GRACIA BELINDA
Ditulis oleh
GRACIA BELINDA
DR. KARTIKA MAYASARI
Ditinjau oleh
DR. KARTIKA MAYASARI

Manfaat Apixaban sebagai Obat Pengencer Darah Antikoagulan

Dipublish tanggal: Sep 24, 2020 Update terakhir: Okt 18, 2021 Waktu baca: 3 menit
Manfaat Apixaban sebagai Obat Pengencer Darah Antikoagulan

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Untuk mencegah dan mengurangi risiko penyumbatan darah diperlukan obat pengencer darah atau obat antikoagulan, salah satunya apixaban;
  • Obat apixaban umumnya dijual di pasaran dengan nama Eliquis (harus dengan resep dokter). Tersedia dalam kemasan tablet salut selaput 2,5 mg dan 5 mg;
  • Apixaban bisa digunakan untuk mencegah terjadinya risiko stroke pada pasien gangguan irama jantung fibrilasi atrium untuk mencegah risiko stroke;
  • Apixaban juga bisa dikonsumsi setelah operasi ortopedi ataupun mengobati penyumbatan darah pada penderita deep vein thrombosis dan emboli paru;
  • Klik untuk mendapatkan obat jantung ke rumah Anda secara online melalui HDMall. Gratis ongkir ke seluruh Indonesia dan bisa COD;
  • Temukan dan booking paket pemeriksaan jantung dan pemeriksaan kesehatan lainnya di HDMall. Dapatkan promo menarik!

Pernah dengar apixaban? Well, obat yang dijual di pasaran dengan nama Eliquis ini merupakan salah satu obat antikoagulan atau pengencer darah

Apixaban bekerja dengan cara memblokir protein pembekuan tertentu dalam darah. Obat ini umumnya tersedia dalam kemasan tablet salut selaput 2,5 mg dan 5 mg yang harus dikonsumsi di bawah pengawasan ketat dokter. Untuk mengetahui manfaat apixaban, simak ulasan berikut, ya.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat Langung Dikirim!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Default internal ads sept20

Baca juga: Memahami Cara Kerja Obat Pengencer Darah

Manfaat utama apixaban 

Gangguan irama jantung fibrilasi atrium

Sebagai obat antikoagulan, apixaban bekerja dengan menghambat terjadinya pembekuan darah. 

Apixaban biasanya digunakan untuk mengurangi risiko terjadinya stroke akibat gumpalan darah atau pembekuan darah yang menyumbat pembuluh darah pada penderita aritmia jantung (gangguan detak jantung tidak beraturan).

Obat apixaban juga bisa dipakai untuk mengurangi risiko serupa khususnya pada pasien gangguan irama jantung fibrilasi atrium. Penderita aritmia jenis fibrilasi atrium atau atrial fibrilasi memiliki denyut jantung tidak beraturan dan cepat yang juga dapat menyebabkan sesak napas. 

Umumnya, detak jantung normal berada di kisaran 60-100 kali per menit. Pada penderita fibrilasi atrium, irama jantung bisa melebihi 100 kali per menit dengan denyut tidak teratur karena kekurangan aliran darah ke jantung dan otak. Itulah sebabnya, dalam kondisi demikian darah mesti diencerkan sesegera mungkin. 

Pada penderita fibrilasi atrium atau gangguan irama jantung yang terlalu cepat dan tidak teratur, dokter mungkin akan memberikan obat pengencer darah seperti apixaban yang harus dikonsumsi secara rutin terus-menerus.

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Baca juga: Mari Kenali Fakta dan Fungsi Jantung dalam Tubuh Kita

Operasi penggantian pinggul atau lutut

Tak hanya digunakan pada pasien aritmia jantung saja, apixaban juga bermanfaat untuk menurunkan risiko terjadinya pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah, terutama pada kaki (deep vein thrombosis) dan paru-paru (pulmonary embolism) setelah operasi penggantian pinggul atau lutut.

Risiko penggumpalan darah setelah operasi bedah ortopedi cukup tinggi. Sebagai antisipasi, dokter bisa saja memberikan obat antikoagulan apixaban pada pasien setelah operasi penggantian pinggul atau lutut. Tujuannya, ya, meminimalkan risiko penggumpalan darah pada pembuluh darah vena maupun pada paru-paru (emboli paru).

Baca juga: Fungsi Pembuluh Darah Arteri dan Vena

Deep vein thrombosis dan emboli paru 

Apixaban sebagai obat pengencer darah juga bisa digunakan untuk mengatasi penyumbatan aliran darah pada pembuluh darah vena (deep vein thrombosis) dan paru-paru (emboli paru).

Penderita deep vein thrombosis (DVT) memiliki risiko mengalami emboli paru. Penyumbatan pembuluh darah di paru-paru tersebut merupakan efek gumpalan darah di kaki. Kondisi demikian bisa menghambat peredaran darah dari jantung ke paru-paru dan menimbulkan komplikasi serius, termasuk gagal jantung dan tromboemboli vena (Venous thromboembolism/VTE).

Iklan dari HonestDocs
Beli Simvastatin via HonestDocs!

Gratis Ongkir Seluruh Indonesia ✔️ Bisa COD ✔️ GRATIS Konsultasi Apoteker ✔️

Baca juga: Kenali Emboli Paru dari Penyebab, Gejala, dan Pengobatan 

Dosis pemakaian apixaban 

Apixaban sebagai obat pengencer darah (antikoagulan) benar-benar mesti digunakan sesuai dengan indikasi dan resep dokter. Berikut ini adalah dosis umum penggunaan apixaban untuk mencegah penyumbatan darah pada kondisi tertentu:

  • Mencegah terjadinya risiko stroke pada pasien gangguan irama jantung fibrilasi atrium: 
    • Tablet salut selaput Apixaban 5 mg, 2 kali sehari;
    • Bagi pasien lansia > 80 tahun dan berat badan < 60 kg, dosisnya 2,5 mg 2 kali sehari.
  • Mencegah penyumbatan pada pembuluh darah vena setelah operasi penggantian pinggul atau lutut: 
    • Tablet salut selaput Apixaban 2,5 mg, 2 kali sehari; 
    • Diminum pada saat 12-24 jam setelah operasi.
  • Mengobati penyumbatan darah pada pembuluh darah vena dan paru-paru:
    • Tablet salut selaput Apixaban 10 mg, 2 kali sehari selama 7 hari;
    • Dosis bisa diturunkan menjadi 5 mg, 2 kali sehari selama 6 bulan.

Hindari penggunaan apixaban dengan dosis yang lebih sedikit atau lebih banyak karena dapat menimbulkan risiko efek samping. Penghentian konsumsi obat ini sebaiknya dilakukan secara bertahap karena enghentian secara mendadak justru bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah dan gejala stroke.

Sebelum menggunakan obat apa pun, termasuk apixaban, berkonsultasilah pada dokter. Perlu diperhatikan pula, manfaat yang diperoleh harus lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi.

Baca juga: Hati-hati, Gangguan Irama Jantung Berpotensi Menyebabkan Stroke

4 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Tanya Dokter

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.

Periksa ke rumah sakit atau klinik untuk informasi lebih lanjut.

Submit
Buka di app