Menu Makanan Yang Tepat Untuk Pengidap Diabetes

Dipublish tanggal: Feb 14, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 1 menit
Menu Makanan Yang Tepat Untuk Pengidap Diabetes

Para pengidap diabetes, tentunya memiliki kesulitan dalam menentukan serta mengelola menu makan. Menu bagi pengidap diabetes sebenarnya tidak perlu terlalu rumit. Selama anda bisa membatasi jumlah kandungan garam dalam menu diabetes anda.

Berbagai pedoman menu diabetes menyarankan penurunan asupan garam harian sekitar satu sendok teh sehari. Berikut contoh menu diabetes yang bisa anda aplikasi di menu keseharian anda, yaitu:

Menu Pembuka
Pilih buah rendah kandungan gula seperti melon atau berry. Bila memilih mengonsumsi apel, usahakan hanya memakan setengah buah saja. Hindari sup berkaldu juga roti bermargarin.

Jangan memasukan acar, sayur kalengan ataupun daging asap dalam mangkuk salad anda, dan usahakan hanya sedikit menambahkan dressing.

Menu Utama
Pilihlah masakan olahan yang dipanggang. Jenis daging tidak menjadi masalah asal diolah dengan benar, yaitu dengan tidak menambahkan MSG maupun garam. Padankan dengan sayuran minim bumbu.

Sebaiknya para pengidap diabetes menghindari restaurant yang menyediakan makanannya secara prasmanan semi all you can eat. Saat melihat banyak makanan yang tersaji cenderung merusak rencana diet diabetes.

Makanan siap saji pun jangan lagi dimasukan dalam menu diabetes anda, apalagi yang berbahan tambahan keju dan saus penyedap.

Menu Penutup
Masukan buah segar ke dalam pilihan menu diabetes anda.
Berhati-hatilah dengan porsi makanan yang anda habiskan! Terkadang porsi makanan di menu sebuah restaurant memiliki kapasitas yang lebih banyak.

 

Jika kita ingin memulai hidup sehat, sisihkan sebagian kecil dari porsi di piring anda, makan secara perlahan. Akan lebih aman bila dari awal kita mengorder setengah porsi atau porsi yang lebih kecil.


54 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app