GRACIA BELINDA
Ditulis oleh
GRACIA BELINDA
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Ketoasidosis Diabetik, Komplikasi Diabetes Melitus yang Berbahaya

Dipublish tanggal: Des 4, 2020 Update terakhir: Des 21, 2021 Waktu baca: 3 menit
Ketoasidosis Diabetik, Komplikasi Diabetes Melitus yang Berbahaya

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Ketoasidosis diabetik adalah komplikasi serius dari penyakit diabetes melitus yang umumnya terjadi pada penderita diabetes tipe 1
  • Gejala ketoasidosis diabetik dapat muncul dengan cepat seperti adanya zat keton yang tinggi dalam urine, bau mulut rasa buah, sering buang air kecil
  • Untuk mengatasi ketoasidosis diabetik biasanya pasien akan diberikan cairan infus, terapi insulin, dan cairan elektrolit seperti kalium, natrium, dan klorida
  • Klik untuk membeli obat diabetes yang dikirim ke rumah Anda di HDmall. *Gratis ongkir ke seluruh Indonesia & bisa COD
  • Dapatkan paket pemeriksaan gula darah (diabetes) dengan harga terbaik hanya melalui HDmall. Hubungi tim kami sekarang juga

Diabetic ketoacidosis atau ketoasidosis diabetik adalah komplikasi serius dari penyakit diabetes melitus. Komplikasi ini umumnya terjadi pada penderita diabetes tipe 1, tetapi tak menutup kemungkinan menyerang penderita diabetes tipe 2. Ketoasidosis diabetik (DKA) terjadi ketika kadar gula darah meningkat sangat tinggi dan zat asam keton menumpuk.

Penyebab ketoasidosis diabetik adalah kadar insulin dalam tubuh yang tidak cukup untuk memecah glukosa menjadi energi. Dari sini, muncullah penumpukan glukosa dalam darah. 

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Kekurangan insulin membuat tubuh memecah lemak sebagai bahan bakar dan menghasilkan penumpukan keton. Imbasnya menyebabkan ketoasidosis diabetik. 

Keton sendiri merupakan zat sisa asam yang diproduksi oleh tubuh sebagai hasil pengolahan lemak untuk menghasilkan energi. 

Baca juga: Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati Diabetes Mellitus

Cara mengetahui gejala ketoasidosis diabetik

Komplikasi ketoasidosis diabetik harus ditangani dengan cepat, terutama jika sudah muncul tanda atau gejalanya. Beberapa gejala ketoasidosis diabetik yang dapat muncul dan terjadi dengan cepat, antara lain:

  • Sering buang air kecil
  • Mudah haus
  • Kadar gula darah tinggi
  • Zat keton yang tinggi dalam urine
  • Mual atau muntah
  • Sakit perut
  • Kebingungan
  • Bau mulut rasa buah
  • Wajah memerah
  • Kelelahan
  • Pernapasan cepat
  • Mulut dan kulit kering

Penanganan ketoasidosis diabetik yang terlambat bisa menyebabkan koma dan kematian. Pemeriksaan diabetik ketoasidosis dengan melakukan tes keton pada urine harus dilakukan secara rutin, terutama bagi penderita diabetes tipe 1 yang memiliki kadar gula darah lebih tinggi dari 250 mg/dL. 

Jika kadar keton lebih tinggi dari batas tersebut atau bahkan meningkat hingga 300 mg/dL secara terus-menerus, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter. Terlebih, jika kondisi Anda disertai terutama jika disertai dengan gejala ketoasidosis diabetik.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Beberapa risiko komplikasi yang mungkin terjadi akibat ketoasidosis diabetik adalah:

  • Kadar gula darah rendah (hipoglikemia)
  • Kadar kalium rendah (hipokalemia)
  • Pembengkakan di otak (edema serebral)

Baca juga: 4 Tips Agar Kadar Gula Darah Kembali Normal

Apa penyebab ketoasidosis diabetik?

Gula merupakan sumber energi utama bagi pembentukan otot dan jaringan lain pada tubuh, sehingga insulin membantu memecah kadar gula tersebut. 

Namun, jika kadar insulin tidak cukup, maka itu akan mendorong terjadinya pelepasan hormon untuk memecah lemak sebagai pengganti sumber energi tubuh yang menghasilkan zat asam keton. Pembentukan kadar keton yang berlebihan dalam darah tentu akan berpengaruh pada urine.

Sejumlah penyebab ketoasidosis diabetik yang paling umum, antara lain:

  • Terjadinya infeksi seperti infeksi saluran kemih atau infeksi saluran pernapasan pneumonia
  • Lupa menyuntikkan insulin atau menggunakan dosis insulin yang terlalu rendah
  • Sedang mengalami cedera, trauma fisik atau emosional
  • Terjadi serangan jantung atau stroke 
  • Menderita penyakit pankreatitis
  • Sedang hamil
  • Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terutama kokain
  • Penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dan diuretik

Cara mengatasi ketoasidosis diabetik

Perawatan ketoasidosis diabetik bisa dilakukan dengan menjaga kadar gula darah dan insulin agar berada pada batas normal. Terjadinya infeksi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ketoasidosis diabetik (DKA). Oleh karena itu, dokter mungkin akan memberikan obat antibiotik untuk meredakan infeksi.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Untuk menentukan metode pengobatan yang tepat bagi penderita diabetik ketoasidosis, dibutuhkan serangkaian tes pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, tes urine, rontgen dada, serta pemeriksaan EKG.

Secara umum, pasien ketoasidosis diabetik mungkin akan menjalani beberapa metode pengobatan berikut:

  • Pemberian terapi cairan melalui infus untuk mengatasi dehidrasi 
  • Pemberian insulin melalui infus untuk menurunkan kadar gula darah
  • Pemberian cairan elektrolit (kalium, natrium, dan klorida) untuk menyeimbangkan kadar elektrolit tubuh

Demi mencegah komplikasi ketoasidosis diabetik, wajib dilakukan pemeriksaan kadar gula darah, penggunaan obat diabetes, dan suntik insulin. Menjaga kadar gula darah dan mencegah infeksi merupakan kunci untuk menurunkan risiko ketoasidosis diabetik serta komplikasi lain termasuk penyakit jantung, gangguan fungsi ginjal, dan stroke.

Baca juga: Pengaruh Diabetes pada Kesehatan Bagian Tubuh Lainnya

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app