Meningitis Tuberkulosis - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Update terakhir: Apr 5, 2019 Waktu baca: 3 menit
Telah dibaca 993.649 orang

Meningitis tuberkulosis adalah proses inflamasi di meningens (khususnya arakhnoid dan piameter), akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis. Meningitis tuberkulosis merupakan bentuk tuberkulosis ekstrapulmonal kelima yang paling sering ditemui sekaligus paling berbahaya. 

Penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak-anak. Apabila tidakgt;obati dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi berbahaya bahkan kematian.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Meningitis tuberkulosis terjadi pada satu dari setiap 300 infeksi tuberkulosis pada anak yang tidak diobati atau sekitar 0.3%. Kondisi ini dapat menyerang semua usia, namun insidens tertinggi terjadi pada usia 6 bulan-5 tahun.  Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai meningitis tuberkulosis, mari simak artikel berikut ini.

Apakah Penyebab Meningitis Tuberkulosis?

Penyebab Meningitis Tuberkulosis

Mycobacterium tuberculosis adalah basil gram positif yang memiliki panjang sekitar 2.4 mikrometer. Bakteri ini masuk ke dalam paru-paru dengan cara inhalasi dan menyebar ke kelenjar limfe regional dan sebagian masuk ke dalam peredaran darah sistemik dan mencapai organ-organ lain.

Apabila bakteri yang berhasil mencapai lapisan meningens dalam jumlah banyak, meningitis dapat terjadi. Namun bila dalam jumlah kecil, bakteri akan berkolonisasi dan bereplikasi membentuk tuberkel yang disebut dengan fokus Rich. Bertahun-tahun setelah infeksi, fokus Rich dapat pecah ke area subarakhnoid dan menyebabkan meningitis tuberkulosis. Pemecahan ini dapat disebabkan oleh penurunan imunitas tubuh, infeksi HIV, pertusis, campak atau gizi buruk.

Gejala Meningitis Tuberkulosis

Gejala meningitis tuberkulosis dalam dibagi menjadi 3 tahapan, seperti berikut:

  • Masa Prodromal:

Tahapan ini berlangsung selama 1-3 minggu dengan gejala yang tidak khas dan belum ditemukan kelainan neurologis. Gejala yang dialami berupa demam, lemas, anoreksia, nyeri perut, sakit kepala, mual muntah, konstipasi, gangguan tidur.

Pemeriksaan fisik pada tahapan ini akan menunjukkan ubun ubun besar yang menonjol pada bayi. Pada penderita anak-anak, akan mengalami perubahan suasana hati dan timbul kejang intermiten.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01
  • Masa Transisional:

Gejala yang dapat timbul berupa rasa kaku, sakit kepala, muntah, penurunan kesadaran, hidrosefalus, kelumpuhan saraf kranial dan papiledema ringan. Saraf cranial yang paling sering terkena adalah N.VI, N.III, N.IV, N.VII yang menyebabkan diplopia, penonjolan mata dan strabismus mata.

  • Masa Terminal:

Tahapan ini berlangsung cepat selama 2-3 minggu. Gejala yang dapat dialami adalah penurunan kesadaran, koma, gangguan saraf (hemiplegia), papiledema, hiperglikemia, pernapasan tidak teratur, pupil yang melebar hingga dapat mengakibatkan kematian.

Apakah Pengobatan Meningitis Tuberkulosis?

Diagnosis Meningitis Tuberkulosis

Diagnosis meningitis tuberkulosis adalah hal yang tidak mudah terutama pada stadium awal. Kecurigaan akan meningitis tuberkulosis harus muncul apabila anak mengalami demam berkepanjangan (lebih dari 14 hari), penderita tidak membaik setelah terapi antimikrobial, hidrosefalus dan stroke tanpa penyebab jelas.

Dokter akan menanyakan riwayat kontak dengan anggota keluarga yang memiliki tuberkulosis, riwayat vaksin BCG. Vaksin BCG sangatlah penting karena dapat menurunkan risiko meningitis tuberkulosis hingga 50-80%.

Tes lainnya adalah uji tuberkulin, rontgen dada untuk memastikan hasil diagnosis. Pemeriksaan darah tepi lengkap disertai laju endap darah (LED) juga perlu dilakukan. Selain itu, kultur cairan cerebrospinal (CSS) dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya bakteri M.tuberculosis.

Pemeriksaan CT scan atau MRI otak akan dilakukan pada tahapan lanjut karena pemeriksaan ini dapat mendeteksi berbagai komplikasi seperti hidrosefalus , edema serebri, iskemi , dan kondisi medis lainnya.

Pengobatan Meninigits Tuberkulosis

Terapi suportif dan pengobatan dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini. Meningitis tuberkulosis memerlukan terapi selama 12 bulan dan pengobatan seperti berikut:

  • Fase intensif: Fase ini berlangsung selama 2 bulan, dengan menggunakan 4-5 obat antituberkulosis seperti isoniazid, rifampin, pirazinamid, etambutol dan streptomisin.
  • Fase lanjutan: Fase ini berlangsung selama 10 bulan berikutnya, dengan menggunakan 2 obat anti tuberkulosis seperti isoniazid dan rifampin.

Dosis obat antituberkulosis yang diberikan adalah:

  • Isoniazid: 5-15mg/KgBB/hari, maksimal 300mg sehari
  • Rifampisin: 10-20mg/KgBB/hari, maksimal 600mg sehari
  • Pirazinamid: 20-40mg/KgBB/hari, maksimal 2 gram sehari
  • Etambutol: 15-25mg/KgBB/hari, maksimal 1.25 gram sehari
  • Streptomisin: 15-40mg/KgBB/hari, maksimal 1 gram sehari

Walaupun terapi antituberkulosis telah dimulai, harus tetap memonitor kultur dan uji sensitivitas agar terapi dapat diatur sesuai dengan kerentanan bakteri.

Apabila gejala disertai dengan hidrosefalus, tindakan bedah berupa ventrikuloperitoneal (VP) shunt akan diperlukan.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit