Mengenal Sleep Apnea

Dipublish tanggal: Agu 7, 2019 Update terakhir: Okt 12, 2020 Waktu baca: 3 menit
Mengenal Sleep Apnea

Sleep apnea atau biasa disebut sebagai apnea tidur merupakan gangguan pernapasan serius yang muncul saat tidur. Hal ini dikarenakan saluran udara terhambat yang disebabkan karena dinding tenggorokan mengendur serta menyempit. Saat tidur, otot-otot pada tenggorokan bisa mengendur dan lemas.

Ketika normal, keadaan ini sebenarnya tidak mengganggu sistem pernapasan. Hanya saja bagi penderita apnea tidur, otot menjadi sangat lemas kemudian mengakibatkan penyempitan di saluran udara dan menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Jantung via HDmall

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads 10

Apa sleep apnea itu?

Ada 2 jenis gangguan pernapasan apnea tidur, yaitu hipopnea dan apnea. Hipopnea muncul ketika saluran udara menyusut sampai lebih dari 50 persen yang kemudian menyebabkan napas menjadi pendek dan lambat. Hipnonea umumnya terjadi sekitar 10 detik kemudian apnea terjadi saat seluruh saluran udara terhambat dalam waktu 10 detik selanjutnya. 

Ketika apnea, maka kadar oksigen dalam darah menurun sehingga menyebabkan otak memaksa kita untuk bangun dan mencoba bernapas kembali. Hal ini dikarenakan sensor pada otak mengenali 'ketidakmampuan' sistem pernapasan akibat peningkatan kadar karbon dioksida.

Tingkat keparahan penderita apnea tidur bisa diukur dengan menggunakan indeks apnea-hipoponea. Caranya adalah dengan mengukur keseringan gangguan pernapasan ketika tidur selama 1 jam. Pada kondisi ringan, gangguan pernapasan akan terjadi sekitar 5-14 kali selama 1 jam. Pada kondisi tingkat sedang, gangguan dapat terjadi sebanyak 15-30 kali tiap jam sedangkan pada kasus parah bisa terjadi lebih dari 30 kali dalam 1 jam.

Ada tiga jenis apnea tidur, yaitu apnea obstruktif, apnea sentral, dan apnea kompleks. Apnea obstruktif merupakan jenis yang paling sering terjadi. Sedangkan apnea sentral terjadi saat otak tidak bisa mengirimkan sinyal dengan benar pada otot yang mengatur pernapasan. Sementara itu, apnea tidur kompleks adalah kombinasi dari sentral dan obstruktif. Apnea tidur bisa dialami oleh semua orang, namun lebih umum dialami oleh pria lansia atau orang dengan obesitas.

Kondisi sleep apnea juga dapat membahayakan kesehatan dan menimbulkan risiko kematian mendadak dalam tidur karena dapat memicu aritmia pada jantung, serangan jantung, bahkan stroke. Sleep apnea juga dikaitkan dengan risiko penyakit kanker karena menurut penelitian, kadar oksigen pada saluran pernapasan yang terhambat dpat meningkatkan risiko kanker hingga 90 persen. Begitupun dengan pola diet yang tidak tepat juga dapat mempengaruhi risiko sleep apnea.

Baca juga: Pola Diet Tidak Tepat dan Sleep Apnea Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Gejala pada sleep apnea

Berikut ini merupakan sejumlah gejala yang dirasakan oleh penderita apnea tidur:

  • Mendengkur keras
  • Napas sering berhenti dan terengah-engah
  • Napas menjadi berat dan berisik
  • Susah tidur pulas pada malam hari atau insomnia
  • Mulut kering atau tenggorokan serak saat bangun tidur
  • Sakit kepala saat pagi hari
  • Rasa kantuk di pagi hari
  • Banyak keluar keringat pada malam hari
  • Sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil
  • Cepat marah
  • Depresi
  • Turunnya gairah seksual sampai disfungsi ereksi pada pria

Sebaiknya segera periksa dokter jika mengalami gejala di atas, khususnya jika gejala tersebut mengganggu rutinitas sehari-hari.

Penyebab sleep apnea

Sejumlah faktor penyebab yang dapat mengakibatkan apnea tidur, di antaranya:

  • Lebih sering terjadi pada pria
  • Leher yang besar lebih dari 40 cm
  • Obesitas
  • Mengonsumsi obat penenang
  • Berusia di atas 40 tahun
  • Memiliki kelainan pada struktur leher bagian dalam
  • Hidung tersumbat
  • Riwayat serupa pada keluarga
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol
  • Menopause pada wanita
  • Kondisi medis seperti sakit jantung

Penanganan sleep apnea

Untuk apnea tidur ringan, penanganan yang disarankan adalah dengan merubah pola hidup, seperti:

  • Tidak memakai obat penenang atau obat tidur
  • Menurunkan berat badan jika sudah overweight
  • Jangan tidur terlentang
  • Tidak merokok
  • Tidak minum alkohol

Jika kondisi apnea tidur cukup parah maka bisa dilakukan dengan cara berikut:

  • CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). CPAP merupakan alat untuk meniupkan udara bertekanan positif ke dalam hidung saja atau ke dalam hidung dan mulut
  • BiPAP (bilevel positive airway pressure). Alat ini digunakan untuk membuat tekanan udara ketika menarik napas menjadi lebih tinggi, kemudian tekanan itu diturunkan ketika napas dikeluarkan
  • MAD (Mandibular Advancement Device). Berfungsi untuk menahan rahang dan lidah agar tidak terjadi penyempitan pada saluran pernapasan
  • ASV (adaptive servio-ventrilation). Untuk merekam pola pernapasan serta bisa membuat pernapasan menjadi normal kembali saat tidur dengan memberikan tekanan pada saluran udara
  • Pemakaian oksigen tambahan untuk meningkatkan aliran oksigen dalam tubuh

13 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Amali A, et al. A comparison of uvulopalatopharyngoplasty and modified radiofrequency tissue ablation in mild to moderate obstructive sleep apnea: A randomized clinical trial. Journal of Clinical Sleep Medicine. 2017;13:1089.
Guideline at-a-glance: Practice parameters for the surgical modifications of the upper airway for obstructive sleep apnea in adults. https://aasm.org/clinical-resources/practice-standards/practice-guidelines/.
Kryger MH, et al. Management of obstructive sleep apnea in adults. https://www.uptodate.com/contents/search.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app