Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Cacar Monyet (Monkeypox)

Dipublish tanggal: Mei 13, 2019 Update terakhir: Mei 20, 2022 Waktu baca: 3 menit
Kenali Gejala dan Cara Pencegahan Cacar Monyet (Monkeypox)

Cacar monyet atau monkeypox merupakan penyakit langka yang sebenarnya jarang terjadi, tetapi umumnya terjadi di wilayah Afrika. Virus berbahaya ini biasanya berasal dari hewan yang ditularkan ke manusia melalui kontak darah atau cairan tubuh, serta gigitan hewan yang telah terkontaminasi, biasanya berasal dari hewan seperti hewan primata dan hewan pengerat.

Beberapa hari ini, penyakit cacar monyet (monkeypox) kembali menjadi pembicaraan. Hal ini diakibatkan munculnya kasus cacar monyet (monkeypox) yang ditemukan di Singapura, setelah seorang warga Nigeria diberitakan mengidap cacar monyet akibat mengonsumsi daging satwa liar pada sebuah resepsi pernikahan di Nigeria sebelum bertolak ke Singapura akhir April lalu. Seperti yang diketahui, daging satwa liar dapat menjadi salah satu sumber penularan virus cacar monyet, terutama jika tidak dimasak dengan benar.

Kejadian ini membuat pemerintah Singapura dan Indonesia sama-sama mengeluarkan imbauan bagi masyarakat, khususnya masyarakat di wilayah Batam untuk mewaspadai kemungkinan menyebarnya penyakit cacar monyet ini. Selain itu, masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan situasi dan berita mengenai virus cacar monyet ini hingga dinyatakan aman.

Ada yang mengatakan kasus cacar monyet (monkeypox) pertama kali ditemukan pada tahun 1958, ada pula yang mengatakan pertama kali terjadi di Kongo pada tahun 1970. Lalu, kasus cacar monyet lainnya terjadi kembali tahun 2018 lalu di Inggris. Penyakit cacar monyet (monkeypox) ini termasuk dalam penyakit Zoonosis yang merupakan penyakit menular akibat virus monkeypox (MPXV). 

Cacar monyet atau monkeypox sendiri masih termasuk kategori keluarga orthopoxvirus dan penyakit monkeypox tidak ada hubungannya dengan impetigo bulosa, bahkan penyebab dan gejalanya juga berbeda. Jika cacar monyet disebabkan oleh virus monkeypox, sedangkan impetigo bulosa disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus yang memicu rasa gatal pada kulit. Sementara itu, virus cacar monyet ini umumnya mirip dengan cacar air pada manusia dan walaupun jarang terjadi, tetapi cacar monyet dikhawatirkan dapat ditularkan antar manusia.

Bagaimana cara mencegah cacar monyet (monkeypox)?

Karena merebaknya berita mengenai cacar monyet atau monkeypox yang terjadi di Singapura, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI telah mengeluarkan imbauan kepada WNI yang berada di Singapura maupun yang sedang berpergian ke negara-negara Afrika, terutama wilayah Afrika Tengah dan Barat, di antaranya:

  • Menjaga pola hidup yang bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun
  • Menghindari kontak kulit secara langsung dengan orang atau hewan yang telah terinfeksi
  • Menggunakan sarung tangan dan pelindung lainnya ketika harus berinteraksi dengan hewan atau orang yang terkontaminasi
  • Tidak mengonsumsi daging satwa liar seperti monyet, buaya, kadal, ataupun ular dan olah makanan dengan benar dan matang
  • Melakukan vaksinasi cacar

Hingga saat ini belum ditemukan obat cacar monyet, tetapi penyakit cacar monyet dapat dicegah dengan menggunakan vaksin cacar, begitu pun dengan cara pengobatannya yang dapat membantu mengurangi keparahan gejala.

Dalam kasus cacar monyet yang parah dapat menyebabkan komplikasi penyakit seperti pneumonia, radang otak, dan infeksi mata, sehingga untuk memastikan diagnosa yang tepat terkait penyakit cacar monyet ini diperlukan tes laboratorium khusus, termasuk tes darah ataupun serum dan cara mencegah penyebarannya semakin meluas, maka penderita cacar monyet akan dikarantina dan dipantau.

Apa gejala penyakit cacar monyet (monkeypox)?

Ciri-ciri atau gejala cacar monyet (monkeypox) yang harus diperhatikan antara lain demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot, serta ruam pada kulit. Gejala cacar monyet biasanya berlangsung selama 2-4 minggu yang diawali dengan demam dan sakit kepala, lalu timbul benjolan kecil yang menyebar ke seluruh tubuh.

Jika Anda mengalami gejala cacar monyet seperti di atas terutama setelah Anda melakukan kunjungan ke negara di Afrika Tengah dan Barat seperti Kongo, Nigeria, Pantai Gading, Sudan dan sekitarnya, maka Anda perlu memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah ada kaitannya dengan cacar monyet (monkeypox) atau tidak.

Baca selengkapnya: Cacar Monyet - Tanda, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati


16 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
Swami, Aravinda. (2018). A BRIEF REVIEW ON MONKEY POX ILLNESS.. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/328065696_A_BRIEF_REVIEW_ON_MONKEY_POX_ILLNESS)
K v, Ramana & Pal, Mahendra & Mengstie, Fisseha. (2017). Epidemiology, Diagnosis, and Control of Monkeypox Disease: A comprehensive Review. American journal of infectious diseases and Microbiology. 5. 94-99. 10.12691/ajidm-5-2-4.. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/317102568_Epidemiology_Diagnosis_and_Control_of_Monkeypox_Disease_A_comprehensive_Review)
McCollum, Andrea & Damon, Inger. (2013). Human Monkeypox. Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America. 58. 10.1093/cid/cit703.. ResearchGate. (https://www.researchgate.net/publication/258043776_Human_Monkeypox)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app