Lupus: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Update terakhir: Apr 17, 2019 Waktu baca: 4 menit
Telah dibaca 610.760 orang

Apakah Anda memiliki kerabat atau teman yang tidak bisa terkena sinar matahari langsung, tubuhnya selalu terlihat lemah dan pucat, atau ada bercak merah di wajahnya yang menyerupai motif kupu-kupu. 

Jika jawabannya iya, kemungkinan teman atau kerabat Anda menderita suatu penyakit yang disebut dengan Sistemik Lupus Erythematosus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lupus atau SLE.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Dengan OVO!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Medicine delivery 01

Penyakit ini adalah suatu penyakit autoimun, yang artinya sistem kekebalan tubuh seseorang berfungsi secara berlebihan sehingga menyebabkan masalah yang sama seriusnya dengan tidak mempunya kekebalan tubuh sama sekali.

Pada keadaan normal, sistem kekebalan tubuh atau sistem imun berfungsi menyerang patogen-patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada tubuh manusia

Pada orang dengan gangguan autoimun, sistem kekebalan tubuh tidak hanya menyerang patogen penyebab penyakit, namun juga menyerang sel tubuh yang sehat, sehingga jika hal ini berlangsung lama, akan menyebabkan suatu masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.

Penyebab Lupus 

Lupus bisa terjadi kemungkinan karena disebabkan oleh kombinasi genetika dan lingkungan. Karena telah diketahui bahwa orang-orang dengan kecenderungan lupus (diwariskan) dapat mengembangkan penyakit lupus ini ketika mereka kontak dengan sesuatu dalam lingkungan yang dapat memicu gejala penyakit lupus. 

Selain itu, faktor hormon juga diyakini sebagai penyebab penyakit lupus. Estrogen diketahui sebagai hormon yang memperkuat sistem kekebalan tubuh yang artinya wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dibanding dengan pria. Untuk alasan ini, wanita lebih mudah terserang penyakit autoimun bila dibandingkan dengan pria. 

Walau demikian, secara pasti Penyebab penyakit lupus belum diketahui.

Iklan dari HonestDocs
Beli Obat via HonestDocs Kini Bisa Bayar di Alfamart!

PROMO! Gratis biaya antar obat ke seluruh Indonesia (minimum transaksi Rp100.000)

Screen shot 2019 05 14 at 13.32.01

Bagaimana mengetahui jika seseorang menderita Lupus?

Jika hanya dilihat dari gejala dan tanda-tanda fisiknya, tanpa adanya ruam berbentuk kupu-kupu pada wajah,Lupus sulit dibedakan dengan penyakit lain, Sebagai contoh jika reaksi autoimun yang terjadi pada daerah persendian, maka yang terjadi adalah sakit pada persendian yang mirip dengan gejala rematik.

Namun dengan menggali informasi seperti riwayat keluarga lain yang menderita penyakit yang serupa dan keluhan yang berlangsung lama tanpa adanya alasan yang jelas, kita dapat mencoba melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakan diagnosa Lupus.

Jika dilihat dari gejalanya, jika ada 4 dari 11 gejala seperti di bawah ini, sebagaimana didefinisikan oleh American College of Rheumatology. Dugaan seseorang menderita Lupus dapat menjadi lebih kuat.

  • Demam, kelelahan, dan penurunan berat badan
  • Arthritis berlangsung selama beberapa minggu di beberapa sendi
  • Ruam berbentuk kupu-kupu atas pipi atau ruam lainnya
  • Ruam kulit muncul di daerah yang terkena sinar matahari
  • Luka di mulut atau hidung yang berlangsung selama lebih dari sebulan
  • Kehilangan rambut, kadang-kadang di tempat atau di sekitar garis rambut
  • Kejang, stroke, dan gangguan mental (depresi)
  • Pembekuan darah
  • Keguguran
  • Darah atau protein dalam urin atau tes yang menunjukkan fungsi ginjal yang buruk
  • Jumlah darah rendah (anemia, sel darah putih yang rendah, atau trombosit rendah)

Selain dilihat dari riwayat kesehatan dan gejala yang ditimbulkan, Tes laboratorium berupa  tes antibodi (ANA) Antinuclear dapat  digunakan untuk menegakan diagnosa. Antibodi adalah sesuatu yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi.

ANA dilakukan dengan cara mengukur kekuatan antibodi Anda. Kebanyakan orang dengan Lupus akan menunjukan hasil yang positif. Namun, masalah kesehatan lainnya, seperti malaria, juga dapat menunjukan hasil tes positif. 

Itu sebabnya tes ini tidak bisa digunakan sendirian dan harus disertai dengan penemuan tanda dan gejala serta riwayat kesehatan seseorang.

Diagnosis Lupus

Untuk menegakan diagnosis, dokter akan mengamati gejala-gejala penderita dan menanyakan riwayat kesehatan medis penderita. Selain itu, serangkaian tes penunjang juga perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis, termasuk:

Pemeriksaan Laboratorium

  • Tes darah lengkap
  • Tes ANA (antinuclear antibody) - Bertujuan untuk mendeteksi keberadaan sel antibodi tertentu dalam darah.
  • Analisis urine - Bertujuan untuk mendeteksi apabila Adanya kenaikan kandungan protein dan sel darah merah.
  • Tes imunologi - Termasuk anti-dsDNA antibody, anti-Sm antibody, antiphospholipid antibody, syphilis, lupus anticoagulant, dan Coombs’ test.
  • Pemeriksaan komplemen C3 dan C4

Pemindaian

  • Rontgen
  • Ekokardiogram 

Apa yang dapat dilakukan jika terdiagnosa Lupus?

Pengobatan Penyakit Lupus Pengobatan Penyakit lupus tergantung pada tanda-tanda dan gejala yang muncul saja, karena biasanya tidak semua gejala muncul pada seseorang. 

Karena lupus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, maka gejala dan tanda yang muncul pun tidak harus semua diobati karena harus dipertimbangkan dengan cermat mengenai manfaat dan risiko pengobatan (efek samping obat).

Karena penyakit ini disebabkan oleh adanya sistem kekebalan tubuh yang bekerja berlebihan, maka untuk mengatasi penyakit ini digunakan terapi untuk melemahkan sistem kekebalan tubuh

Hal ini sangat berbahaya, mengingat jika sistem kekebalan tubuh melemah, maka tubuh akan mudah terinfeksi baik oleh bakteri, virus maupun jamur. Secara umum, obat-obatan yang digunakan ada 2 yaitu:

  1. Obat golongan Kortikosteroid
    Prednison dan jenis kortikosteroid lain digunakan sebagai obat lupus karena dapat melawan peradangan, tetapi sering menghasilkan efek samping jangka panjang – diantaranya kelebihan berat badan, mudah memar, pengeroposan tulang (osteoporosis), tekanan darah tinggi, diabetes dan meningkatkan risiko infeksi. Risiko efek samping meningkat seiring dengan besarnya dosis dan terapi jangka panjang.

    Untuk menghindari efek samping digunakan golongan kortikosteroid yang efek mineralokortikoidnya rendah, yang aman adalah golongan metyl prednisolon atau prednisone. Semua pasien yang mendapatkan kortikosteroid jangka panjang dianjurkan oleh WHO untuk mengonsumsi kalsium dan vitamin D untuk mencegah osteoporosis.
  2. Obat Penekan kekebalan tubuh.
    Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh dapat membantu dalam kasus-kasus lupus yang berat. Contohnya siklofosfamid, azathioprine, mycophenolate, leflunomide  dan methotrexate. Potensi efek samping dari obat lupus ini antara lain: peningkatan risiko infeksi, kerusakan hati, penurunan kesuburan dan peningkatan risiko kanker. Sebuah obat baru, belimumab (Benlysta) juga mengurangi gejala lupus pada beberapa orang. Efek sampingnya berupa mual, diare dan demam.

Dalam kasus yang parah, kerusakan organ dapat terjadi. Lebih dari 90% orang dengan lupus adalah wanita antara usia 15 dan 45 tahun. Secara historis, lupus menyebabkan orang meninggal muda, terutama karena gagal ginjal

Saat ini, dengan perkembangan ilmu kedokteran yang semakin maju dan berkembang, 80% hingga 90% orang-orang dengan lupus memiliki kesempatan untuk menjalani hidup dengan normal.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Pertanyaan dan jawaban lain tentang kondisi ini

Punya pertanyaan? Tanyakan kepada dokter di bawah ini

Kami tidak akan mengungkapkan nama dan informasi Anda


Lampirkan file (foto atau video)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
Seperti riwayat pengobatan atau foto gejala (jika ada)
* Jangan khawatir! Kami menjaga kerahasiaan file Anda. Hanya Anda dan dokter yang dapat melihat file tersebut.
Submit