjadi salah satu tanda bahwa tubuh sedang berovulasi secara normal. Tetapi ternyata hal tersebut tidak selalu terjadi.

Normalnya sistem reproduksi wanita memang akan berovulasi setiap bulan. Tetapi bisa saja ada kemungkinan di mana suatu situasi tertentu menyebabkan anovulasi atau kurangnya ovulasi dalam siklus menstruasi. Ketika hal itu terjadi, wanita mungkin masih menganggap bahwa pendarahan yang dialami adalah siklus menstruasi bulanan yang normal. Tetapi jika mengalami siklus anovulasi, pendarahan tersebut bukanlah menstruasi.

Iklan dari HonestDocs
Blackmores Pregnancy Breast Feeding Gold

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Blackmores pregnancy   breat feeding gold sku

Baca juga: Cara Memahami Siklus Menstruasi Normal

Apa itu siklus anovulasi?

Seperti namanya, siklus anovulasi terjadi ketika seorang wanita melewatkan ovulasi. Selama ovulasi, ovarium akan melepaskan sel telur atau oosit dari indung telur (ovarium). Tetapi tidak jarang seorang wanita dalam masa konsepsi utamanya mengalami siklus anovulasi sesekali yang disebabkan karena sel telur tidak matang. Bahkan mungkin siklus anovulasi terjadi tanpa disadari. Hal ini dikarenakan ketika seorang wanita mengalami anovulasi, pendarahan yang dialami akan tampak seperti menstruasi normal.

Dalam siklus normal, produksi hormon progesteron dirangsang oleh pelepasan sel telur. Hormon inilah yang membantu tubuh wanita mempertahankan period haid secara teratur. Tetapi selama siklus anovulasi, tingkat progesteron yang tidak memadai dapat menyebabkan perdarahan hebat sehingga seorang wanita mungkin salah mengira bahwa pendarahan yang terjadi sama dengan pendarahan menstruasi.

Jenis perdarahan ini dapat disebabkan akibat penumpukan di lapisan rahim pada endometrium yang tidak lagi dapat menopang dirinya sendiri. Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh penurunan kadar hormon estrogen.

Ketika anovulasi terjadi, maka wanita tidak akan bisa hamil karena tidak ada kandungan sel telur yang dapat dibuahi oleh sperma. Hal ini hanya perlu diperhatikan oleh wanita yang masih dalam kategori wanita subur dengan menjaga sistem reproduksi kewanitaan. Karena pada wanita yang telah mengalami menopause, kondisi ini normal dialami.

Siklus anovulasi dapat didiagnosis ketika seorang wanita tidak mengalami menstruasi atau pada periode haid yang datang tidak menentu. Tetapi kondisi ini tidak berlaku untuk setiap wanita dan untuk mendiagnosis siklus anovulasi, dokter akan memeriksa kadar progesteron, lapisan rahim, serta melakukan tes darah untuk mendeteksi keberadaan antibodi tertentu. Dokter juga mungkin akan melakukan USG untuk melihat lebih dekat rahim dan indung telur.

Iklan dari HonestDocs
Beli Alat Kontrasepsi & Hormon via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 7

Baca juga: Cara Menghitung Masa Subur Wanita Agar Cepat Hamil

Mengapa wanita mengalami siklus anovulasi?

Siklus menstruasi tanpa ovulasi paling sering terjadi pada dua kelompok umur yang berbeda:

  • Gadis yang baru saja mulai menstruasi: Pada tahun setelah menstruasi pertama seorang gadis yang dikenal sebagai menarche, mereka akan lebih cenderung mengalami siklus anovulasi
  • Wanita yang mendekati menopause: Seorang wanita berusia antara 40-50 tahun memiliki risiko lebih besar untuk mengalami perubahan hormon. Hal ini juga dapat menyebabkan siklus anovulasi.

Untuk wanita di kedua kelompok umur akan ada banyak perubahan yang terjadi pada tubuh. Perubahan mendadak pada kadar hormon dapat memicu siklus anovulasi, termasuk beberapa penyebab lain:

  • berat badan yang berlebihan atau terlalu rendah
  • kebiasaan olahraga ekstrim
  • kebiasaan makan
  • tingkat stres yang tinggi

Pengobatan untuk mengatasi siklus anovulasi

Hasil dari beberapa tes medis dapat membantu dokter untuk merekomendasikan perawatan terbaik untuk penderita siklus anovulasi. Jika siklus ini masih tergolong ringan dan terkait dengan pengaruh faktor luar seperti nutrisi atau gaya hidup, perawatan yang efektif akan mencakup pengaturan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang moderat. Merencanakan perubahan pada kondisi berat badan (menambah atau menurunkan berat badan) mungkin juga cukup untuk memulai k embali ovulasi yang terhenti.

Terkadang ketidakseimbangan internal juga menjadi salah satu alasan seorang wanita mengalami siklus anovulasi. Dalam hal ini, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk meningkatkan kesuburan. Obat-obatan ini dirancang untuk memerangi penyebab infertilitas wanita, termasuk untuk mematangkan folikel, meningkatkan kadar estrogen, dan membantu ovarium dalam melepaskan sel telur. Tetapi jika telah terjadi komplikasi serius seperti adanya tumor, maka pembedahan merupakan pilihan pengobatan yang mungkin harus ditempuh.

Langkah mengatasi siklus anovulasi yang terus menerus terjadi

Jika Anda mengalami anovulasi yang konsisten dan terus menerus, serta dianggap sangat tidak teratur dan tidak menentu dari satu siklus ke siklus yang berikutnya, maka dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan perubahan gaya hidup, seperti meningkatkan asupan nutrisi yang baik, menjalani olahraga secara teratur, dan menghilangkan stress.

Cobalah untuk melakukan perubahan gaya hidup ini setidaknya selama beberapa bulan dan kemudian mulai perhatikan apakah siklus bulanan menjadi lebih teratur atau tidak. Jika perubahan ini tampaknya tidak membuat perbedaan atau Anda tidak yakin tentang hal itu, bicarakan dengan dokter mengenai langkah pengobatan selanjutnya dalam mengatasi siklus anovulasi.

8 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app