Penyebab Muntaber dan Cara Penanganan yang Tepat pada Anak

Dipublish tanggal: Agu 7, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Penyebab Muntaber dan Cara Penanganan yang Tepat pada Anak

Muntaber merupakan kondisi di mana seseorang mengalami muntah dan berak yang biasanya disebabkan oleh adanya infeksi virus ataupun bakteri pada usus dan lambung. Muntaber juga bisa dialami oleh orang dewasa dan lansia yang diakibatkan oleh penurunan daya tahan tubuh.

Pada umumnya, anak-anak yang berumur di bawah 5 tahun juga akan lebih rentan mengalami muntaber jika dibandingkan dengan orang dewasa. Bahkan pada kasus yang cukup parah, seorang anak bisa menderita muntaber beberapa kali dalam setahun. Untuk itu perlu diketahui mengenai penyebab dari muntaber sehingga kita bisa tahu cara mengatasinya secara tepat.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Antiseptik via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 31

Baca juga: Penyebab Sistem Kekebalan Tubuh Menurun

Penyebab muntaber pada anak

Sejumlah virus yang umumnya menjadi penyebab muntaber pada anak adalah rotavirus dan norovirus. Tidak cuma virus tersebut yang menjadi penyebab gejala muntaber, tetapi ada juga beberapa jenis bakteri, seperti E. coli dan Salmonella yang dapat menjadi penyebab muntaber. Selain itu, muntah dan berak juga bisa disebabkan oleh parasit, seperti Giardia dan Entamoeba di mana infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus dapat masuk ke dalam tubuh saat anak mengonsumsi air atau makanan yang telah terkontaminasi.

Di samping faktor makanan yang dikonsumsi, muntaber juga dapat ditularkan antar individu terutama di mana kebersihan dan sanitasi lingkungan tidak terjaga dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya muntaber. Sebagai contoh, infeksi akan terjadi pada anak saat tangan masuk ke dalam mulut ketika baru saja terjadi kontak langsung dengan penderita muntaber yang tidak mencuci bersih tangan setelah BAB.

Beberapa tanda anak mengalami muntaber antara lain:

  • Kepala pusing
  • BAB tidak terkendali
  • Sakit perut
  • Kram pada perut
  • Perut kembung
  • Demam

Kondisi muntaber biasanya berlangsung selama 4-7 hari bahkan berminggu-minggu dan disertai dengan gejala dehidrasi akibat tubuh kekurangan cairan yang keluar bersamaan dengan muntah dan diare. Pada kasus yang umumnya terjadi, muntaber biasanya akan sembuh dengan sendirinya melalui beberapa cara penanganan sederhana, tetapi jika sudah berlangsung cukup lama maka ada baiknya untuk memeriksakan anak ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang lebih efektif.

Penanganan muntaber di rumah

Jika anak mengalami muntaber maka akan ada sejumlah gejala yang mungkin terjadi, seperti muntah, mual, diare, tidak nafsu makan, demam tinggi, dan sakit perut. Selain itu, anak juga bisa mengalami BAB berdarah jika infeksi terjadi karena faktor bakteri atau parasit. Muntaber yang dipicu oleh virus biasanya sembuh dalam 2-3 hari dengan beberapa penanganan sederhana di rumah berikut ini:

Iklan dari HonestDocs
Beli obat CEFSPAN 100MG CAP via HonestDocs

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Cefspan 100mg cap 1

1. Mendapat istirahat yang cukup

Sesuai umurnya, anak memerlukan waktu untuk istirahat atau tidur sebanyak 10-12 jam setiap harinya. Tetapi ketika sakit maka waktu istirahat yang dibutuhkan akan lebih banyak dari biasanya karena hal ini dapat membantu mempercepat penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh dalam melawan penyakit akibat virus, bakteri, maupun parasit.

2. Pastikan cairan tubuh terpenuhi

Ketika mengalami muntaber, salah satu hal penting agar anak tidak mengalami dehidrasi berat adalah dengan memastikan terpenuhinya cairan tubuh anak. Berikan air putih secara berkala terutama setelah muntah atau BAB untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Jika anak masih mendapatkan asupan ASI, maka lanjutkan pemberian ASI tersebut karena hal tersebut sangat baik untuk memperkuat sistem imun. Jika anak sudah berusia 3 tahun ke atas dapat diberikan cairan elektrolit untuk menaikkan cairan tubuh secara lebih cepat.

Baca juga: Mengetahui Kebutuhan Minum Air Putih dalam Sehari

3. Berikan makanan yang lembut

Saat muntaber, anak tetap perlu diusahakan untuk makan secara teratur sehingga tubuh tidak mudah lemas dan dehidrasi. Berikanlah anak makanan dalam porsi kecil tapi dengan frekuensi yang lebih sering. Pilih juga makanan yang bertekstur lembut selama masa pemulihan sehingga makanan lebih mudah dicerna, seperti pisang, nasi lembek, bubur atau bisa juga mengonsumsi makanan berkuah seperti sup.

4. Jangan berikan obat diare

Jika usia anak masih berada di bawah 12 tahun sebaiknya tidak diberikan obat diare. Jika mengalami demam dan nyeri, Anda dapat memberikan paracetamol sebagai alternatif. Selain itu, muntaber juga tidak selalu memerlukan obat antibiotik karena obat antibiotik hanya efektif untuk mengatasi muntaber yang disebabkan oleh bakteri. 

Untuk memastikan penyebab serta langkah penanganan yang tepat, termasuk pemberian obat-obatan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Untuk langkah pencegahan muntaber, Anda juga harus memastikan bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak berada dalam kondisi bersih dan sehat.

Selain itu, tetaplah rutin menjaga kebersihan lingkungan di sekeliling tempat tinggal termasuk barang-barang yang sering dipegang oleh anak. Hal ini untuk meminimalisir risiko muntaber terjadi. Lakukan juga imunisasi untuk pencegahan lebih lanjut.

Kondisi muntaber dapat dicegah dengan mengajari anak kebiasaan sehat seperti rajin mencuci tangan sebelum dan setelah makan, setelah bersentuhan dengan benda kotor, tangan orang lain, apalagi setelah buang air besar (BAB). Jika kondisi anak tidak membaik dalam waktu 4-7 hari, maka segera periksakan kondisi anak ke dokter.

Baca juga: 6 Langkah Mencuci Tangan yang Benar

11 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
AboutKidsHealth. AboutKidsHealth. (Accessed via: https://www.aboutkidshealth.ca/article?contentid=746&language=english)
Vomiting and Diarrhea in Children. American Academy of Family Physicians (AAFP). (Accessed via: https://www.aafp.org/afp/2001/0215/p775.html)
Baby Vomiting No Fever: Why This Happens and What to Do. Healthline. (Accessed via: https://www.healthline.com/health/baby/baby-vomiting-no-fever)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app