MELIANTY FEBRIANI
Ditulis oleh
MELIANTY FEBRIANI
DR. SCIENTIA INUKIRANA
Ditinjau oleh
DR. SCIENTIA INUKIRANA

Sindrom Horner - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati

Dipublish tanggal: Mar 14, 2019 Update terakhir: Nov 6, 2020 Tinjau pada Apr 6, 2019 Waktu baca: 3 menit

Sindrom Horner merupakan suatu kelainan pada sistem saraf yang disebabkan oleh gangguan saraf simpatis di wajah. Sindrom ini menimbulkan 3 gejala khas yaitu miosis atau ukuran pupil yang mengecil, penurunan kelopak mata satu sisi (ptosis), kurangnya pengeluaran keringat (anhidrosis).

Gangguan ini dimulai dari jalur saraf tulang belakang menuju ke otak di  hipotalamus yang turun ke bawah dan mempersarafi bagian wajah.

Penyakit ini bermula dari kelainan pada jalur saraf di traktus preganglionik, posganglionik, dan sentral. Ini terjadi akibat adanya kerusakan saraf yang dimulai dari tulang belakang tepatnya di persarafan servikal II hingga torakal II yang mengantarkan impuls dari hipotalamus. 

Gangguan Saraf ini Menyebabkan 3 Gejala Khas (Trias) itu Muncul Pada Penderita Sindrom Horner.

Beberapa penyebab yang menyebabkan kerusakan jalur saraf di tulang belakang dan hipotalamus yang mempengaruhi kondisi sindrom horner pada neuron tingkat pertama antara lain

  • Stroke
  • Trauma leher
  • Penyakit serabut mielin
  • Kista
  • Infeksi
  • Tumor

Selain itu pada neuron tingkat kedua terjadi kerusakan pada persarafan dari tualng belakang menuju dada atas dan leher. Ini disebabkan oleh

  • Kanker paru-patu
  • Tumor mielin
  • Cedera dada
  • Gangguan aorta
  • Lymphadenopathy

Pada neuron tingkat ketiga muncul kerusakan pada permukaan kulit di wajah dan otot wajah dan di leher yang disebabkan oleh

  • Diseksi arteri carotis interna
  • Tumor di leher
  • Migrain
  • Sakit kepala cluster
  • Herpes zooster

Munculnya infeksi di dalam tubuh dapat berpotensi terjadinya ptosis dan gangguan jantung akibat infeksi sifilis sebelumnya.

Gejala pada Sindrom Horner

Gejala yang ditimbulkan terkait dengan adanya blokade saraf-saraf simpatik. Gejala khas yang ditemukan antara lain

  • Ptosis (kelopak mata turun)
  • Miosis (pupil yang mengecil)
  • Anhidrosis (kehilangan kelenjar keringat)
  • Enoftalmus (bola mata yang letaknya lebih dalam)
  • Kemerahan pada wajah
  • Anisokor (perbedaan ukuran pupil)
  • Pembukaan pupil yang terlambat saat disinari
  • Mata berair

Ptosis yang terlihat pada mata yang berupa penurunan kelopak mata pada satu sisi yang timbul secara kongenital yang bersifat autosomal dominan. Sedangkan ptosis juga disebabkan karena kerusakan saraf okulamotor di mata yang mengatur gerakan otot-otot pada mata yang terjadi secara perlahan dan progresif. 

Kondisi ini juga menyebabkan gangguan penglihatan karena kelopak mata atas yang semakin turun sehingga menutup pupil mata dan mempengaruhi penglihatan apda satu sisi.

Misosis merupakan kelainan mata yang menyebabkan ukuran pupil mengecil. Ukuran kurang dari 2mm dinyatakan sebagai miosis. Ini disebabkan kerusakan pada saraf optik sehingga mata tidak dapat merespon cahaya yang masuk.

Kurangnya berkeringat disebabkan oleh rusaknya persarafan yang mengendalikan kelenjar minyak di wajah.

Enoftalmus adalah kelainan mata berupa bola mata yang letaknya lebih dalam yang timbul akibat kelaianan kongenial, trauma mata, atau usia lanjut.

Kemerahan pada wajah dan sekitar mata akibat dari dilatasi pembuluh darah.

Pada beberapa kondisi ditemukan juga kelemahan atau kelumpuhan pada jari-jari tangan akibat terputusnya jalur ortosimpatetik dan genglion pada pleksus brakialis yang masuk dari tulang leher.

Diagnosis pada Sindrom Horner

Pemeriksaan diagnosis pada sindrom horner dilakukan dengan memeriksa keluhan yang terjadi dan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat adanya gangguan kesehatan dan neurologis yang terjadi. Pemeriksaan kepala sangat penting dilakukan untuk mendeteksi kelainan mulai dari ujung kepala hingga ke leher seperti gerakan persendian, adanya nyeri saat gerakan, atau kaku pergerakan. Pemeriksaan penunjang dilakukan terutama melihat respon pada pupil mata dengan pemeriksan berupa

  • Cocaine drop test
  • Paredrine Test
  • Pemindaian

Pemeriksaan mata dengan cairan kokain hidroklorida 10% untuk melihat adanya kelainan pada pupil yang miosis. Pada kondisi sindrom horner ditemukan pupil mata yang tidak bereaksi pada pemeriksaan ini

Pemeriskaan dengan menggunakan bahan 4-hydroxyamphetamine untuk menilai dilatasi pada pupil akibat lesi apda saraf pre ganglionik dan posganglionik yang merespon gerakan pupil.

Pemeriksaan dengan pemindaian baik dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) , CT, ataupun X-ray sangat bermanfaat untuk mendeteki adanya gangguan saraf dan organ seperti pada wajah dan tulang belakang.

Penanganan pada Sindrom Horner

Hingga saat ini, terapi utama untuk mengurangi gejala sidnrom horner adalah dengan mengatasi penyakit penyerta yang mengakibatkan kondisi ini.

 


13 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
WebMD (2017). What is Horner Syndrome? (https://www.webmd.com/eye-health/horner-syndrome)
Griff, A M. Healthline (2017). What is Horner’s Syndrome? (https://www.healthline.com/health/horners-syndrome)
Cleveland Clinic (2018). Disease Condition. Horner’s Syndrome: Diagnosis and Tests. (https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17836-horners-syndrome/diagnosis-and-tests)

Artikel ini hanya sebagai informasi awal mengenai kondisi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini
Buka di app